FOMO dalam Islam: Ketika Takut Ketinggalan Mengalahkan Rasa Syukur
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
- visibility 76
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang melihat media sosial dan merasa takut ketinggalan kehidupan orang lain.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com — HIKMAH. FOMO dalam Islam menarik dibahas bukan karena Al-Qur’an mengenal istilah fear of missing out, melainkan karena fenomena takut ketinggalan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita takut tertinggal tren, takut tidak ikut pengalaman teman, bahkan takut terlihat biasa ketika orang lain tampak terus melaju. Akhirnya, rasa takut ketinggalan itu dapat berubah menjadi kegelisahan, sementara rasa syukur perlahan kehilangan tempat.
Lucunya, kita sering membuka media sosial untuk mencari hiburan. Namun, beberapa menit kemudian kita justru sibuk menghitung apa yang belum kita punya.
Teman membeli kendaraan.
Orang lain berlibur.
Seseorang membuka bisnis.
Yang lain menunjukkan pencapaian.
Lalu kita melihat layar sambil bertanya dalam hati, “Kok hidup saya begini-begini saja?”
Padahal, lima menit sebelumnya kita masih merasa baik-baik saja.
FOMO Bukan Sekadar Takut Ketinggalan Tren
FOMO atau fear of missing out secara sederhana berarti rasa takut tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau kehidupan yang sedang dijalani orang lain.
Dalam kehidupan digital, FOMO mudah tumbuh karena media sosial menghadirkan kehidupan orang lain tanpa jeda.
Dulu, kita mungkin hanya membandingkan diri dengan tetangga atau teman dekat. Sekarang, dalam satu layar, kita dapat melihat ratusan kehidupan sekaligus.
Ada yang baru membeli rumah.
Ada yang naik jabatan.
Ada yang pergi umrah.
Ada yang membuka usaha.
Ada yang menikah.
Ada pula yang tampaknya hidupnya selalu menyenangkan.
Masalahnya, kita melihat hasil akhir kehidupan orang lain, tetapi menjalani proses lengkap kehidupan sendiri.
Perbandingan seperti itu tentu tidak selalu adil.
Lebih ironis lagi, kita kemudian menjadikan kehidupan orang lain sebagai papan skor untuk mengukur diri sendiri.
Di titik inilah FOMO layak menjadi bahan muhasabah.
Ketika Hidup Orang Lain Menjadi Penggaris Kehidupan Kita
Kita sebenarnya boleh memiliki keinginan.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti bekerja, berhenti belajar, atau menolak kemajuan.
Namun, ada perbedaan antara ingin berkembang dan takut dianggap tertinggal.
Kalimat pertama melahirkan ikhtiar.
Kalimat kedua sering melahirkan kegelisahan.
Misalnya, seseorang membeli ponsel baru karena perangkat lamanya sudah tidak mendukung pekerjaannya. Itu kebutuhan yang masuk akal.
Namun, jika ponsel lama masih berfungsi baik lalu tiba-tiba terasa memalukan hanya karena melihat orang lain menggunakan model terbaru, persoalannya mulai berubah.
Begitu pula dengan pakaian, kendaraan, tempat wisata, rumah, hingga gaya hidup.
Kita terkadang tidak benar-benar menginginkannya.
Kita hanya tidak ingin merasa kalah.
FOMO membuat sesuatu yang sebelumnya tidak penting tiba-tiba terlihat mendesak.
Akibatnya, kita dapat menghabiskan tenaga mengejar sesuatu yang bahkan tidak pernah menjadi bagian dari tujuan hidup kita.
QS Al-Hadid: 20 dan Perlombaan yang Tidak Pernah Selesai
Al-Qur’an menggambarkan kehidupan dunia dalam QS Al-Hadid ayat 20 sebagai permainan, hiburan, perhiasan, saling berbangga, serta perlombaan dalam harta dan anak.
Ayat tersebut tentu tidak sedang membicarakan Instagram atau TikTok.
Namun, prinsip yang disampaikannya terasa sangat dekat dengan budaya digital hari ini.
Dunia memang mudah mengubah kehidupan menjadi perlombaan.
Dulu orang mungkin berlomba dalam sesuatu yang terlihat di lingkungan sekitar.
Sekarang perlombaan itu dapat berlangsung sepanjang hari melalui layar.
Siapa yang paling sukses?
Siapa yang paling kaya?
Siapa yang paling populer?
Siapa yang paling banyak bepergian?
Siapa yang paling cepat mencapai sesuatu?
Masalahnya, perlombaan semacam ini tidak memiliki garis finis.
Ketika satu target tercapai, muncul target baru.
Ketika seseorang membeli kendaraan, muncul kendaraan yang lebih mahal.
Ketika seseorang memiliki rumah, muncul rumah yang lebih besar.
Ketika jumlah pengikut meningkat, muncul angka berikutnya.
Kalau standar “cukup” terus dipindahkan, kapan hati akan berhenti berlari?
QS An-Nisa: 32 Mengingatkan Kita Agar Tidak Sibuk Menginginkan Milik Orang Lain
Persoalan membandingkan diri juga dapat dilihat melalui QS An-Nisa ayat 32.
Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak mengharapkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain. Sebaliknya, manusia diarahkan untuk memohon karunia Allah.
Pesannya penting untuk kehidupan digital.
Kita boleh melihat keberhasilan orang lain lalu menjadikannya inspirasi.
Kita boleh belajar dari orang yang lebih maju.
Kita boleh memiliki target yang lebih tinggi.
Namun, inspirasi berbeda dengan iri.
Target berbeda dengan obsesi.
Dan keinginan berkembang berbeda dengan ketidakmampuan menerima keadaan diri.
Ada kalanya kita berkata:
“Saya ingin berhasil seperti dia.”
Itu dapat menjadi motivasi.
Namun, ketika kalimatnya berubah menjadi:
“Saya merasa gagal karena hidup saya tidak seperti dia.”
maka kita perlu berhenti dan melakukan muhasabah.
Sebab yang berubah bukan kehidupan kita.
Yang berubah adalah cara kita memandang kehidupan orang lain.
Rasulullah ﷺ dan Pelajaran Tentang Rasa Cukup
Dalam Sahih Muslim 1054, Rasulullah ﷺ menjelaskan keberuntungan seseorang yang memeluk Islam, memperoleh kecukupan, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Hadis ini penting ketika kita berbicara tentang qanaah.
Qanaah bukan berarti berhenti berusaha.
Qanaah bukan pula alasan untuk menolak kemajuan.
Seseorang tetap boleh bekerja keras, membangun bisnis, mencari ilmu, memperbaiki kondisi ekonomi, dan mengejar cita-cita.
Akan tetapi, hati tidak menjadikan kepemilikan orang lain sebagai syarat untuk merasa cukup.
Inilah persoalan yang sering luput ketika FOMO mengambil alih.
Kita tidak hanya ingin memiliki sesuatu.
Kita ingin memiliki sesuatu karena orang lain memilikinya lebih dulu.
Kemudian setelah mendapatkannya, media sosial memperkenalkan benda, pengalaman, dan pencapaian baru.
Kita kembali mengejar.
Begitu seterusnya.
Bukan barang yang habis. Keinginan kita yang terus menemukan sasaran baru.
FOMO, Validasi, dan Riya: Tiga Masalah yang Bertemu di Layar
FOMO sebenarnya masih satu jalur dengan persoalan yang sudah dibahas dalam cluster Al-Hikam AlbadarPost.
Pada artikel Riya di Media Sosial: Ketika Kebaikan Mulai Membutuhkan Kamera, persoalannya adalah apa yang terjadi ketika amal mulai membutuhkan perhatian manusia.
Kemudian, pembahasan Membandingkan Diri di Media Sosial: Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang? membawa kita pada pertanyaan mengapa kehidupan orang lain dapat menjadi ukuran untuk menilai diri sendiri.
FOMO membawa persoalan itu satu langkah lebih jauh.
Kita bukan hanya ingin dilihat.
Kita bukan hanya ingin diakui.
Kita mulai takut tertinggal.
Akhirnya terbentuk sebuah lingkaran:
Riya: “Apakah orang lain melihat saya?”
Validasi sosial: “Apakah orang lain mengakui saya?”
Perbandingan sosial: “Mengapa hidup orang lain lebih baik?”
FOMO: “Mengapa saya belum memiliki apa yang mereka punya?”
Empat pertanyaan tersebut tampak berbeda.
Namun, semuanya dapat membawa kita kembali kepada satu persoalan:
ke mana hati kita mengarahkan perhatian?
QS Al-Hujurat: 13 dan Ukuran Kemuliaan yang Tidak Bisa Dihitung dengan Likes
Media sosial mengenalkan manusia pada berbagai angka.
Jumlah pengikut.
Jumlah komentar.
Jumlah tanda suka.
Jumlah penonton.
Angka-angka itu memang berguna untuk mengukur performa sebuah konten.
Namun, angka tersebut tidak otomatis mengukur kemuliaan seseorang.
QS Al-Hujurat ayat 13 menempatkan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan di sisi Allah.
Karena itu, popularitas digital tidak perlu menjadi ukuran nilai diri.
Seseorang dapat memiliki ribuan pengikut tetapi tetap perlu memperbaiki hati.
Sebaliknya, seseorang yang tidak dikenal banyak orang tetap memiliki nilai dan kehormatan sebagai manusia.
Algoritma mungkin menghitung jangkauan.
Allah mengetahui isi hati.
Keduanya tidak bisa disamakan.
Lima Pertanyaan Muhasabah Sebelum Mengikuti Tren
Sebelum membeli sesuatu, mengejar pengalaman tertentu, atau mengikuti tren karena melihat kehidupan orang lain, coba berhenti sebentar.
Pertama, apakah saya memang membutuhkan ini?
Jika tidak melihat unggahan orang lain, apakah keinginan itu tetap ada?
Kedua, apakah saya mengejar manfaat atau pengakuan?
Keduanya kadang terlihat serupa, padahal dorongannya berbeda.
Ketiga, apakah saya sedang membandingkan kehidupan nyata dengan potongan terbaik kehidupan orang lain?
Media sosial hampir selalu menampilkan momen yang dipilih.
Keempat, nikmat apa yang sedang saya abaikan?
Jangan sampai sibuk menghitung milik orang lain membuat kita lupa menghitung karunia sendiri.
Kelima, jika tidak ada seorang pun yang mengetahui pencapaian saya, apakah saya masih menginginkannya?
Pertanyaan terakhir mungkin terasa paling menusuk.
Namun, justru di situlah muhasabah bekerja.
Jangan Sampai Takut Tertinggal Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri
Kita tidak perlu memusuhi media sosial.
Teknologi dapat membantu manusia belajar, bekerja, berdagang, berdakwah, dan membangun jaringan.
Tren juga tidak selalu buruk.
Kemajuan pun bukan musuh.
Yang perlu diperiksa adalah ketika alat mulai menentukan apa yang harus kita inginkan.
Kita boleh punya target besar.
Kita boleh ingin hidup lebih baik.
Kita boleh mengejar kesuksesan.
Namun, jangan sampai keberhasilan orang lain membuat kita membenci kehidupan sendiri.
Setiap manusia memiliki jalan, amanah, kemampuan, kesempatan, dan waktu yang berbeda.
Karena itu, pertanyaan FOMO yang paling penting bukan:
“Apa yang sedang saya lewatkan?”
Melainkan:
“Apa yang sedang saya lewatkan karena terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain?”
Mungkin kita mengira FOMO hanya berarti takut ketinggalan tren.
Padahal, yang lebih berbahaya adalah ketika kita takut ketinggalan kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupan sendiri.
Kita mengejar rumah karena orang lain punya rumah.
Mengejar kendaraan karena orang lain mengganti kendaraan.
Mengejar popularitas karena orang lain mendapat perhatian.
Mengejar gaya hidup karena takut terlihat biasa.
Lalu setelah semuanya berhasil kita dapatkan, layar kembali menunjukkan sesuatu yang baru.
Ternyata yang kita kejar bukan garis finis. Kita hanya mengejar rasa cukup yang terus dipindahkan oleh pandangan kita sendiri.
Maka sebelum takut tertinggal dari dunia, pastikan satu hal:
Jangan sampai kita tertinggal dari hati sendiri. (Red)
- Penulis: redaktur






