Pangandaran Melesat? Data 2025 Menyisakan Pertanyaan Besar
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak

Logo Milangkala Pangandaran ke-14. (Dok. Pemkab Pangandaran).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Pangandaran Melesat menjadi salah satu pesan utama dalam tema Milangkala Kabupaten Pangandaran ke-14: “Ngahiji dina Rasa, Ngawujud dina Karya, Mawa Pangandaran Melesat Nepi ka Jaya.” Tetapi ketika kata “melesat” diletakkan di hadapan data, muncul pertanyaan yang lebih penting: sejauh mana gerak itu sudah terlihat dalam ekonomi dan kehidupan masyarakat Pangandaran?
Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk membantah semangat Milangkala. Justru, tema itu menarik ketika dibaca bersama angka-angka pembangunan.
Data Badan Pusat Statistik 2025 memperlihatkan sejumlah indikator yang bergerak positif. Kemiskinan turun, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 1,91 persen, ekosistem pariwisata tetap kuat, sementara pertanian dan perkebunan mempertahankan produksi dalam skala besar.
Namun, angka-angka tersebut belum otomatis menjawab pertanyaan tentang kualitas pekerjaan, nilai tambah, diversifikasi ekonomi, dan pemerataan manfaat pembangunan.
Di situlah kata “melesat” perlu diuji.
Kemiskinan Turun, Tetapi Apa yang Berubah?
Salah satu indikator yang paling jelas adalah kemiskinan.
Pada 2025, jumlah penduduk miskin Pangandaran tercatat 33,09 ribu orang atau 8,03 persen. Pada 2024, jumlahnya mencapai 35,949 ribu orang atau 8,75 persen.
Artinya, jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 2.859 orang, sedangkan persentasenya turun 0,72 poin persentase.
Angka tersebut merupakan perkembangan positif yang patut dicatat.
Namun, berhenti pada angka itu akan membuat pembacaan pembangunan menjadi terlalu sederhana.
Penurunan kemiskinan belum menjawab apakah pendapatan rumah tangga meningkat secara kuat, apakah daya beli warga membaik, atau apakah mereka yang keluar dari garis kemiskinan sudah memiliki fondasi ekonomi yang lebih kokoh.
Dengan kata lain, kemiskinan yang turun adalah fakta; kualitas perubahan kesejahteraan membutuhkan indikator lain untuk membuktikannya.
Di sinilah data berikutnya menjadi penting.
Pengangguran 1,91 Persen: Rendah, Tetapi Pekerjaannya Seperti Apa?
Pada 2025, penduduk Pangandaran berusia 15 tahun ke atas mencapai 347.347 orang.
Angkatan kerja mencapai 274.841 orang. Dari jumlah tersebut, 269.579 orang bekerja, sedangkan 5.262 orang menganggur.
TPT Pangandaran tercatat 1,91 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa proporsi pengangguran terbuka relatif kecil terhadap angkatan kerja.
Tetapi ada persoalan yang tidak bisa dijawab oleh TPT saja.
Bekerja tidak otomatis berarti memiliki pekerjaan yang berkualitas.
Berapa pendapatan pekerja? Seberapa besar pekerja informal? Bagaimana produktivitasnya? Apakah lapangan kerja yang tersedia mampu menyerap lulusan sekolah dan generasi muda dengan keterampilan yang terus berubah?
Pertanyaan tersebut penting karena pembangunan ekonomi pada akhirnya tidak hanya membutuhkan jumlah orang yang bekerja, tetapi juga pekerjaan yang produktif dan mampu meningkatkan kesejahteraan.
Jadi, TPT 1,91 persen adalah kabar penting. Namun, angka itu belum cukup untuk menyimpulkan seluruh persoalan ketenagakerjaan Pangandaran telah selesai.
Pariwisata Kuat, Tetapi Alam Masih Menjadi Mesin Utama
Kemudian ada sektor yang paling melekat dengan identitas Pangandaran: pariwisata.
Pada 2025, 64 persen daya tarik wisata Pangandaran merupakan wisata alam. Sementara itu, wisata budaya mencapai 27 persen dan wisata buatan 9 persen.
Sebarannya juga cukup luas.
Parigi tercatat memiliki 63 daya tarik wisata, Kalipucang 45, Cimerak 42, Pangandaran 30, dan Cigugur 24. Berdasarkan daftar yang tersedia, jumlahnya mencapai 270 daya tarik wisata.
Ekosistem usaha pendukung juga tumbuh. Pada 2025 terdapat 323 rumah makan dan restoran, naik dari 283 pada 2023. Kecamatan Pangandaran sendiri mencatat 149 unit.
Ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan sekadar destinasi. Ada aktivitas ekonomi yang ikut bergerak di sekitarnya.
Tetapi justru karena wisata alam menjadi bagian terbesar, muncul pertanyaan strategis:
Jika 64 persen daya tarik wisata bertumpu pada alam, seberapa kuat ketahanan ekonomi pariwisata Pangandaran ketika menghadapi tekanan lingkungan, perubahan perilaku wisatawan, atau gangguan terhadap destinasi?
Pertanyaan itu bukan berarti wisata alam merupakan kelemahan.
Sebaliknya, alam adalah salah satu modal terbesar Pangandaran.
Namun, modal yang besar juga membutuhkan pengelolaan yang kuat. Karena itu, pengembangan wisata budaya, buatan, kuliner, ekonomi kreatif, desa wisata, serta produk lokal menjadi penting jika Pangandaran ingin memperluas sumber pertumbuhan.
Jangan Lupa: Ekonomi Pangandaran Tidak Hanya Pariwisata
Ada satu hal yang sering luput ketika Pangandaran dibicarakan sebagai daerah wisata.
Ekonominya jauh lebih luas daripada sektor pariwisata.
Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menghasilkan sekitar Rp4,52 triliun berdasarkan harga berlaku. Perdagangan mencapai sekitar Rp3,10 triliun, transportasi dan pergudangan sekitar Rp2,33 triliun, sedangkan penyediaan akomodasi dan makan-minum sekitar Rp1,74 triliun.
Total PDRB Pangandaran mencapai sekitar Rp16,76 triliun.
Data tersebut memberi pesan penting: pembangunan Pangandaran memiliki beberapa mesin ekonomi sekaligus.
Pertanian tetap besar.
Perdagangan bergerak.
Transportasi ikut menopang aktivitas ekonomi.
Akomodasi dan makan-minum berkembang bersama pariwisata.
Karena itu, ukuran “Pangandaran Melesat” seharusnya tidak hanya dilihat dari ramainya destinasi wisata.
Ada ekonomi desa yang perlu tumbuh. Ada petani dan nelayan yang membutuhkan nilai tambah. Ada UMKM yang perlu naik kelas. Ada pekerja yang membutuhkan pekerjaan produktif.
Padi dan Kelapa Besar, Tetapi Nilai Tambainya Perlu Dibaca
Pada 2025, luas panen padi Pangandaran mencapai 30.667 hektare.
Produktivitas rata-rata mencapai 5,23 ton per hektare, sedangkan produksi mencapai 160.234 ton gabah kering giling.
Kemudian, produksi kelapa rakyat mencapai 50.035,29 ton.
Angka produksi tersebut memperlihatkan besarnya potensi sektor primer Pangandaran.
Namun, sekali lagi, produksi bukanlah akhir cerita.
Pertanyaan berikutnya adalah berapa nilai tambah yang tercipta setelah komoditas itu dipanen?
Berapa banyak produk yang masuk ke tahap pengolahan? Berapa bagian yang dinikmati petani? Seberapa kuat rantai pasok lokal? Berapa besar peluang UMKM masuk ke dalamnya?
Data yang tersedia dalam bahan ini belum menjawab seluruh pertanyaan tersebut.
Karena itu, AlbadarPost tidak perlu mengarang kesimpulan.
Justru kekosongan data itu sendiri merupakan agenda liputan berikutnya.
Jadi, Sejauh Mana Pangandaran Sudah Melesat?
Jika seluruh angka 2025 diletakkan berdampingan, Pangandaran memang memiliki sejumlah indikator yang bergerak positif.
Kemiskinan turun.
TPT tercatat 1,91 persen.
Pariwisata memiliki ratusan daya tarik.
Restoran bertambah.
Produksi padi mencapai 160.234 ton GKG.
Produksi kelapa rakyat mencapai 50.035,29 ton.
PDRB mencapai sekitar Rp16,76 triliun.
Semua itu merupakan modal penting.
Tetapi modal bukan hasil akhir.
Kata “melesat” akan memiliki makna yang lebih kuat ketika pertumbuhan tersebut mampu memperbesar nilai tambah ekonomi lokal, menciptakan pekerjaan yang semakin produktif, memperkuat UMKM, meningkatkan posisi petani dan nelayan dalam rantai ekonomi, serta membuat manfaat pembangunan menjangkau lebih banyak rumah tangga.
Di titik itu, pertanyaan tentang Pangandaran bukan lagi sekadar “apakah daerah ini tumbuh?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Tumbuh ke mana, tumbuh untuk siapa, dan seberapa kuat pertumbuhan itu bertahan?”
Pangandaran sudah memiliki modal untuk melesat. Data 2025 menunjukkan sejumlah indikator bergerak ke arah positif. Tetapi ukuran sesungguhnya bukan seberapa indah kata “melesat” dalam sebuah tema, melainkan seberapa jauh potensi alam, pariwisata, pertanian, perdagangan, dan tenaga kerja berubah menjadi nilai tambah serta kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Sebab, daerah yang melesat bukan sekadar daerah yang bergerak cepat. Ia adalah daerah yang mampu memastikan semakin banyak warganya ikut bergerak maju. (Red)
- Penulis: redaktur






