Rajin Ibadah tapi Terjebak Ujub? Ini Pesan Ibnu Athaillah
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang merenungi pesan Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam tentang syukur dan keikhlasan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Selesai salat, hati semestinya lega. Setelah bersedekah, seorang Muslim semestinya bersyukur. Seusai membaca Al-Qur’an, yang patut tumbuh adalah rasa membutuhkan Allah. Namun, ujub dalam ibadah bisa muncul ketika rasa syukur perlahan bergeser menjadi kekaguman kepada diri sendiri. Dalam bahasa sederhana, seseorang bukan lagi sekadar bahagia karena mendapat kesempatan beramal, melainkan mulai merasa bahwa dirinya memang lebih baik karena amal tersebut.
Di situlah persoalan hati menjadi menarik.
Penyakit ini tidak selalu datang dengan wajah galak. Kadang ia muncul setelah sajadah dilipat, tasbih disimpan, atau sedekah diberikan.
Bahkan, ia bisa memakai kalimat yang terdengar religius.
“Alhamdulillah, saya masih rajin ibadah.”
Kalimat itu tentu tidak salah. Yang perlu diperiksa adalah apa yang terjadi setelahnya.
Apakah hati semakin bersyukur kepada Allah, atau mulai sibuk membandingkan diri dengan orang lain?
Ketika Amal Diam-Diam Berubah Menjadi Piala
Ibnu Athaillah as-Sakandari memberikan peringatan yang sangat menarik dalam Al-Hikam. Salah satu hikmahnya berbunyi:
“Janganlah ketaatan membuatmu gembira karena ia muncul darimu, tetapi bergembiralah karena ketaatan itu datang kepadamu dari Allah.”
Redaksi Arab yang tercantum dalam sejumlah naskah Al-Hikam berbunyi,
لَا تَفْرَحْكَ الطَّاعَةُ لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ، وَأَفْرَحْ بِهَا
لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ
” Hikmah tersebut kemudian mengaitkannya dengan firman Allah dalam QS Yunus ayat 58.
Pesannya bukan berarti seorang Muslim dilarang merasa bahagia setelah melakukan amal saleh.
Justru sebaliknya.
Yang perlu diperbaiki adalah sumber kebahagiaan itu.
Jika seseorang berkata, “Allah memberi saya kesempatan untuk beribadah,” maka pusat perhatiannya tertuju kepada karunia Allah.
Namun, jika kebahagiaan itu berubah menjadi, “Saya memang orang yang lebih rajin daripada mereka,” arah hati mulai bergeser.
Amalnya sama.
Tetapi cara memandang amalnya berbeda.
Di sinilah bahaya ujub perlu diwaspadai.
Syukur dan Ujub Bisa Terlihat Mirip dari Luar
Dua orang dapat sama-sama rajin beribadah. Keduanya mungkin datang ke masjid, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga salat.
Dari luar, tidak ada yang aneh.
Namun, isi hati manusia tidak selalu terlihat.
Orang pertama berkata dalam dirinya, “Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kekuatan.”
Orang kedua mulai berkata, “Mengapa orang lain tidak seperti saya?”
Perbedaan itu kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam arah batin.
Syukur membuat seseorang melihat karunia.
Ujub membuat seseorang terpaku pada dirinya.
Karena itu, ujub dalam ibadah tidak identik dengan sekadar merasa senang setelah melakukan kebaikan. Persoalannya muncul ketika seseorang mengagumi amalnya sendiri, merasa memiliki keunggulan karena amal tersebut, atau menggunakan ketaatan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Dengan begitu, masalahnya bukan pada rasa bahagia.
Masalahnya adalah ketika diri sendiri menjadi pusat kebahagiaan tersebut.
QS Yunus Ayat 58: Bergembira karena Karunia Allah
Al-Qur’an memberikan landasan yang sangat relevan untuk memahami persoalan ini.
Allah berfirman dalam QS Yunus ayat 58:
“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Ayat tersebut memang berbicara tentang karunia dan rahmat Allah. Dalam konteks pembahasan Ibnu Athaillah, ayat ini menjadi penguat bahwa kegembiraan seorang hamba semestinya tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi diarahkan kepada karunia Allah. (Quran.com)
Jadi, ada perbedaan antara:
“Saya senang karena Allah memberi saya kemampuan beribadah.”
dan:
“Saya senang karena saya ternyata lebih saleh daripada orang lain.”
Yang pertama mengandung syukur.
Yang kedua patut diperiksa agar tidak berkembang menjadi ujub atau sikap merasa diri lebih tinggi.
Ini pula yang membuat hikmah Ibnu Athaillah terasa relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Sebab manusia sering kali rajin menghitung amal, tetapi lupa menghitung rasa bangga yang mungkin mengikuti amal tersebut.
Lalu Bagaimana dengan QS Ash-Shaffat Ayat 96?
Ayat lain yang kerap dikaitkan dengan pembahasan ini adalah QS Ash-Shaffat ayat 96:
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.”
Ayat tersebut benar. Namun, secara editorial perlu diberi konteks.
QS Ash-Shaffat ayat 96 berada dalam rangkaian kisah Nabi Ibrahim ketika berhadapan dengan kaumnya dan berhala-berhala yang mereka sembah. Tafsir yang tersedia juga menjelaskan adanya pembahasan mengenai makna “apa yang kamu perbuat”, termasuk kaitannya dengan benda-benda yang mereka buat.
Karena itu, ayat ini tidak tepat jika langsung disebut sebagai dalil khusus tentang ujub.
Namun, ayat tersebut dapat menjadi bahan renungan tentang keterbatasan manusia dan ketergantungannya kepada Allah.
Pembedaan ini penting.
Dalil tidak boleh dipaksa mengikuti tema yang sedang kita tulis hanya karena bunyinya terasa cocok.
Justru di situlah kehati-hatian dalam tulisan keagamaan diperlukan.
Jangan Sampai Sajadah Menjadi Cermin untuk Mengagumi Diri
Ada ironi kecil dalam perjalanan spiritual manusia.
Seseorang takut amalnya tidak diterima, tetapi pada saat yang sama bisa lupa mengawasi rasa bangga setelah beramal.
Ia khawatir pahalanya berkurang, tetapi tidak sadar ketika mulai memandang rendah orang lain.
Ia sibuk memperbanyak ibadah, tetapi lupa bertanya apakah hatinya ikut menjadi lebih lembut.
Padahal, ikhlas dalam ibadah bukan sekadar persoalan seberapa banyak amal dilakukan. Cara seseorang memandang amal juga perlu diperhatikan.
Karena itu, setelah melakukan kebaikan, tidak ada salahnya berhenti sejenak untuk bermuhasabah.
Bukan untuk meragukan rahmat Allah.
Bukan pula untuk menganggap semua amal sia-sia.
Sebaliknya, muhasabah diperlukan agar rasa syukur tetap menjadi syukur dan tidak berubah menjadi kebanggaan terhadap diri sendiri.
Pertanyaannya sederhana:
“Setelah beribadah, apakah saya semakin dekat kepada Allah atau semakin sibuk merasa lebih baik daripada orang lain?”
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan suara keras.
Cukup hati sendiri yang menjawab.
Ibadah Bukan Alasan untuk Menaikkan Diri
Pesan Ibnu Athaillah sebenarnya sederhana, tetapi tidak ringan untuk dipraktikkan.
Ketaatan adalah karunia yang patut disyukuri.
Ketika seseorang bisa salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, berpuasa, atau melakukan amal baik, ia boleh merasa bahagia. Namun, kebahagiaan tersebut semestinya mengingatkan dirinya kepada Allah, bukan menjadikan dirinya sebagai tokoh utama dalam cerita kesalehan.
Sebab manusia tetap memiliki keterbatasan.
Hari ini kuat beribadah, besok belum tentu.
Hari ini mampu bersedekah, suatu saat mungkin kesulitan.
Hari ini rajin ke masjid, kehidupan dapat membawa seseorang ke dalam keadaan yang tidak pernah ia bayangkan.
Karena itu, tidak ada alasan untuk terlalu cepat membuat mahkota bagi diri sendiri.
Apalagi hanya karena beberapa amal yang terlihat.
Ujub dalam ibadah justru mengajarkan satu hal penting: semakin seseorang bersyukur atas ketaatan, semakin ia sadar bahwa kemampuan untuk taat bukan alasan untuk menyombongkan diri.
Amal boleh banyak.
Syukur harus lebih dalam.
Dan hati tetap perlu diawasi.
Sajadah adalah tempat dahi direndahkan, bukan tempat ego dinaikkan. Jika setelah beribadah kita justru merasa lebih tinggi dari orang lain, mungkin yang perlu diperiksa bukan panjangnya doa, melainkan tingginya hati. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar