QS Al-Baqarah 126: Doa yang Menguatkan Sebuah Negeri
- account_circle redaktur
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi orang tua sedang bermain dengan anaknya di halaman rumah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Setiap tanggal 17 Agustus, jutaan pasang mata tertuju kepada Sang Merah Putih yang perlahan naik ke puncak tiang. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Banyak orang menundukkan kepala sambil berdoa agar negeri tetap damai. Namun, tahukah kita? Jauh sebelum konsep negara modern lahir, Al-Qur’an telah mengabadikan sebuah doa keamanan negeri yang dipanjatkan Nabi Ibrahim AS. Doa dalam QS. Al-Baqarah 126 itu tidak hanya berbicara tentang negeri yang aman, tetapi juga menghadirkan fondasi nasionalisme dalam Islam yang berakar pada iman, kepedulian, dan tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.'”
(QS. Al-Baqarah: 126).
Menariknya, Nabi Ibrahim lebih dahulu memohon keamanan sebelum memohon rezeki. Urutan doa ini menyimpan pelajaran besar yang tetap relevan hingga hari ini.
Mengapa Nabi Ibrahim Mendahulukan Doa Keamanan Negeri?
Bayangkan sebuah negeri yang kaya sumber daya, tetapi dipenuhi konflik.
Sekolah sulit berjalan.
Aktivitas ekonomi terganggu.
Rumah ibadah kehilangan ketenangan.
Anak-anak tumbuh dalam rasa takut.
Karena itulah Nabi Ibrahim memulai doanya dengan memohon keamanan.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa keamanan merupakan nikmat besar yang memungkinkan masyarakat menjalankan agama, bekerja, dan membangun kehidupan dengan tenang. Sementara itu, Tafsir Al-Qurthubi menekankan bahwa keamanan adalah salah satu karunia Allah yang menjadi syarat lahirnya kemakmuran.
Pesannya sederhana.
Negeri yang aman bukan hadir karena keberuntungan.
Ia tumbuh dari doa, keadilan, persatuan, dan kepedulian seluruh warga.
Nasionalisme dalam Islam Bukan Sekadar Slogan
Di tengah berbagai perdebatan, masih ada anggapan bahwa nasionalisme bertentangan dengan agama.
Pandangan itu tidak sepenuhnya tepat.
Islam mengajarkan kecintaan kepada tempat tinggal melalui tanggung jawab untuk menjaga keamanan, menegakkan keadilan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman bangsa merupakan bagian dari kehendak Allah. Karena itu, persatuan menjadi jalan untuk saling mengenal, bukan saling merendahkan.
Nasionalisme dalam Islam tidak berarti menempatkan bangsa di atas agama. Sebaliknya, ia mendorong setiap Muslim menjadi warga yang jujur, amanah, dan bermanfaat bagi negeri.
Relevan di Tengah Tantangan Indonesia Hari Ini
Hari ini, tantangan sebuah bangsa tidak selalu datang dalam bentuk peperangan.
Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.
Provokasi mudah memecah persaudaraan.
Ujaran kebencian beredar tanpa berpikir panjang.
Perbedaan pandangan sering berubah menjadi permusuhan.
Dalam situasi seperti itu, doa Nabi Ibrahim terasa semakin relevan.
Mendoakan keamanan negeri bukan hanya ucapan setelah salat.
Doa itu perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menghormati hukum.
Menjaga fasilitas umum.
Menghindari fitnah.
Menggunakan media sosial secara bijak.
Merawat kerukunan dengan tetangga yang berbeda latar belakang.
Semua itu merupakan bentuk cinta tanah air yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Rasulullah SAW Juga Menunjukkan Cinta kepada Tanah Kelahiran
Ketika hijrah dari Makkah, Rasulullah SAW mengungkapkan rasa cintanya kepada kota tempat beliau dilahirkan.
Beliau bersabda:
“Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar darimu.”
(HR. Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan bahwa mencintai tanah kelahiran merupakan fitrah manusia. Yang perlu dijaga adalah agar kecintaan tersebut tetap berada dalam koridor syariat, tidak berubah menjadi fanatisme yang merendahkan bangsa lain.
Menjaga Negeri Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Sering kali nasionalisme dipahami sebatas upacara atau pengibaran bendera.
Padahal, maknanya jauh lebih luas.
Seorang guru yang mengajar dengan jujur sedang menjaga negeri.
Petani yang menghasilkan pangan berkualitas sedang menjaga negeri.
Tenaga kesehatan yang melayani pasien dengan tulus sedang menjaga negeri.
Jurnalis yang menyampaikan informasi akurat tanpa provokasi juga sedang menjaga negeri.
Setiap profesi memiliki ruang untuk menghadirkan manfaat.
Allah SWT mengingatkan:
“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”
(QS. Al-Anfal: 46).
Persatuan bukan sekadar slogan. Persatuan adalah modal agar sebuah bangsa tetap kuat menghadapi tantangan zaman.
Nasionalisme yang Berakar pada Ketakwaan
Doa Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa keamanan, kemakmuran, dan persatuan tidak lahir secara kebetulan.
Semuanya bertumbuh ketika manusia mendekat kepada Allah sekaligus menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.
Karena itu, setiap doa untuk negeri sejatinya merupakan komitmen moral.
Bukan hanya meminta Indonesia tetap damai.
Melainkan juga bersedia menjadi bagian dari solusi.
Tidak menyebarkan kebencian.
Tidak merusak persatuan.
Dan tidak mengorbankan kepentingan bersama demi keuntungan sesaat.
Inilah makna nasionalisme yang tumbuh dari ketakwaan.
Sebuah bangsa tidak hanya dijaga oleh pagar perbatasan dan kekuatan senjata, tetapi juga oleh jutaan hati yang berdoa, bekerja dengan jujur, serta memilih persatuan daripada perpecahan. Sebab, negeri yang aman bukan sekadar warisan para pendiri bangsa, melainkan amanah yang harus terus dijaga oleh setiap generasi. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar