Hari Santri 2026: Indonesia Emas Tak Cukup dengan Santri yang Saleh
- account_circle redaktur
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

H. Ajat Sudrajat, S.Sos.I. (Ketua MWCNU Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, OPINI – Setiap peringatan Hari Santri 2026, masyarakat kembali menaruh perhatian pada peran pesantren dalam membentuk generasi berakhlak. Namun, peran santri untuk bangsa tidak cukup diukur dari kesalehan pribadi atau meriahnya perayaan tahunan. Indonesia juga membutuhkan santri yang berilmu, berintegritas, mandiri, dan mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Tema Hari Santri tahun ini, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa membutuhkan generasi yang kuat dalam nilai sekaligus cakap menghadapi tantangan zaman. Santri bukan sekadar pewaris tradisi keilmuan Islam. Mereka juga memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam pendidikan, ekonomi, kehidupan sosial, dan pembangunan masyarakat.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana merayakan Hari Santri, melainkan bagaimana memastikan pendidikan pesantren menghasilkan manfaat yang nyata. Kesalehan perlu menjadi fondasi pengabdian, ilmu menjadi bekal, dan integritas menjadi penuntun tindakan.
Kesalehan merupakan fondasi penting dalam kehidupan santri. Ibadah, adab kepada guru, penghormatan terhadap ilmu, dan kedisiplinan membentuk karakter yang dibutuhkan bangsa. Namun, nilai-nilai tersebut juga harus tercermin dalam cara seseorang memperlakukan sesama dan menjalankan tanggung jawabnya.
Al-Qur’an melalui Surah Al-Qasas ayat 77:
وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ
mengajarkan manusia untuk mengutamakan kehidupan akhirat tanpa melupakan bagian dunia serta berbuat baik kepada sesama. Pesan ini menunjukkan bahwa orientasi spiritual tidak harus menjauhkan seseorang dari persoalan sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai tersebut dapat hadir melalui tindakan sederhana. Santri yang membantu anak-anak belajar membaca, mengajarkan ilmu agama dengan bijaksana, mendampingi warga yang membutuhkan, atau membangun usaha secara jujur telah mengambil bagian dalam pengabdian.
Kontribusi itu tidak harus selalu berbentuk program besar. Kejujuran dalam bekerja, kepedulian terhadap tetangga, dan kesediaan membantu masyarakat juga memiliki arti. Yang terpenting, pendidikan akhlak melahirkan perilaku yang manfaatnya dapat dirasakan orang lain.
Pesantren memiliki tradisi keilmuan yang patut dijaga. Kajian Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, dan kitab-kitab ulama menjadi fondasi pendidikan santri. Namun, tantangan masyarakat terus berkembang. Karena itu, santri juga perlu menguasai kecakapan yang membantu mereka menerapkan ilmu dalam kehidupan.
Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
menjelaskan keutamaan orang-orang beriman dan mereka yang memperoleh ilmu. Sementara itu, hadis riwayat Sahih Muslim nomor 2699a menerangkan keutamaan menempuh jalan untuk mencari ilmu. Keduanya menegaskan pentingnya proses belajar dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam konteks pendidikan, penguatan ilmu dapat berjalan melalui peningkatan kemampuan membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi, memahami persoalan ekonomi, dan menilai informasi secara kritis. Kecakapan tersebut tidak menggantikan ilmu agama. Sebaliknya, keterampilan praktis dapat membantu santri menjawab kebutuhan masyarakat dengan lebih tepat.
Bayangkan seorang santri yang memahami fikih muamalah sekaligus mampu mengelola pembukuan usaha. Ia dapat membantu pelaku usaha kecil memahami transaksi yang jujur, pencatatan keuangan, dan tanggung jawab terhadap pelanggan. Begitu pula santri yang memiliki kemampuan mengajar dapat membantu memperluas akses pendidikan bagi anak-anak di lingkungannya.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa tradisi keilmuan dan kecakapan praktis tidak harus saling berlawanan. Keduanya dapat saling menguatkan selama pendidikan tetap berorientasi pada pembentukan manusia yang berilmu dan berakhlak.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang produktif, kompeten, dan mampu menghadapi tantangan ekonomi. Dalam upaya tersebut, santri dapat berkontribusi melalui berbagai bidang, mulai dari pendidikan dan kewirausahaan hingga pertanian, perdagangan, serta pelayanan sosial.
Pengembangan keterampilan usaha di lingkungan pesantren dapat membuka ruang belajar yang konkret. Santri bisa mempelajari pengelolaan modal, pencatatan keuangan, pemasaran, dan pelayanan pelanggan. Jika dikelola dengan baik, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kemandirian sekaligus memperkenalkan tanggung jawab ekonomi.
Namun, keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari keuntungan. Kejujuran, amanah, dan kepedulian terhadap pekerja maupun pelanggan harus tetap menjadi pegangan. Kemampuan menghasilkan pendapatan tanpa integritas justru berisiko melahirkan masalah baru.
Di sinilah pendidikan karakter menemukan relevansinya. Santri yang menggabungkan kompetensi dengan amanah dapat membawa nilai pesantren ke berbagai profesi. Mereka tidak harus memilih antara menjadi religius dan menjadi profesional. Keduanya dapat berjalan bersama.
Tanggung jawab menyiapkan generasi santri bukan hanya milik pengasuh dan pengelola pesantren. Pemerintah, masyarakat, alumni, orang tua, dan dunia usaha juga memiliki peran dalam memperluas kesempatan belajar serta mendukung perkembangan santri.
Dukungan tersebut perlu menjawab kebutuhan nyata, seperti peningkatan mutu pendidikan, pengembangan kompetensi pengajar, kelayakan fasilitas, dan akses terhadap keterampilan kerja. Program pemberdayaan ekonomi pun perlu dirancang agar mendukung proses pendidikan, bukan mengalihkan pesantren dari misi utamanya.
Pada saat yang sama, pesantren perlu memiliki ruang untuk mengevaluasi proses pendidikan dan memperbaiki kekurangan. Menjaga tradisi tidak berarti menolak perubahan. Tradisi keilmuan yang kuat justru dapat menjadi landasan untuk menilai perkembangan baru secara kritis dan bertanggung jawab.
Karena itu, peringatan Hari Santri sebaiknya mendorong kerja bersama yang berkelanjutan. Perayaan dapat membangkitkan semangat, tetapi peningkatan mutu pendidikan, pengabdian, dan kemandirian memerlukan langkah nyata setelah acara berakhir.
Hari Santri 2026 dapat menjadi momentum untuk menilai kembali arah pendidikan dan pengabdian santri. Apakah ilmu yang mereka pelajari membantu masyarakat? Apakah pendidikan membekali mereka dengan kemampuan hidup yang memadai? Apakah nilai amanah tercermin dalam tindakan sehari-hari?
Pertanyaan tersebut bukan untuk merendahkan pesantren, melainkan untuk memperkuat kontribusinya. Evaluasi yang jujur memungkinkan pesantren menjaga tradisi sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan sesuai kebutuhan zaman.
Santri tidak harus meninggalkan identitas keagamaannya untuk berperan lebih luas. Mereka dapat menjadi pendidik, pengusaha, peneliti, pekerja sosial, atau profesional yang membawa nilai adab dan kejujuran ke ruang pengabdian masing-masing.
Pada akhirnya, keberhasilan Hari Santri tidak cukup diukur dari banyaknya spanduk, meriahnya upacara, atau ramainya ucapan di media sosial. Ukuran yang lebih penting ialah sejauh mana nilai pendidikan pesantren tumbuh menjadi perilaku baik, kompetensi, dan kontribusi bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Indonesia Emas tidak cukup dibangun dengan memuji kesalehan santri setiap 22 Oktober. Indonesia membutuhkannya dalam tindakan: santri yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, akhlak sebagai pegangan, dan manfaat bagi sesama sebagai bukti perjuangannya.
Penulis: H. Ajat Sudrajat, S.Sos.I. (Ketua MWCNU Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya).
- Penulis: redaktur
