Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Panas Bumi Galunggung Didorong, Bagaimana Kesiapan Wisatanya?

Panas Bumi Galunggung Didorong, Bagaimana Kesiapan Wisatanya?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
  • visibility 96
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Panas bumi Galunggung kembali masuk dalam agenda pengembangan ekonomi Kabupaten Tasikmalaya. Pemerintah daerah mendorong Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Galunggung sebagai peluang investasi dengan estimasi potensi 220 MW dan target investasi Rp4,4 triliun. Pada saat yang sama, kawasan Galunggung juga memiliki potensi wisata yang membutuhkan dukungan amenitas dan aktivitas ekonomi lokal.

Kontras tersebut menarik diperhatikan.

Sebab, pengembangan Galunggung kini tidak hanya berbicara tentang energi. Pemerintah daerah juga menempatkan diversifikasi ekonomi, peningkatan produktivitas, penciptaan nilai tambah, investasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif dalam satu rangkaian agenda pembangunan.

Namun, seberapa siap ekosistem wisata Galunggung menangkap peluang ekonomi yang lebih besar?

Data Podes memberikan salah satu gambaran. Dalam data tersebut tercatat lima penginapan dan tidak ada hotel pada wilayah yang menjadi cakupan pendataan.

Angka itu tidak cukup untuk menyimpulkan wisata Galunggung gagal berkembang. Akan tetapi, data tersebut menunjukkan bahwa akomodasi menjadi salah satu aspek yang patut diperhatikan ketika kawasan Galunggung ingin dikembangkan dengan aktivitas ekonomi yang semakin luas.

Panas Bumi Galunggung Masuk Agenda Investasi

Dikutip dari Pemda Tasikmalaya, Bupati Tasikmalaya Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.AP., menghadiri Sosialisasi Pengembangan dan Penawaran Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Galunggung di Hotel Alhambra, Jumat (2/10/2026).

Dalam kegiatan itu, Pemkab Tasikmalaya menyampaikan pengembangan potensi panas bumi Galunggung sebagai salah satu peluang investasi dan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Bupati Cecep menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi, peningkatan produktivitas, penciptaan nilai tambah, serta investasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Peluang investasi yang disebut pemerintah daerah tidak hanya berada pada sektor energi.

Agroindustri dan hilirisasi pertanian, industri pengolahan dan UMKM, pariwisata dan ekonomi kreatif, kelautan dan perikanan, serta energi baru dan terbarukan juga masuk dalam daftar peluang yang dikembangkan.

Dengan demikian, pengembangan WKP Gunung Galunggung diarahkan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi daerah.

Pemerintah berharap pengembangan panas bumi dapat menghasilkan energi bersih, membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Lima Penginapan dan Tidak Ada Hotel

Di sisi lain, Galunggung memiliki cerita ekonomi yang berbeda melalui sektor wisata.

Data Podes yang menjadi dasar informasi ini mencatat lima penginapan dan tidak mencatat hotel pada wilayah pendataan tersebut.

Data itu perlu dibaca secara proporsional.

Lima penginapan tidak berarti seluruh fasilitas wisata Galunggung hanya berjumlah lima unit. Begitu pula, ketiadaan hotel dalam data tersebut tidak otomatis berarti wisatawan tidak memiliki pilihan akomodasi lain.

Namun, angka itu tetap relevan sebagai indikator mengenai ketersediaan akomodasi yang tercatat dalam pendataan.

Terlebih, ketika pemerintah ingin mengembangkan kawasan dengan potensi ekonomi yang lebih besar, kebutuhan terhadap fasilitas pendukung juga ikut muncul.

Wisatawan tidak hanya membutuhkan objek wisata.

Mereka membutuhkan tempat menginap, kuliner, transportasi, layanan wisata, pusat oleh-oleh, serta ruang bagi pelaku usaha lokal.

Karena itu, pertanyaan mengenai akomodasi bukan sekadar persoalan jumlah hotel.

Pertanyaan yang lebih luas adalah apakah pertumbuhan investasi dan aktivitas di Galunggung nantinya dapat menciptakan rantai ekonomi lokal yang lebih panjang.

Investasi Energi dan Pariwisata Bisa Bertemu

Panas bumi dan pariwisata berada pada sektor yang berbeda. Namun, keduanya dapat bertemu melalui aktivitas ekonomi masyarakat.

Jika pengembangan panas bumi berlangsung, kebutuhan terhadap tenaga kerja, jasa, transportasi, logistik, konsumsi, dan berbagai layanan pendukung berpotensi ikut muncul.

Sementara itu, kawasan wisata membutuhkan ekosistem usaha yang dapat menangkap belanja pengunjung.

Di sinilah UMKM, kuliner, akomodasi, transportasi, ekonomi kreatif, dan usaha masyarakat sekitar memiliki ruang untuk berkembang.

Tetapi potensi tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena investasi masuk.

Diperlukan kebijakan, perencanaan, kesiapan pelaku usaha, akses pasar, keterampilan tenaga kerja, serta konektivitas antarsektor.

Karena itu, pengembangan Galunggung membutuhkan pembicaraan yang lebih luas daripada sekadar berapa besar potensi energi yang tersedia.

Pertanyaan Berikutnya: Siapa yang Menikmati Nilai Tambah?

Pemerintah daerah menyampaikan target yang cukup jelas: investasi panas bumi diharapkan membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan tetap menjaga lingkungan.

Target tersebut kemudian menimbulkan sejumlah pertanyaan yang penting dijawab dalam tahap berikutnya.

Berapa banyak tenaga kerja lokal yang dapat terserap?

Seberapa besar UMKM di sekitar Galunggung dapat masuk dalam rantai pasok?

Apakah usaha akomodasi dan kuliner lokal siap menangkap peningkatan aktivitas?

Bagaimana pemerintah memastikan manfaat ekonomi tidak hanya berhenti pada kegiatan proyek?

Dan bagaimana pengembangan energi berjalan berdampingan dengan kepentingan pariwisata serta kelestarian lingkungan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan kesimpulan bahwa pengembangan Galunggung bermasalah.

Sebaliknya, pertanyaan itu menjadi bagian penting dari proses mengukur apakah sebuah investasi benar-benar menciptakan nilai tambah bagi daerah.

Galunggung Punya Modal, Tinggal Membuktikan Ekosistemnya

Galunggung memiliki beberapa modal sekaligus.

Ada potensi panas bumi.

Ada daya tarik wisata.

Ada masyarakat yang menjalankan kegiatan ekonomi.

Ada peluang UMKM dan ekonomi kreatif.

Sekarang tantangannya adalah menghubungkan berbagai potensi tersebut.

Data Podes mengenai lima penginapan dan tidak adanya hotel dalam cakupan pendataan tidak boleh dibaca sebagai vonis terhadap perkembangan wisata Galunggung.

Namun, angka itu dapat menjadi pengingat bahwa pembangunan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam atau nilai investasi.

Amenitas, akses, usaha masyarakat, tenaga kerja, lingkungan, dan rantai pasok juga perlu masuk dalam perhitungan.

Dengan begitu, ketika investasi panas bumi Galunggung berkembang, manfaatnya tidak berhenti pada produksi energi.

Ada peluang bagi ekonomi lokal untuk ikut tumbuh.

Galunggung tidak kekurangan potensi. Tantangannya adalah mengubah potensi tersebut menjadi ekosistem ekonomi yang saling terhubung. Jika panas bumi menjadi pintu masuk investasi baru, maka pekerjaan berikutnya bukan hanya membangun proyeknya, tetapi memastikan UMKM, pariwisata, tenaga kerja, akomodasi, dan masyarakat sekitar memiliki ruang nyata untuk ikut tumbuh. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less