Kebakaran Lahan Garut Melonjak 676 Persen
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
- visibility 56
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi kebakaran lahan di Garut. (Foto: Damkar Garut).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kebakaran Garut 2026 menunjukkan tren yang patut menjadi perhatian. Data kebakaran yang dirilis dari Pemerintah Kabupaten Garut (Pemkab Garut) melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan mencatat 338 kejadian hingga 16 Agustus 2026 pukul 24.00 WIB.
Dari jumlah tersebut, kebakaran lahan Garut menjadi sorotan utama. Sebab, berdasarkan data perbandingan yang dirilis Pemkab Garut, kasus kebakaran lahan pada 2026 telah mencapai 163 kejadian, jauh di atas total 21 kejadian sepanjang 2025.
Secara keseluruhan, data perbandingan menunjukkan 338 kejadian kebakaran pada 2026 hingga 16 Agustus. Angka itu terdiri atas 163 kejadian kebakaran lahan dan 175 kejadian nonlahan.
Sementara sepanjang 2025, tercatat 225 kejadian, dengan rincian 21 kebakaran lahan dan 204 kebakaran nonlahan.
Dengan demikian, jumlah keseluruhan kejadian pada 2026 sudah bertambah 113 kasus atau sekitar 50,2 persen dibanding total 2025. Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena data 2026 baru mencakup kejadian hingga 16 Agustus.
Kebakaran Lahan Melonjak dari 21 Menjadi 163 Kasus
Lonjakan paling mencolok terlihat pada kategori kebakaran lahan.
Data yang dirilis dari Pemkab Garut mencatat hanya 21 kejadian kebakaran lahan sepanjang 2025. Sementara hingga 16 Agustus 2026, jumlahnya sudah mencapai 163 kejadian.
Artinya, terdapat tambahan 142 kejadian dibandingkan total tahun sebelumnya. Secara persentase, jumlah kebakaran lahan 2026 tersebut setara sekitar 676,2 persen dari total kejadian sepanjang 2025.
Dengan kata lain, jumlahnya telah lebih dari tujuh kali lipat dibanding angka yang tercatat selama 2025.
Lonjakan tersebut terutama terjadi pada pertengahan tahun. Pada Juni 2026, tercatat 10 kebakaran lahan.
Memasuki Juli, jumlahnya melonjak tajam menjadi 81 kejadian.
Tren tinggi tersebut berlanjut pada Agustus. Hingga 16 Agustus, Pemkab Garut mencatat 66 kebakaran lahan.
Jika angka Juli dan Agustus hingga tanggal 16 digabungkan, terdapat 147 kejadian dalam periode tersebut. Data ini memperlihatkan betapa dominannya kebakaran lahan terhadap peningkatan kasus pada 2026.
Malangbong dan Pameungpeuk Masuk Wilayah dengan Kasus Tinggi
Selain peningkatan jumlah, data kebakaran Garut juga menunjukkan sejumlah wilayah dengan frekuensi kejadian relatif tinggi.
Malangbong berada di posisi teratas dengan 23 kejadian. Berikutnya Pameungpeuk mencatat 19 kejadian.
Garut Kota, Tarogong Kaler dan Leles masing-masing mencatat 18 kejadian. Kemudian Banyuresmi berada di angka 17 kasus.
Karangpawitan dan Tarogong Kidul sama-sama mencatat 15 kejadian. Selanjutnya Ciawi mencapai 13 kasus.
Bungbulang dan Limbangan masing-masing mencatat 12 kejadian. Sementara Cikajang dan Cisurupan sama-sama berada di angka 11 kasus.
Untuk kategori kebakaran lahan secara khusus, Malangbong, Pameungpeuk dan Leles masing-masing mencatat 14 kejadian.
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa risiko kebakaran tidak hanya menjadi persoalan kawasan perkotaan. Wilayah dengan lahan terbuka dan aktivitas masyarakat yang beragam juga menghadapi ancaman yang perlu diantisipasi.
Sisa Pembakaran Menjadi Penyebab Tertinggi
Data yang dirilis Pemkab Garut juga memuat sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab kebakaran.
Sisa pembakaran menempati persentase tertinggi dengan 29,20 persen. Berikutnya, korsleting listrik menyumbang 25,74 persen.
Kemudian kebocoran gas atau selang tercatat 7,69 persen. Faktor tungku atau kompor berada di angka 5,62 persen.
Adapun puntung rokok, obat nyamuk dan korek gas mencapai 3,25 persen. Cuaca panas tercatat 1,48 persen.
Selain itu, bahan mudah terbakar atau meledak menyumbang 0,89 persen. Kasus yang tercatat berkaitan dengan pembakaran sengaja atau melibatkan ODGI berada di angka 1,48 persen.
Sementara itu, sebanyak 24,56 persen kasus masih masuk kategori belum diketahui.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa upaya pencegahan kebakaran tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas pemadam. Kesadaran masyarakat dalam menggunakan api, listrik, kompor, gas dan melakukan pembakaran di area terbuka juga menjadi bagian penting dari pencegahan.
Kebakaran Nonlahan Sudah Mencapai 85,3 Persen
Di tengah lonjakan kebakaran lahan, kasus nonlahan juga tetap perlu diperhatikan.
Berdasarkan data yang dirilis dari Pemkab Garut, sepanjang 2025 tercatat 204 kejadian kebakaran nonlahan. Sementara hingga 16 Agustus 2026, jumlahnya sudah mencapai 175 kejadian.
Artinya, kasus nonlahan pada 2026 telah mencapai sekitar 85,3 persen dari total sepanjang 2025. Padahal, pencatatan tahun 2026 masih berlangsung hingga akhir Desember.
Juli menjadi bulan dengan jumlah kebakaran nonlahan tertinggi pada 2026, yakni 35 kejadian. Februari mencatat 27 kasus, sedangkan Maret mencapai 24 kejadian.
Karena itu, perhatian terhadap kebakaran di Garut tidak cukup hanya diarahkan pada lahan terbuka. Kebakaran rumah, bangunan dan objek nonlahan tetap menjadi bagian besar dari keseluruhan risiko.
Ada Perbedaan Angka dalam Dokumen
Pembaca perlu mengetahui adanya perbedaan angka pada dokumen data kebakaran yang menjadi dasar pemberitaan.
Pada lembar data operasional hingga 16 Agustus 2026, tercatat 318 kejadian tertangani atau 94,08 persen. Rinciannya terdiri atas 158 kejadian lahan dan 160 kejadian nonlahan.
Selain itu, terdapat 20 kejadian yang tercatat tidak tertangani. Jika digabungkan, jumlah keseluruhannya tetap mencapai 338 kejadian.
Sementara itu, dalam tabel perbandingan 2025 dan 2026, angka yang digunakan adalah 163 kejadian kebakaran lahan dan 175 kejadian nonlahan, dengan total 338 kasus.
Karena memiliki konteks pencatatan berbeda, angka tersebut tidak sebaiknya dicampur begitu saja.
Dalam artikel ini, angka 163 kebakaran lahan dan 175 kebakaran nonlahan merujuk pada tabel perbandingan kejadian 2025 dan 2026 yang dirilis dari Pemkab Garut. Adapun angka 158 lahan dan 160 nonlahan merujuk pada data kejadian tertangani dalam lembar operasional.
Data 2026 Belum Menjadi Angka Akhir
Data kebakaran Garut 2026 tersebut belum menggambarkan keseluruhan kondisi hingga akhir tahun.
Pencatatan baru berlangsung sampai 16 Agustus 2026, sehingga jumlah kejadian masih dapat berubah. Karena itu, perbandingan dengan total 2025 harus dipahami sebagai perbandingan antara data sementara 2026 dan data setahun penuh 2025.
Meski begitu, lonjakan kebakaran lahan dari 21 kasus sepanjang 2025 menjadi 163 kasus hanya sampai pertengahan Agustus 2026 tetap menjadi sinyal penting.
Terlebih, 147 kejadian kebakaran lahan tercatat pada Juli dan 16 hari pertama Agustus.
Bagi masyarakat Garut, angka tersebut bukan sekadar statistik. Setiap kejadian berarti ada potensi kerugian, gangguan aktivitas, ancaman terhadap lingkungan, bahkan risiko keselamatan.
Karena itu, kewaspadaan menjadi semakin penting, terutama ketika melakukan pembakaran di area terbuka, menggunakan peralatan listrik, memakai kompor dan menyimpan bahan yang mudah terbakar.
Garut belum menutup catatan kebakaran 2026. Namun angka 163 sudah cukup menjadi alarm: ketika api kecil semakin sering muncul, pencegahan tidak boleh menunggu sampai api membesar. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar