Jembatan Cirahong 133 Tahun: Masih Dilalui Kereta, Ini Kisahnya
- account_circle redaktur
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jembatan Cirahong.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Jembatan Cirahong bukan sekadar jembatan tua yang membentang di atas Sungai Citanduy. Lebih dari 130 tahun setelah dibangun, jembatan bersejarah ini masih menjadi bagian dari perjalanan kereta api yang menghubungkan wilayah Tasikmalaya dan Ciamis.
Dibangun pada 1893, Jembatan Cirahong memiliki konstruksi yang tidak biasa. Jalur kereta berada di bagian atas, sedangkan bagian bawah dahulu sekaligus digunakan sebagai akses kendaraan darat.
Kini, fungsi tersebut mengalami perubahan. Sejak 1 September 2021, akses bagian bawah dibatasi untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Sementara itu, jalur rel di bagian atas tetap menjadi bagian penting dari perjalanan kereta api.
Dilansir dari Kereta Api Kita, yang juga tercantum sebagai salah satu rujukan sejarah pada laman heritage PT Kereta Api Indonesia (KAI), perjalanan pembangunan jembatan ini berkaitan erat dengan perkembangan jaringan kereta api di kawasan Priangan.
Dibangun pada 1893, Kerangkanya Hampir 1.000 Ton
Jembatan Cirahong merupakan bagian dari pembangunan jalur kereta api Warungbandrek–Kesugihan yang dikerjakan perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS).
Pembangunan jembatan dimulai pada 19 Agustus 1893. Desain konstruksinya dibuat oleh Hesselink, kepala petugas bangunan pada masa itu, sementara pekerjaan fondasi dan pilar batu berada di bawah pengawasan E.G. Wijers.
Konstruksinya pun tidak sederhana.
Jembatan bertumpu pada empat pilar. Dua pilar bagian tengah menggunakan besi, sedangkan dua pilar lainnya menggunakan konstruksi semen dan batu.
Bahkan, material besi untuk pembangunan sejumlah jembatan pada jalur tersebut didatangkan dari Eropa melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Material kemudian disimpan dan diolah terlebih dahulu di Bandung sebelum dikirim ke lokasi pembangunan.
Bobot konstruksinya juga tidak kecil.
Bangunan atas Jembatan Cirahong memiliki berat sekitar 795 ton, sedangkan dua pilar besinya mencapai sekitar 195 ton. Jika kedua angka tersebut digabungkan, bobot bagian tersebut mencapai sekitar 990 ton.
Pada 29 September 1893, bangunan atas jembatan dinyatakan rampung. Tidak lama kemudian, pada pertengahan Desember 1893, kereta api sudah dapat melintasi jembatan tersebut.
Artinya, dari pemasangan pilar pada Agustus hingga kereta dapat melintas pada Desember, proses pembangunan berlangsung dalam hitungan bulan.
Membentang 202 Meter di Atas Citanduy
Jembatan Cirahong memiliki panjang sekitar 202 meter dan berada di antara petak Stasiun Manonjaya dan Stasiun Ciamis.
Posisinya membuat jembatan ini sekaligus menjadi penghubung wilayah Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis.
Dalam sejarahnya, pembangunan jaringan kereta api di kawasan tersebut bukan hanya berkaitan dengan transportasi penumpang. Jalur kereta juga berfungsi mengangkut berbagai komoditas dari Priangan tenggara serta membawa barang menuju wilayah tersebut. Pada masa kolonial, jalur kereta juga memiliki fungsi pertahanan dan mobilitas militer.
Keunikan Cirahong kemudian muncul dari desain dua tingkatnya.
Bagian atas diperuntukkan bagi jalur kereta api. Sementara itu, bagian bawah dapat digunakan untuk akses darat.
Model seperti ini membuat Jembatan Cirahong memiliki karakter yang berbeda dibandingkan jembatan kereta api biasa.
Bagi masyarakat di dua wilayah yang dipisahkan Citanduy, keberadaan jembatan tersebut juga pernah menjadi akses penting untuk aktivitas sehari-hari.
Sejak 2021, Mobil Tak Lagi Melintas
Perubahan besar terjadi pada akses bagian bawah jembatan.
Pada 2021, KAI bersama sejumlah instansi melakukan pengujian pembebanan terhadap Jembatan Cirahong. Setelah itu, kendaraan roda empat tidak lagi diperbolehkan melintas. Akses bagian bawah dibatasi bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Pembatasan tersebut kemudian ditegaskan kembali oleh KAI Daop 2 Bandung pada Agustus 2026.
KAI menyebut pembatasan sejak 1 September 2021 merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan perjalanan kereta api sekaligus mempertahankan kekuatan dan struktur jembatan.
Dengan demikian, fungsi ganda Jembatan Cirahong masih terlihat, tetapi pola pemanfaatannya sudah berubah dibandingkan masa lalu.
Bagian atas tetap menjadi jalur kereta api. Sementara bagian bawah tidak lagi menjadi jalur kendaraan roda empat.
Usianya 133 Tahun, KAI Masih Melakukan Perawatan
Usia lebih dari satu abad tidak membuat Jembatan Cirahong berhenti menjadi bagian dari infrastruktur perkeretaapian.
Justru pada Agustus 2026, kondisi jembatan kembali mendapat perhatian setelah muncul informasi mengenai beberapa baut pengikat papan yang hilang dan menyebabkan sebagian papan bergeser.
KAI Daop 2 Bandung kemudian melakukan pemeriksaan langsung dan memasang kembali baut pengikat yang hilang. Perbaikan tersebut dilakukan pada 19 Agustus 2026.
Fakta itu menunjukkan satu hal penting: Jembatan Cirahong bukan sekadar peninggalan sejarah yang dipertahankan sebagai monumen.
Ia masih menjadi bagian dari sistem transportasi kereta api.
Laman heritage KAI mencatat bahwa jembatan sepanjang 202 meter tersebut berada di bawah Daerah Operasi 2 Bandung dan dilintasi kereta api jarak jauh.
Karena itu, setiap perawatan terhadap bagian jembatan bukan hanya persoalan mempertahankan bangunan berusia lebih dari satu abad. Ada pula aspek keselamatan perjalanan kereta api yang harus dijaga.
Pada akhirnya, Jembatan Cirahong adalah pertemuan antara sejarah, teknologi, transportasi, dan kehidupan masyarakat Priangan.
Besi-besi yang didatangkan dari Eropa pada akhir abad ke-19 itu masih berdiri di atas Citanduy. Jalurnya masih membawa kereta. Dan setiap kali rangkaian kereta melintas, sejarah panjang Cirahong seolah kembali bergerak.
Cirahong bukan hanya jembatan yang bertahan selama 133 tahun. Ia adalah sejarah yang belum selesai, karena sampai hari ini masih digunakan untuk menghubungkan perjalanan manusia dan wilayah. (Red)
- Penulis: redaktur







