Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Ibnu Athaillah: Bahaya Ujub saat Merasa Paling Saleh

Ibnu Athaillah: Bahaya Ujub saat Merasa Paling Saleh

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH — Rajin beribadah tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari penyakit hati. Salat, zikir, sedekah, dan menghadiri majelis ilmu merupakan amal yang baik. Namun, ketika semua itu membuat seseorang merasa lebih suci daripada orang lain, ada sesuatu yang perlu diperiksa: apakah ketaatan telah menumbuhkan kerendahan hati atau justru melahirkan ujub?

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari melalui kitab Al-Hikam mengingatkan bahwa keadaan hati tidak boleh diabaikan dalam perjalanan spiritual. Seseorang bisa menyesali dosa hingga terdorong memperbaiki diri. Sebaliknya, orang yang tekun beribadah bisa terjebak dalam kebanggaan terhadap amalnya sendiri.

Persoalannya bukan memilih antara berbuat dosa dan menjalankan ketaatan. Seorang muslim tetap harus berusaha menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya. Yang perlu diwaspadai adalah ketika amal menjadi alasan untuk merendahkan orang lain atau merasa diri paling dekat dengan Allah.

Hikmah Ibnu Athaillah tentang Dosa dan Ketaatan

Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah menulis:

مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

Artinya:

“Maksiat yang melahirkan rasa rendah diri dan kebutuhan kepada Allah lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan.”

Hikmah ini menyoroti akibat suatu perbuatan terhadap keadaan batin. Dosa yang disesali dapat mendorong seseorang mengakui kelemahannya, memohon ampun, dan memperbaiki perilaku. Sebaliknya, ketaatan yang disertai kesombongan dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan nasihat atau koreksi.

Namun, ungkapan tersebut tidak berarti dosa lebih baik daripada ibadah secara mutlak. Dosa tetap harus ditinggalkan, sedangkan ketaatan tetap harus dijalankan. Pesan Ibnu Athaillah terletak pada peringatan agar manusia tidak membiarkan kesalahan maupun amalnya menjauhkan hati dari kerendahan diri di hadapan Allah.

Pembaca yang ingin memahami pesan lain dari Ibnu Athaillah tentang sikap terhadap kesalahan dapat membaca artikel AlbadarPost, “Dosa Kecil Jangan Diremehkan, Ini Peringatan Ibnu Athaillah”.

Apa Perbedaan Ujub dan Rasa Syukur atas Amal?

Ujub adalah kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri atau amal yang dilakukannya. Dalam konteks keagamaan, ujub dapat muncul ketika seseorang terlalu mengagumi ibadahnya hingga melupakan keterbatasan diri dan kebutuhan kepada pertolongan Allah.

Rasa syukur berbeda dari sikap tersebut. Seseorang boleh merasa bersyukur karena mampu menjalankan ibadah secara konsisten. Ia juga boleh berusaha meningkatkan kualitas amal dan menjadikan pencapaiannya sebagai dorongan untuk terus berbuat baik.

Masalah muncul ketika rasa syukur berubah menjadi anggapan bahwa dirinya lebih mulia daripada orang lain.

Misalnya, seseorang terbiasa menjalankan salat sunah. Kebiasaan itu merupakan hal baik. Namun, jika ia mulai menganggap orang yang belum melakukannya sebagai manusia yang lebih rendah, ibadah tersebut telah dijadikan dasar untuk menilai orang lain secara berlebihan.

Contoh lain terjadi ketika seseorang aktif memberikan nasihat agama, tetapi menolak kritik karena merasa lebih memahami ajaran Islam. Ia mungkin memiliki pengetahuan yang luas, tetapi pengetahuan itu seharusnya mendorong sikap rendah hati, bukan membuatnya kebal terhadap koreksi.

Karena itu, muhasabah tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak amal yang telah dilakukan. Seseorang juga perlu memeriksa bagaimana amal tersebut memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan memperlakukan orang lain.

Al-Qur’an Melarang Manusia Menganggap Dirinya Suci

Al-Qur’an memberikan peringatan agar manusia tidak menganggap dirinya telah mencapai kesucian yang membuatnya berhak merasa paling baik.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Najm ayat 32:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Artinya, “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menilai keadaan dirinya sendiri. Seseorang mungkin melihat amal yang telah dilakukan, tetapi tidak memiliki pengetahuan mutlak tentang seluruh keadaan batin dan penerimaan amalnya di sisi Allah.

Larangan menganggap diri suci bukan berarti manusia tidak boleh mengevaluasi perilaku atau mengakui pencapaian yang nyata. Intinya adalah menghindari klaim kesucian dan kebanggaan yang berlebihan, terlebih jika hal itu digunakan untuk merendahkan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang boleh menasihati sesama ketika diperlukan. Namun, nasihat seharusnya disampaikan dengan niat memperbaiki, bukan sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih saleh.

Hadis dari Abdullah bin Mas’ud RA. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”. Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim 91a.

Sikap tersebut penting karena penampilan keagamaan seseorang tidak memberikan dasar yang cukup untuk memastikan kedudukan batin orang lain di hadapan Allah.

Jangan Menghakimi Orang dari Masa Lalunya

Bahaya ujub tidak hanya berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Penyakit hati ini juga dapat memengaruhi cara ia memperlakukan orang lain.

Seseorang yang merasa telah lama menjaga ibadah mungkin tergoda meremehkan orang yang baru mulai memperbaiki diri. Orang yang memiliki masa lalu penuh kesalahan bisa terus dipandang buruk meskipun telah berusaha berubah.

Padahal, manusia tidak mengetahui bagaimana perjalanan hidup seseorang akan berakhir. Orang yang hari ini masih berjuang meninggalkan kebiasaan buruk dapat memperbaiki dirinya. Sebaliknya, seseorang yang saat ini merasa memiliki banyak amal tetap perlu menjaga hati dan perilakunya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53:

لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

Artinya, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Ayat tersebut merupakan bagian dari seruan agar manusia tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Pesannya bukan memberikan izin untuk terus melakukan dosa, melainkan membuka harapan bagi orang yang ingin kembali dan memperbaiki diri.

Karena itu, menasihati seseorang seharusnya tidak berubah menjadi penghinaan. Kesalahan tetap perlu disebut sebagai kesalahan jika memang demikian, tetapi orang yang melakukannya tidak boleh dianggap kehilangan kesempatan untuk berubah.

Sebaliknya, harapan terhadap rahmat Allah juga tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Jika kesalahan merugikan orang lain, upaya memperbaiki akibatnya tetap diperlukan.

Ketaatan Seharusnya Melahirkan Kerendahan Hati

Bagaimana cara menjaga diri agar tidak terjebak dalam ujub?

Pertama, ingat bahwa kemampuan menjalankan ibadah patut disyukuri. Jangan menjadikan amal sebagai alasan untuk membangun perasaan lebih tinggi daripada orang lain.

Kedua, tetap terbuka terhadap nasihat. Pengetahuan agama dan pengalaman beribadah tidak membuat seseorang selalu benar dalam setiap perkataan atau tindakannya.

Ketiga, hindari kebiasaan membandingkan kesalehan. Setiap orang memiliki keadaan, kesempatan, dan perjuangan yang berbeda. Perbandingan yang tidak tepat justru dapat menumbuhkan kesombongan atau prasangka.

Keempat, lakukan muhasabah secara jujur. Selain bertanya apakah kewajiban telah dijalankan, periksa pula apakah ucapan dan tindakan masih menyakiti orang lain, apakah nasihat disampaikan dengan baik, dan apakah kritik dapat diterima tanpa kemarahan yang berlebihan.

Kelima, jangan berhenti memperbaiki diri. Kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyerah, sementara keberhasilan dalam beribadah bukan alasan untuk merasa telah mencapai kesempurnaan.

Dalam pembahasan tasawuf, kerendahan hati bukan berarti menganggap diri tidak berharga. Seseorang tetap boleh menghargai dirinya, mempertahankan haknya, dan berusaha menjadi lebih baik. Yang perlu dihindari adalah sikap merasa paling suci dan menggunakan penilaian itu untuk merendahkan orang lain.

Pembaca juga dapat menyimak artikel AlbadarPost tentang “Hikmah Ibnu Athaillah: Ketaatan, Keikhlasan, dan Taubat” untuk melihat pembahasan yang lebih luas mengenai hubungan antara amal, keikhlasan, dan pertobatan.

Jangan Sampai Amal Menjadi Alasan untuk Sombong

Hikmah Ibnu Athaillah mengajak manusia melihat ketaatan dan kesalahan dengan kesadaran yang seimbang. Dosa harus ditinggalkan dan disesali, sedangkan ibadah perlu dijalankan dengan sungguh-sungguh. Keduanya tidak semestinya dijadikan alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.

Orang yang pernah berbuat salah perlu berusaha memperbaiki diri tanpa kehilangan harapan terhadap rahmat Allah. Sementara itu, orang yang tekun beribadah perlu menjaga niat dan perilakunya agar amal tidak berubah menjadi sumber kesombongan.

Pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan klaim bahwa dirinya paling saleh. Ia membutuhkan kesungguhan untuk terus belajar, memperbaiki akhlak, menerima nasihat, dan menjalankan ketaatan dengan penuh tanggung jawab.

Ibadah seharusnya membuat seseorang semakin sadar akan keterbatasan dirinya, bukan semakin sibuk mencari kekurangan orang lain. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less