Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Buta Hati, Saat Dunia Terasa Lebih Penting dari Allah

Buta Hati, Saat Dunia Terasa Lebih Penting dari Allah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 21 jam yang lalu
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Alarm Subuh berbunyi. Tangan bergerak cepat, tetapi bukan menuju tempat wudu. Jari justru lebih dulu menyentuh layar ponsel. Notifikasi media sosial dibuka. Grup WhatsApp dibaca. Harga saham dicek. Video pendek berganti tanpa terasa. Ketika matahari mulai meninggi, salat Subuh sudah lewat begitu saja.

Barangkali, inilah gambaran paling sederhana tentang buta hati. Bukan karena mata kehilangan penglihatan, melainkan karena hati yang buta lebih tertarik pada hawa nafsu daripada panggilan Allah. Fenomena penyakit hati seperti ini telah lama diingatkan dalam Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, jauh sebelum media sosial, notifikasi, dan algoritma memenuhi kehidupan manusia.

Beliau menulis:

الْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّا لَا انْفِكَاكَ لَهُ عَنْهُ وَيَطْلُبُ مَا لَا بَقَاءَ لَهُ مَعَهُ، فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya:

“Sungguh sangat mengherankan orang yang lari dari sesuatu yang sangat dibutuhkannya dan tidak mungkin terlepas darinya, tetapi justru mengejar sesuatu yang tidak akan kekal bersamanya. Sesungguhnya bukan mata yang buta, melainkan hati yang berada di dalam dada.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Ia seperti cermin yang memantulkan wajah manusia modern.

Kita Tak Kekurangan Waktu, Kita Kehilangan Arah

Coba perhatikan kehidupan sehari-hari.

Orang rela mengantre berjam-jam demi membeli gawai terbaru.

Mereka menempuh perjalanan jauh untuk menyaksikan konser.

Bahkan, sebagian orang sanggup begadang demi siaran langsung pertandingan sepak bola.

Namun, ketika azan berkumandang, lima menit menuju masjid terasa terlalu berat.

Di sinilah satir kehidupan itu muncul.

Kita sering berkata tidak punya waktu untuk membaca Al-Qur’an. Padahal laporan penggunaan ponsel menunjukkan waktu layar bisa mencapai lima hingga delapan jam setiap hari.

Kita mengaku sibuk bekerja demi keluarga. Akan tetapi, kesibukan itu terkadang membuat keluarga justru kehilangan teladan dalam beribadah.

Ironinya, semua itu terasa normal.

Padahal, menurut Syekh Ibnu Athaillah, manusia sedang berlari menjauhi sesuatu yang paling ia perlukan, yaitu kedekatan dengan Allah.

Bayangan Dunia Selalu Menang, Padahal Tak Ada yang Kekal

Mengapa manusia begitu mudah tertipu?

Karena dunia selalu tampil menarik.

Diskon terasa mendesak.

Popularitas tampak menggiurkan.

Pujian membuat hati berbunga.

Jumlah pengikut di media sosial sering dijadikan ukuran keberhasilan.

Padahal semua itu hanya singgah.

Hari ini dipuji.

Besok dilupakan.

Hari ini viral.

Minggu depan sudah berganti cerita.

Syekh Ibnu Athaillah menyebut keadaan ini sebagai mengutamakan bayangan daripada hakikat.

Kita mengejar sesuatu yang tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Allah SWT mengingatkan:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak-anak.”

(QS. Al-Hadid: 20).

Ayat ini bukan larangan memiliki harta. Ayat ini mengingatkan agar harta tidak memiliki hati kita.

Mengapa Buta Hati Semakin Terlihat di Era Media Sosial?

Media sosial bukan musuh.

Teknologi juga bukan lawan.

Yang perlu diwaspadai ialah ketika keduanya mengambil alih hati.

Hari ini banyak orang lebih cemas kehilangan sinyal internet daripada kehilangan kekhusyukan salat.

Sebagian orang merasa gelisah ketika unggahannya sepi respons. Namun, mereka tetap tenang meski sudah lama tidak menangis dalam doa.

FOMO, budaya pamer, validasi digital, dan perlombaan mengejar citra membuat banyak orang sibuk membangun kesan, tetapi lupa membangun keikhlasan.

Inilah bentuk baru penyakit hati.

Bukan karena teknologi salah.

Melainkan karena hati kehilangan kendali.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

(HR. Bukhari).

Musafir tidak membangun rumah mewah di tempat persinggahan. Ia tahu perjalanan masih panjang.

Tiga Tanda Hati Mulai Kehilangan Cahaya

Syekh Ibnu Athaillah tidak menyebutkan daftar ini secara eksplisit, tetapi pesan dalam Hikam mengajak setiap orang melakukan muhasabah.

Pertama, ibadah mulai terasa sebagai beban, sedangkan hiburan terasa sebagai kebutuhan.

Kedua, nasihat membuat hati tersinggung, tetapi pujian membuat dada berbunga-bunga.

Ketiga, dosa dilakukan berulang kali tanpa rasa bersalah, sementara amal saleh terus ditunda dengan alasan menunggu waktu yang tepat.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.”

(QS. Al-Hajj: 46).

Ayat ini menjadi penegasan bahwa pusat persoalan bukanlah penglihatan, melainkan arah hati.

Saatnya Berhenti Mengejar Bayangan

Bekerja adalah ibadah.

Mencari rezeki juga perintah agama.

Menjadi kaya bukan kesalahan.

Namun, semuanya berubah ketika dunia menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”

(HR. Tirmidzi).

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan.

Pertanyaannya jauh lebih sunyi.

Apakah hati kita masih mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Allah?

Apakah salat masih menjadi tempat pulang, atau hanya rutinitas yang dikerjakan terburu-buru?

Barangkali jawabannya tidak perlu diumumkan kepada siapa pun.

Cukup diketahui oleh diri sendiri dan Allah.

Syekh Ibnu Athaillah tidak mengajak manusia meninggalkan dunia. Beliau mengingatkan agar dunia tidak mengambil alih singgasana hati. Dunia adalah kendaraan, bukan tujuan. Jabatan hanyalah amanah. Harta sekadar titipan. Popularitas tidak pernah menjadi bekal di alam kubur.

Ketika hati kembali menempatkan Allah sebagai tujuan utama, dunia akan berada di tangan, bukan menguasai jiwa.

Sebab tragedi terbesar dalam hidup bukanlah miskin harta, melainkan kaya dunia tetapi bangkrut di hadapan Allah. Mata yang buta masih bisa dituntun menuju jalan. Namun, hati yang buta akan terus berlari mengejar bayangan, sampai maut menghentikan langkahnya. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa Sunnah

    Macam-Macam Puasa Sunnah dan Keutamaannya: Jalan Menuju Kesucian dan Kedekatan dengan Allah SWT

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Pelajari macam-macam puasa sunnah dan keutamaannya yang menuntun umat Islam menuju kesucian dan ampunan. Puasa Sunnah dan Keutamaannya albadarpost.com, HIKMAH – Puasa tidak hanya diwajibkan di bulan Ramadhan. Dalam Islam, ada banyak jenis puasa sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW sepanjang tahun. Walau bersifat tidak wajib, puasa sunnah menawarkan limpahan pahala, ampunan, dan keberkahan bagi siapa […]

  • Piala Presiden 2026

    7 Fakta Piala Presiden 2026 yang Tak Banyak Disadari

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 39
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Piala Presiden 2026 kembali menyita perhatian publik sebelum bergulirnya Liga 1. Bagi sebagian orang, turnamen Piala Presiden hanya dianggap sebagai ajang pemanasan. Namun, dalam beberapa musim terakhir, kompetisi ini justru berkembang menjadi barometer awal kekuatan klub, panggung pemain baru, sekaligus hiburan yang selalu dinantikan jutaan pencinta sepak bola Indonesia. Atmosfer stadion […]

  • 10 Hari Dzulhijjah

    Rahasia 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Lebih Istimewa dari Hari Lain?

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Tidak semua hari memiliki nilai yang sama dalam Islam. Ada waktu-waktu tertentu yang Allah muliakan dengan cara yang sangat istimewa. Salah satunya adalah 10 Hari Dzulhijjah, atau 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang sering disebut sebagai hari terbaik untuk memperbanyak amal saleh. Menariknya, banyak umat Islam justru lebih familiar dengan Ramadan dibanding […]

  • Memasak nasi pulen tanpa rice cooker menggunakan panci dengan metode tradisional di dapur rumah

    Ternyata Begini Cara Memasak Nasi Pulen Tanpa Rice Cooker

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 165
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Saat rice cooker tidak bisa digunakan, banyak orang langsung panik karena merasa tidak bisa memasak nasi. Padahal, membuat nasi pulen tanpa rice cooker justru lebih mudah daripada yang dibayangkan. Cara memasak nasi manual atau masak nasi pakai panci sudah dilakukan sejak lama dan tetap menghasilkan nasi lembut, wangi, serta matang merata. […]

  • ujaran kebencian

    Kasus Ujaran Kebencian, Polisi Telusuri Jejak Pelarian Resbob

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Pelarian streamer Resbob usai kasus ujaran kebencian berakhir di Semarang, polisi dalami motif. albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kepolisian Daerah Jawa Barat memburu seorang streamer yang tersandung kasus ujaran kebencian bermuatan penghinaan terhadap Suku Sunda. Upaya melarikan diri itu berakhir di Semarang, Jawa Tengah, setelah polisi melacak pergerakan pelaku lintas kota. Kasus ini menjadi perhatian publik […]

  • Muharram

    Fakta Muharram yang Mengubah Sejarah Peradaban Islam

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 160
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Menjelang datangnya Muharram, suasana di banyak kampung biasanya mulai berubah. Di sejumlah masjid, spanduk Tahun Baru Islam sudah terpasang sejak beberapa hari sebelumnya. Anak-anak terlihat berlatih pawai obor selepas Magrib, sementara para orang tua berdiskusi mengenai pengajian dan santunan yang akan digelar pada malam pergantian tahun Hijriah. Di sudut teras masjid, beberapa […]

expand_less