Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » AKP Nurrozi: Dari Keluarga Petani hingga Mengabdi di Sukaratu

AKP Nurrozi: Dari Keluarga Petani hingga Mengabdi di Sukaratu

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA — Jalan pengabdian AKP Nurrozi, S.E., di kepolisian berawal dari keluarga sederhana di Demak, Jawa Tengah. Putra pasangan H. Sarmani dan Hj. Alfiah itu tumbuh sebagai anak kesepuluh dari sepuluh bersaudara dalam keluarga yang dekat dengan kehidupan petani.

Kini, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Kapolsek Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.

Perjalanan menuju posisi tersebut tidak ditempuh dalam waktu singkat. Ada pendidikan kepolisian, sejumlah penugasan, pengalaman di bidang reserse dan pembinaan masyarakat, hingga berbagai amanah jabatan yang kemudian membawanya kembali ke wilayah Tasikmalaya.

Bagi seorang anggota Polri, setiap penugasan membawa tanggung jawab sekaligus pengalaman. Nilai tersebut menjadi bagian dari perjalanan Nurrozi hingga dipercaya memimpin kepolisian di tingkat sektor.

Dari Keluarga Petani hingga Memilih Jalan Kepolisian

AKP Nurrozi lahir di Demak pada 31 Desember 1974. Ia merupakan anak kesepuluh dari sepuluh bersaudara.

Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga petani sebelum kemudian memilih jalan pengabdian melalui Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Nurrozi menempuh pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto, Jawa Tengah, pada 1993–1994.

Kariernya kemudian berkembang melalui sejumlah penugasan di lingkungan kepolisian.

Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Inspektur Polisi pada 2013, ia mendapat penugasan di Polres Banjar.

Di wilayah tersebut, sejumlah posisi pernah dipercayakan kepadanya, antara lain Kanit Reskrim Polsek Kota Banjar, KBO Reskrim, hingga KBO Binmas.

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai sisi tugas kepolisian, mulai dari penanganan persoalan hukum hingga pembinaan masyarakat.

Perjalanan Tugas Membawanya Kembali ke Tasikmalaya

Pada 2018, Nurrozi melanjutkan perjalanan kedinasannya di Polres Tasikmalaya Kota. Ia dipercaya menjabat Kasubbag Humas hingga akhir 2019.

Setelah itu, ia mendapat amanah sebagai Kapolsek Tamansari selama sekitar empat tahun tiga bulan, kemudian Kapolsek Cibeureum selama dua tahun.

Pada 21 Januari 2026, Nurrozi dipercaya menjabat Kasubbag Dal Ops Bag Ops Polres Tasikmalaya Kota.

Tidak lama berselang, pada 12 Mei 2026, ia mendapat penugasan sebagai Kapolsek Sukaratu.

Rangkaian penugasan tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang kini dibawanya ketika menjalankan tugas di wilayah hukum Polsek Sukaratu.

Ketika Jabatan Dipandang sebagai Amanah

Tugas Kapolsek berada cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan tindak pidana. Ada pula persoalan keamanan lingkungan, ketertiban masyarakat, pembinaan generasi muda, komunikasi dengan warga, serta pelayanan kepolisian.

Karena itu, hubungan antara polisi dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan wilayah.

Bagi AKP Nurrozi, jabatan yang dipercayakan kepadanya memiliki tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

“Bagi saya, jabatan adalah amanah dan tanggung jawab. Karena itu harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, terutama dalam memberikan pelayanan, menjaga keamanan dan ketertiban, serta hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujarnya kepada redaksi.

Pandangan tersebut memberikan konteks pada cara seorang pejabat kepolisian memaknai tugasnya.

Dalam khazanah Islam, kepemimpinan juga dipandang sebagai amanah. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang memiliki konsekuensi pertanggungjawaban. Dalam konteks pelayanan publik, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui pelaksanaan tugas, pelayanan kepada masyarakat, serta penggunaan kewenangan sesuai aturan.

Hadir di Tengah Generasi Muda

Salah satu ruang yang menjadi perhatian Nurrozi adalah lingkungan pendidikan.

Ia hadir di sekolah-sekolah dan menjadi pembina upacara. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pesan kepada para pelajar mengenai bahaya narkoba, rokok, bullying, serta perilaku yang dapat mengganggu masa depan generasi muda.

Pendekatan tersebut menempatkan edukasi dan pencegahan sebagai bagian dari pembinaan.

Persoalan kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, maupun perundungan tidak selalu harus menunggu munculnya kasus untuk kemudian ditangani.

Edukasi sejak dini menjadi salah satu cara membangun kesadaran pelajar mengenai disiplin, tanggung jawab, pergaulan, dan konsekuensi dari setiap tindakan.

Di titik tersebut, peran kepolisian bersinggungan dengan lingkungan sekolah dan keluarga.

Keamanan generasi muda pada akhirnya membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, bukan hanya kepolisian.

Nilai Pendidikan dari Lingkungan Keluarga

Nilai pendidikan juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga Nurrozi.

Ia bersama istrinya, Erna Marlina, dikaruniai tiga putri.

Berdasarkan profil yang dipublikasikan LintasPasundanNews, ketiga putrinya menempuh jalur pendidikan dan aktivitas yang berbeda.

Putri pertama menyelesaikan pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat di Universitas Siliwangi dan kemudian mengabdi di bidang pelayanan kesehatan.

Putri kedua menempuh pendidikan hukum sekaligus aktif dalam olahraga basket.

Sementara putri bungsunya masih menjalani pendidikan tingkat sekolah menengah.

Kisah keluarga tersebut menjadi sisi lain dari perjalanan seorang anggota Polri yang sehari-hari menjalankan tugas kedinasan, tetapi tetap memiliki tanggung jawab dalam lingkungan keluarga.

Pendidikan dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga pembentukan disiplin dan tanggung jawab.

Pengabdian melalui Olahraga

Di luar tugas kepolisian, Nurrozi juga terlibat dalam pembinaan olahraga.

Sejak 2023, ia dipercaya menjadi Bendahara Umum Pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Tasikmalaya.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari aktivitasnya di luar kedinasan, khususnya dalam lingkungan olahraga.

Bagi generasi muda, olahraga menyediakan ruang untuk belajar mengenai disiplin, sportivitas, kerja keras, dan tanggung jawab.

Karena itu, pembinaan olahraga juga dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang positif bagi anak muda.

Dari Demak, Kini Mengemban Amanah di Sukaratu

Perjalanan AKP Nurrozi bermula dari keluarga petani di Demak.

Dari sana, ia menempuh pendidikan kepolisian, menjalani berbagai penugasan, dan mendapatkan pengalaman di sejumlah fungsi kepolisian hingga akhirnya dipercaya menjadi Kapolsek Sukaratu.

Kini, tantangan tersebut berada di hadapannya: menjalankan tugas kepolisian sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat di wilayah Sukaratu.

Kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak selalu berbentuk tindakan besar.

Kadang ia hadir ketika warga membutuhkan pelayanan, ketika sekolah membutuhkan edukasi, ketika lingkungan membutuhkan pengamanan, atau ketika masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan.

Di situlah makna pengabdian menjadi dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif Islam, amanah kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya menyangkut hubungan dengan manusia, tetapi juga pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Dari keluarga petani di Demak hingga dipercaya menjadi Kapolsek Sukaratu, perjalanan Nurrozi menjadi potret tentang panjangnya jalan menuju sebuah amanah.

Dan di tengah masyarakat, pengabdian tidak hanya terlihat dari jabatan yang diemban, tetapi juga dari bagaimana kewenangan tersebut dijalankan sesuai tugas, aturan, dan tanggung jawab kepada masyarakat. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less