Koperasi Merah Putih Banjar Mulai Dikoordinasikan, Apa Langkah Berikutnya?
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Gedung Koperasi Desa Merah Putih.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com | BERITA DAERAH — Koperasi Desa Merah Putih Banjar mulai masuk pembahasan teknis setelah Sekretaris Daerah Kota Banjar, Dr. H. Soni Harison, AP., S.Sos., M.Si., C.PHR., memimpin rapat koordinasi pelaksanaan program tersebut, Selasa (8/9/2026).
Rapat berlangsung di Ruang Rapat Gunung Sangkur. Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kota Banjar turut mendampingi kegiatan tersebut.
Selain itu, seluruh camat, lurah, dan kepala desa se-Kota Banjar hadir dalam forum koordinasi.
Komposisi peserta tersebut memperlihatkan bahwa pelaksanaan Koperasi Merah Putih membutuhkan koordinasi lintas wilayah. Pemerintah kota tidak hanya berhadapan dengan persoalan administrasi, tetapi juga harus memastikan arah kebijakan dapat dipahami sampai tingkat desa dan kelurahan.
Namun, ada satu hal yang patut dicatat.
Dari informasi yang tersedia, belum terdapat rincian mengenai keputusan teknis, target waktu, model usaha, maupun langkah operasional masing-masing koperasi dalam rapat tersebut.
Karena itu, publik masih perlu menunggu tindak lanjut konkret dari koordinasi yang telah dilakukan.
Rakor Penting, Tetapi Bukan Ukuran Akhir
Rapat koordinasi memang diperlukan untuk menyamakan pemahaman dan langkah antarpemangku kepentingan. Apalagi, program yang menyentuh banyak wilayah membutuhkan komunikasi yang tidak terputus dari pemerintah kota hingga desa dan kelurahan.
Akan tetapi, rapat bukan ukuran akhir keberhasilan sebuah koperasi.
Setelah forum selesai, pekerjaan justru bergerak ke tahap yang lebih menentukan: bagaimana hasil koordinasi diterjemahkan dalam kegiatan nyata.
Di sinilah Koperasi Desa Merah Putih Banjar akan menghadapi tantangan sebenarnya.
Koperasi membutuhkan pengelolaan yang jelas, aktivitas usaha, anggota yang aktif, serta pasar yang dapat menopang keberlanjutan. Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak cukup dilihat dari terbentuknya struktur atau terselenggaranya pertemuan.
Masyarakat pada akhirnya akan melihat manfaat yang muncul di lapangan.
Apakah koperasi mampu menjalankan kegiatan ekonomi? Apakah anggota memperoleh manfaat? Apakah usaha koperasi dapat bertahan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi jauh lebih penting ketika program mulai berjalan.
Peran Desa dan Kelurahan Menjadi Kunci
Kehadiran seluruh camat, lurah, dan kepala desa dalam rakor memberikan konteks penting bagi pelaksanaan program di Kota Banjar.
Mereka berada lebih dekat dengan kondisi masyarakat. Karena itu, koordinasi di tingkat wilayah dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kebutuhan ekonomi setempat.
Namun, pelibatan banyak unsur juga membutuhkan pembagian peran yang jelas.
Jangan sampai koordinasi menghasilkan banyak dokumen, tetapi masyarakat kesulitan melihat perubahan di lapangan.
Sebaliknya, apabila setiap wilayah memahami tugasnya dan mampu menerjemahkan kebijakan menjadi kegiatan ekonomi yang terukur, Kopdes Merah Putih mempunyai ruang lebih besar untuk berkembang.
Pada titik itu, koperasi tidak lagi sekadar menjadi program pemerintah. Koperasi mulai berhadapan langsung dengan kebutuhan anggota, konsumen, pemasok, modal, dan pasar.
Setelah Rapat, Apa yang Ditunggu?
Bahan informasi mengenai rakor pada Selasa (8/9/2026) belum menjelaskan rincian keputusan atau target operasional yang dihasilkan. Karena itu, terlalu dini menyimpulkan keberhasilan ataupun kegagalan program.
Justru, tahap berikutnya layak mendapat perhatian lebih besar.
Publik dapat melihat bagaimana koordinasi tersebut diterjemahkan di tingkat desa dan kelurahan. Pemerintah juga mempunyai ruang untuk menjelaskan perkembangan program secara terbuka, termasuk langkah yang akan ditempuh setelah rakor.
Transparansi seperti itu penting.
Sebab, semakin besar ekspektasi terhadap sebuah program ekonomi masyarakat, semakin penting pula informasi mengenai pelaksanaannya. Masyarakat berhak mengetahui arah program tanpa harus menunggu munculnya persoalan terlebih dahulu.
Dengan demikian, rakor yang dipimpin Sekda Soni Harison dapat dipandang sebagai bagian dari proses awal koordinasi. Adapun hasil akhirnya masih bergantung pada langkah yang menyusul.
Jangan Berhenti pada Ruang Rapat
Koperasi Merah Putih Banjar memiliki pekerjaan besar setelah forum koordinasi berlangsung.
Pemerintah kota telah mempertemukan unsur pemerintahan dari berbagai tingkatan. Kini, tantangannya adalah memastikan koordinasi tersebut menghasilkan langkah yang jelas dan dapat dipantau.
Tidak perlu terburu-buru menyebut program berhasil. Namun, tidak pula tepat menganggapnya gagal ketika proses pelaksanaan masih berjalan.
Yang dibutuhkan adalah bukti perkembangan.
Ketika koperasi mulai menjalankan usaha, anggota memperoleh manfaat, dan kegiatan ekonominya mampu bertahan, barulah masyarakat dapat menilai dampaknya secara lebih objektif.
Pada akhirnya, keberhasilan koperasi tidak ditentukan oleh panjangnya daftar peserta rapat atau banyaknya agenda koordinasi.
Rapat boleh selesai. Notulensi boleh ditutup. Tetapi bagi masyarakat, pertanyaan terpenting baru dimulai: setelah semua orang kembali dari ruang rapat, kapan manfaat koperasi benar-benar sampai ke desa? (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar