Pramuka Kota Tasikmalaya Soroti Generasi Muda dan Pangan
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Tasikmalaya, selaku Ketua Majelis Pembimbing Cabang Gerakan Pramuka Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, Senin (24/8/26).(Foto: Pemkot Tasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
alabadrpost.com, BERITA DAERAH – Puncak Hari Pramuka ke-65 di Kota Tasikmalaya berlangsung Senin, 24 Agustus 2026, di Aula Bapelitbangda Kota Tasikmalaya. Pramuka Kota Tasikmalaya membawa semangat penguatan generasi muda, sementara tema swasembada pangan menjadi salah satu pesan utama yang diangkat dalam peringatan tahun ini.
Wali Kota Tasikmalaya, selaku Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Kota Tasikmalaya, hadir dalam kegiatan tersebut. Momentum itu sekaligus menjadi ruang untuk kembali menegaskan peran Gerakan Pramuka dalam pembentukan karakter generasi muda.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”
Tema tersebut menempatkan Gerakan Pramuka dalam konteks pembangunan yang lebih luas. Namun, pesan utamanya tetap berkaitan dengan bagaimana organisasi kepanduan membentuk anak muda yang tangguh, mandiri, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Hari Pramuka 2026 dan Tantangan Generasi Muda
Peringatan Hari Pramuka 2026 tidak hanya berbicara mengenai kegiatan kepanduan. Ada pesan yang lebih luas tentang kesiapan generasi muda menghadapi tantangan bangsa.
Nilai kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, serta gotong royong selama ini menjadi bagian dari pendidikan kepramukaan. Karena itu, momentum Hari Pramuka dapat menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter membutuhkan proses yang berkelanjutan.
Dalam konteks tema tahun ini, swasembada pangan menjadi salah satu agenda yang dikaitkan dengan kontribusi generasi muda.
Pramuka memang bukan lembaga yang secara khusus bertugas menjalankan kebijakan pangan. Namun, nilai yang dibangun melalui kegiatan kepanduan dapat menjadi modal sosial untuk menumbuhkan kepedulian terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Di sinilah relevansi tema Hari Pramuka ke-65 menjadi penting.
Generasi muda tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin pada masa depan. Mereka juga perlu memahami persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk kemandirian pangan, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial.
Penghargaan bagi Insan Pramuka
Rangkaian puncak peringatan Pramuka Tasikmalaya juga diisi dengan penganugerahan Tanda Penghargaan Gerakan Pramuka.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian insan Pramuka.
Bagi sebuah organisasi yang bertumpu pada kerja bersama dan pengabdian, penghargaan memiliki arti penting. Apresiasi tersebut dapat menjadi bentuk pengakuan terhadap mereka yang selama ini menjalankan kegiatan kepanduan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Namun, penghargaan juga membawa pesan lain.
Semangat pengabdian tidak seharusnya berhenti ketika sebuah acara selesai. Justru setelah peringatan berakhir, nilai kepemimpinan, gotong royong, dan kepedulian sosial perlu diteruskan melalui kegiatan yang nyata.
Dengan demikian, Hari Pramuka 2026 tidak berhenti sebagai agenda tahunan.
Swasembada Pangan Menjadi Pesan, Bukan Sekadar Slogan
Tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045” memberikan arah yang cukup jelas mengenai pesan yang ingin dibawa dalam peringatan tahun ini.
Meski demikian, tantangan di tingkat daerah tetap berada pada bagaimana tema tersebut diterjemahkan ke dalam kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Untuk Pramuka Kota Tasikmalaya, ruang kontribusinya dapat dilihat dari penguatan karakter dan kepedulian generasi muda. Nilai kemandirian, kerja sama, disiplin, serta tanggung jawab dapat menjadi dasar dalam membangun kesadaran terhadap persoalan pangan.
Karena itu, ukuran keberhasilan tema tersebut pada akhirnya bukan sekadar seberapa sering istilah swasembada pangan disebut dalam kegiatan.
Yang lebih penting adalah bagaimana semangat tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengalaman dan pembelajaran bagi anggota Pramuka.
Menjaga Relevansi Pramuka di Tengah Perubahan Zaman
Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Teknologi digital berkembang cepat, pola komunikasi berubah, sementara persoalan sosial semakin beragam.
Karena itu, Pramuka Tasikmalaya dituntut tetap relevan tanpa kehilangan nilai dasar kepanduan.
Kepemimpinan, kedisiplinan, kemandirian, dan gotong royong masih memiliki tempat penting. Hanya saja, cara menerapkannya perlu mengikuti kebutuhan zaman.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 dapat menjadi momentum untuk melihat kembali hal tersebut.
Apalagi, target Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang bukan hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan kemampuan berkontribusi di tengah masyarakat.
Dalam konteks itu, Gerakan Pramuka memiliki ruang untuk mengambil bagian melalui pendidikan karakter dan kegiatan sosial yang konsisten.
Bukan Sekadar Merayakan
Puncak Hari Pramuka ke-65 di Kota Tasikmalaya pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah peringatan organisasi.
Ada pesan tentang generasi muda, pengabdian, gotong royong, dan kemandirian. Ada pula tema swasembada pangan yang ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, setelah panggung peringatan selesai, pekerjaan sebenarnya justru dimulai.
Sebab, Pramuka tidak diukur dari seberapa meriah hari peringatannya, tetapi dari seberapa kuat karakter yang ditanamkan dan seberapa nyata manfaatnya dirasakan masyarakat. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar