2.707 Warga Ciamis Terdampak Kekeringan
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sumber air yang mengering di musim kemarau.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kekeringan Ciamis kembali menjadi perhatian setelah rekapitulasi dampak kekeringan tahun 2024 dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis menunjukkan sedikitnya 1.062 kepala keluarga (KK) atau 2.707 jiwa mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Data tersebut memperlihatkan bahwa krisis air bersih akibat musim kemarau tidak hanya berdampak pada aktivitas sehari-hari warga, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Rekap Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Ciamis mencatat kekeringan melanda 2 kecamatan, 5 desa, dan 10 dusun. Hingga akhir pendataan, BPBD telah mendistribusikan 50.000 liter air bersih ke wilayah yang mengalami penurunan ketersediaan air.
Di antara seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Banjaranyar menjadi daerah dengan jumlah warga paling banyak membutuhkan bantuan air bersih. Sebanyak 698 KK atau sekitar 65,7 persen dari total keluarga terdampak berada di kecamatan tersebut. Sementara itu, Kecamatan Banjarsari mencatat 364 KK terdampak.
Banjaranyar Menjadi Titik Terbesar Dampak Kekeringan
Data BPBD menunjukkan tiga desa di Kecamatan Banjaranyar mengalami dampak paling besar, yakni Desa Banjaranyar, Desa Cigayam, dan Desa Cikaso.
Desa Banjaranyar yang meliputi Dusun Banjaranyar dan Dusun Bulaksitu mencatat 385 KK atau 818 jiwa terdampak. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD menyalurkan 15.000 liter air bersih ke wilayah tersebut.
Di Desa Cigayam, bantuan menjangkau Dusun Purwasari dan Dusun Sidamulya. Sebanyak 221 KK atau 704 jiwa menerima distribusi air bersih sebanyak 15.000 liter.
Sementara itu, Desa Cikaso yang mencakup Dusun Cikaso, Sukapura, dan Karangsari mencatat 92 KK atau 245 jiwa terdampak. Wilayah ini memperoleh distribusi 10.000 liter air bersih.
Secara keseluruhan, Kecamatan Banjaranyar menerima 30.000 liter air, atau sekitar 60 persen dari total distribusi yang dilakukan BPBD Kabupaten Ciamis.
Banjarsari Juga Menghadapi Krisis Air Bersih
Kecamatan Banjarsari menjadi wilayah terdampak berikutnya.
Di Desa Kawasen, distribusi dilakukan ke Dusun Panamun dan Dusun Sumanding. Sebanyak 243 KK atau 577 jiwa menerima bantuan air bersih dengan total volume 15.000 liter.
Selain itu, Dusun Cibeureum di Desa Cibadak mencatat 121 KK atau 363 jiwa terdampak. BPBD menyalurkan 5.000 liter air bersih ke wilayah tersebut.
Dengan demikian, total distribusi air di Kecamatan Banjarsari mencapai 20.000 liter, melayani 364 KK atau 940 jiwa.
Distribusi Air Mengacu pada Pendataan Lapangan
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Ciamis, penyaluran air bersih dilakukan secara bertahap mengikuti hasil asesmen lapangan. Setiap pengiriman disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak agar bantuan dapat menjangkau lokasi yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Pendataan tersebut menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan prioritas distribusi, sekaligus memantau perkembangan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Data rekapitulasi ini juga menjadi acuan bagi BPBD dalam menyusun langkah penanganan apabila jumlah desa terdampak bertambah pada musim kemarau berikutnya.
Antisipasi Kekeringan Membutuhkan Kolaborasi
Musim kemarau yang berlangsung dalam waktu panjang berpotensi menurunkan debit mata air, sumur warga, maupun sumber air permukaan. Oleh karena itu, kesiapsiagaan pemerintah daerah perlu berjalan beriringan dengan partisipasi masyarakat dalam menggunakan air secara hemat dan menjaga sumber air yang masih tersedia.
Langkah tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menegaskan tanggung jawab pemerintah dalam melindungi masyarakat melalui upaya pencegahan, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemenuhan kebutuhan dasar saat terjadi bencana.
Melalui pendataan yang akurat dan distribusi air bersih yang tepat sasaran, pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat untuk mempercepat penanganan dampak kekeringan di wilayah rawan.
Bagi ribuan warga yang terdampak, air bersih bukan sekadar bantuan, melainkan penopang kehidupan sehari-hari. Data yang akurat, respons yang cepat, dan kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar setiap tetes air dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar