Babinsa Ajak Pelajar Banjar Hidup dengan Nilai Pancawaluya
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelda Masduki dari Koramil 1313/Banjar menyampaikan materi pembinaan karakter kepada siswa SMKN 1 Banjar, Rabu (5/8/2026). (Foto: Koramil 1313/Banjar).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Di tengah maraknya kasus perundungan, penyalahgunaan media sosial, hingga menurunnya kepedulian terhadap sesama, Pancawaluya kembali digaungkan sebagai pedoman membangun karakter generasi muda. Nilai-nilai luhur Sunda itu menjadi materi utama pembinaan karakter yang disampaikan Babinsa Koramil 1313/Banjar, Pelda Masduki, kepada para siswa di Aula SMKN 1 Banjar, Rabu (5/8/2026).
Suasana aula yang semula dipenuhi obrolan perlahan berubah tenang. Perhatian para pelajar tertuju ketika lima kata sederhana ditampilkan sebagai inti materi: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer.
Kelima kata itu singkat. Namun maknanya jauh melampaui ruang kelas.
Di balik istilah yang telah lama dikenal masyarakat Sunda, tersimpan pesan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh karakter setiap generasi mudanya.
Lima Kata Sederhana yang Sarat Makna
Dalam pemaparannya, Pelda Masduki menjelaskan bahwa Pancawaluya bukan sekadar slogan atau warisan budaya yang dihafalkan. Nilai-nilai tersebut merupakan pedoman hidup yang dapat diterapkan sejak usia sekolah hingga memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Kelima nilai itu meliputi:
- Cageur, yakni sehat secara jasmani dan rohani.
- Bageur, yaitu memiliki akhlak yang baik serta menghormati sesama.
- Bener, berarti menjunjung kejujuran dan kebenaran dalam setiap tindakan.
- Pinter, yakni terus belajar agar mampu berkembang mengikuti perubahan zaman.
- Singer, yang berarti cekatan, tanggap, dan mampu menyelesaikan persoalan dengan bijaksana.
Materi tersebut mengajak para siswa memahami bahwa karakter tidak tumbuh secara instan. Ia dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Pendidikan Karakter Tidak Berakhir Saat Bel Pulang Berbunyi
Sekolah memang menjadi tempat memperoleh ilmu. Namun keluarga membentuk kebiasaan, sedangkan lingkungan masyarakat menjadi ruang yang menguji apakah nilai-nilai itu benar-benar dijalankan.
Karena itu, pembinaan karakter tidak cukup berhenti di dalam aula sekolah.
Pelajar didorong untuk membawa nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer ke rumah, lingkungan pergaulan, hingga ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di era media sosial, tantangan yang dihadapi remaja semakin kompleks. Informasi datang begitu cepat. Tren silih berganti. Tekanan untuk mengikuti arus juga semakin besar.
Dalam situasi seperti itu, karakter menjadi kompas yang membantu seseorang menentukan arah.
Ketika Nilai Luhur Bertemu Tantangan Zaman
Kemajuan teknologi membuka banyak peluang. Namun pada saat yang sama, teknologi juga menghadirkan tantangan baru.
Kemampuan menggunakan gawai tidak selalu diikuti kemampuan mengendalikan diri.
Kepintaran mencari informasi belum tentu dibarengi kebijaksanaan dalam menyaringnya.
Karena itulah Pancawaluya tetap relevan.
Nilai Pinter mendorong pelajar terus belajar.
Sementara Bener mengingatkan pentingnya kejujuran.
Di sisi lain, Bageur mengajarkan empati, Cageur menjaga keseimbangan fisik dan mental, sedangkan Singer menumbuhkan sikap tanggap menghadapi perubahan.
Kelima nilai tersebut saling melengkapi dan membentuk karakter yang utuh.
Kolaborasi Membangun Generasi Berkarakter
Kehadiran Babinsa dalam kegiatan pembinaan karakter menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah.
Pembentukan karakter memerlukan sinergi antara keluarga, dunia pendidikan, aparat kewilayahan, dan masyarakat.
Melalui kolaborasi itu, para pelajar diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu menjaga integritas, menghargai orang lain, serta memberi manfaat bagi lingkungannya.
Itulah sebabnya nilai-nilai lokal seperti Pancawaluya tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
Bekal yang Akan Dibawa Seumur Hidup
Nilai akademik dapat membuka kesempatan melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja.
Namun kepercayaan, integritas, dan tanggung jawab hanya lahir dari karakter yang baik.
Pendidikan akan melahirkan orang pintar.
Karakter akan melahirkan orang yang dipercaya.
Ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah generasi yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap menjadi teladan.
Ijazah mungkin membuka pintu pertama menuju masa depan. Namun karakterlah yang menentukan apakah pintu-pintu berikutnya tetap terbuka. Pancawaluya bukan sekadar lima kata di layar presentasi, melainkan kompas yang akan menentukan ke mana langkah seorang pelajar bermuara. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar