Humaniora

Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

albadarpost.com, HUMANIORA – Ketika azan maghrib berkumandang di banyak tempat, sebagian orang sudah duduk bersama keluarga di meja makan. Namun bagi sebagian pekerja migran Indonesia di Singapura, momen berbuka puasa sering datang di tengah pekerjaan yang belum selesai.

Itulah yang dialami Astuti, pekerja migran asal Cilacap, Jawa Tengah. Selama lebih dari dua puluh tahun bekerja di Singapura, ia menjalani puasa sebagai pekerja migran Singapura dengan berbagai pengalaman yang tidak mudah.

Dalam banyak cerita puasa pekerja migran di Singapura, kisah Astuti menjadi gambaran nyata bagaimana Ramadan dijalani jauh dari rumah, keluarga, dan suasana kampung halaman.

Maghrib Masih Kerja, Pernah Berbuka dengan Air Taman

Astuti mengingat beberapa momen ketika waktu berbuka tiba, tetapi pekerjaannya belum selesai.

Ya sampai saya sering maghrib masih kerja atau di luar bersama majikan. Pernah juga saya membatalkan puasa dengan minum air taman,” kata Astuti kepada redaksi albadarpost.com melalui pesan WhatsApp.

Peristiwa itu terjadi saat ia menemani majikan beraktivitas di luar rumah. Ketika rasa haus tidak tertahankan, ia akhirnya meminum air dari keran taman.

Bagi sebagian orang, situasi tersebut mungkin terdengar berat. Namun bagi Astuti, pengalaman itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup sebagai pekerja migran.

Tidur Hanya Dua Jam, Lalu Sahur dan Bekerja Lagi

Tantangan puasa di negeri orang tidak berhenti pada waktu berbuka yang tidak menentu. Astuti juga harus menjalani jadwal kerja yang panjang setiap hari.

Ia bercerita bahwa pekerjaannya sering selesai sangat larut malam.

Kadang selesai kerja itu jam 11 malam. Setelah mandi salat baru bisa tidur jam 1 dini hari dan jam 3 nya harus bangun sahur. Setelah salat subuh harus mulai kerja lagi,” ujarnya.

Dengan waktu istirahat yang sangat terbatas, Astuti tetap menjalani puasa seperti biasa. Ia mengaku tubuhnya akhirnya terbiasa setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas tersebut.

Puluhan Kali Lebaran Tanpa Pulang Kampung

Tidak hanya Ramadan yang ia jalani jauh dari keluarga. Astuti juga harus melewati banyak Hari Raya Idul Fitri di Singapura.

Selama dua dekade bekerja di sana, ia telah merayakan Lebaran berkali-kali tanpa pulang ke kampung halaman.

Dan saya sudah terbiasa puluhan kali lebaran di sini,” katanya.

Momen Lebaran sering menjadi saat yang paling menguji perasaan para pekerja migran. Ketika keluarga berkumpul di rumah, mereka justru berada jauh di negeri orang.

Rindu Keluarga yang Selalu Datang

Meski sudah terbiasa, Astuti mengaku rasa rindu tetap muncul terlebih tiap Ramadan. Ia sering membayangkan suasana sahur dan berbuka bersama keluarga di rumah.

Namun ia memilih menerima keadaan dengan lapang dada.

Pasti kangen keluarga, tapi ini lah takdir Tuhan yang harus saya jalani,” ujarnya.

Bagi Astuti, bekerja di Singapura adalah jalan hidup yang ia tempuh demi membantu keluarga di kampung halaman.

Ramadan Para Perantau

Cerita Astuti sebenarnya hanya satu dari banyak kisah puasa pekerja migran di Singapura. Banyak pekerja migran Indonesia menjalani Ramadan dengan tantangan yang hampir serupa.

Sebagian harus bekerja hingga malam. Sebagian lagi menjalani puasa dengan waktu istirahat yang sangat terbatas.

Namun di balik semua itu, mereka tetap bertahan karena memiliki harapan untuk masa depan keluarga.

Kebersamaan yang Menguatkan

Walaupun jauh dari keluarga, para pekerja migran sering menemukan kebersamaan baru di negeri orang. Mereka berbagi makanan saat berbuka dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan.

Kadang mereka juga mengadakan buka puasa bersama pada hari libur. Momen sederhana itu sering membuat Ramadan terasa lebih hangat.

Kebersamaan tersebut menjadi cara untuk mengurangi rasa rindu sekaligus menambah semangat menjalani kehidupan di perantauan.


Cerita puasa pekerja migran di Singapura memperlihatkan sisi lain dari kehidupan para perantau. Kisah Astuti menunjukkan bahwa Ramadan di negeri orang sering dipenuhi tantangan, pengorbanan, dan kerinduan.

Namun di balik semua itu, para pekerja migran tetap menjalani puasa dengan kesabaran dan keteguhan hati.

Bagi mereka, setiap hari kerja dan setiap Ramadan yang dijalani jauh dari rumah merupakan bagian dari perjuangan untuk masa depan keluarga. (ARR)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button