Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Silaturahmi dalam Islam: Haruskah Selalu Mengalah kepada Keluarga?

Silaturahmi dalam Islam: Haruskah Selalu Mengalah kepada Keluarga?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada nasihat yang terdengar bijak, tetapi bisa terasa menyakitkan bagi orang yang terus-menerus terluka: namanya keluarga, jadi harus mengalah.

Kalimat itu sering muncul ketika saudara berselisih, orang tua dan anak berbeda pendapat, atau kerabat berulang kali melanggar batas. Orang yang tersakiti diminta bersabar, sementara perilaku yang menyakitinya seolah tidak perlu diperbaiki.

Padahal, silaturahmi dalam Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan, bukan membenarkan semua perilaku anggota keluarga. Menjaga hubungan tetap penting, tetapi menjaga keselamatan, martabat, dan hak diri sendiri juga tidak boleh diabaikan.

Dilemanya bukan perkara sederhana. Menegur dianggap tidak sopan. Menolak permintaan disebut tidak peduli. Mengambil jarak dicap memutus silaturahmi. Akibatnya, seseorang bisa terjebak dalam hubungan yang melelahkan karena takut dinilai buruk oleh orang-orang di sekitarnya.

Lalu, bagaimana menjaga hubungan keluarga tanpa harus terus mengalah?

Silaturahmi Bukan Pembenaran atas Perilaku Buruk

Islam menempatkan hubungan kekerabatan sebagai perkara penting. Dalam Surah An-Nisa ayat 1:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ

Allah memerintahkan manusia untuk bertakwa kepada-Nya dan memelihara hubungan kekeluargaan.

Ayat tersebut menegaskan pentingnya menjaga ikatan keluarga. Namun, menjaga ikatan bukan berarti menyetujui setiap ucapan, keputusan, atau tindakan kerabat.

Seorang anak, misalnya, dapat berbicara dengan santun kepada orang tua sambil menjelaskan bahwa ia tidak sanggup memenuhi permintaan tertentu. Seorang saudara juga dapat tetap menjalin komunikasi tanpa terus memberikan uang ketika permintaan tersebut mengganggu kebutuhan dasar keluarganya sendiri.

Begitu pula ketika kerabat melontarkan hinaan berulang kali. Kita dapat menyampaikan keberatan dengan bahasa yang baik dan menghentikan percakapan jika penghinaan terus berlangsung.

Menghormati seseorang tidak berarti harus membenarkan semua tindakannya. Kesantunan tetap perlu dijaga, tetapi kesantunan tidak menghapus kebutuhan untuk membedakan perilaku yang baik dan yang merugikan.

Apa Makna Hadis tentang Menyambung Silaturahmi?

Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari nomor 5991, Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menjelaskan:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

bahwa orang yang benar-benar menyambung silaturahmi bukan sekadar membalas kebaikan kerabat. Ia tetap menyambung hubungan ketika kerabatnya memutus hubungan dengannya.

Makna hadis ini cukup jelas: silaturahmi yang utama tidak hanya bergantung pada balasan. Seseorang berusaha menjaga hubungan meskipun pihak lain tidak melakukan hal yang sama.

Namun, kita perlu berhati-hati ketika menerapkan hadis tersebut pada persoalan keluarga yang kompleks. Hadis ini berbicara tentang keutamaan menyambung kekerabatan; hadis tersebut tidak secara khusus membahas setiap bentuk kekerasan, ancaman, atau batas pribadi.

Karena itu, pesan untuk tetap berbuat baik tidak seharusnya dipelintir menjadi tuntutan agar seseorang selalu menuruti permintaan kerabat atau terus berada dalam situasi berbahaya. Menyambung hubungan dan memberikan akses tanpa batas merupakan dua hal berbeda.

Dalam keadaan tertentu, komunikasi melalui pesan, telepon, kunjungan yang terukur, atau pertemuan dengan pendamping tepercaya dapat membantu menjaga hubungan sekaligus mengurangi konflik.

Cara Menetapkan Batas Tanpa Memperkeruh Hubungan

Batas pribadi bukan alat untuk menghukum keluarga. Batas membantu kita menjelaskan perilaku yang tidak dapat diterima dan langkah yang akan diambil jika perilaku tersebut berulang.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Pertama, sampaikan keberatan dengan jelas. Jelaskan perilaku yang mengganggu dan perubahan yang diharapkan. Misalnya, “Saya ingin tetap berhubungan baik, tetapi saya tidak bersedia melanjutkan percakapan jika ada hinaan.”

Kedua, bedakan kesalahan sesaat dan pola yang berulang. Perselisihan biasa mungkin selesai melalui dialog dan permintaan maaf. Sebaliknya, perilaku yang terus berulang membutuhkan batas yang lebih tegas.

Ketiga, sesuaikan bantuan dengan kemampuan. Kita boleh membantu kerabat, tetapi tidak harus mengorbankan kebutuhan pokok atau mengambil utang di luar kemampuan demi memenuhi setiap permintaan. Menolak secara santun lebih baik daripada menyanggupi sesuatu yang akhirnya merugikan banyak pihak.

Keempat, pilih cara berkomunikasi yang lebih aman. Jika pertemuan langsung selalu memicu pertengkaran, komunikasi tertulis atau bantuan mediator yang adil dapat menjadi pilihan.

Kelima, jangan menjadikan batas sebagai alat balas dendam. Hindari mempermalukan kerabat, menyebarkan aib, atau menghasut anggota keluarga lain. Fokuslah pada perilaku yang perlu dihentikan, bukan pada upaya membuat seseorang menderita.

Untuk menghadapi konflik dengan lebih tenang, kita juga perlu memahami makna qanaah dalam Islam. Qanaah mengajarkan sikap menerima karunia Allah dengan lapang, tetapi bukan alasan untuk pasrah terhadap perlakuan buruk atau berhenti memperbaiki keadaan.

Kapan Mengambil Jarak Menjadi Pertimbangan?

Tidak setiap pertengkaran mengharuskan seseorang menjauh. Jika konflik masih dapat diselesaikan, dialog, permintaan maaf, dan perubahan perilaku patut mendapat kesempatan.

Namun, situasinya berbeda ketika seseorang menghadapi kekerasan, ancaman, pemaksaan, atau tindakan berulang yang membahayakan dirinya. Dalam kondisi seperti itu, keselamatan harus menjadi pertimbangan utama.

Mengambil jarak demi mencegah bahaya tidak otomatis berarti membenci keluarga atau berniat memutus seluruh hubungan kekerabatan. Meski demikian, penilaian agama atas situasi tertentu perlu mempertimbangkan konteks, kemampuan, dan tingkat bahayanya. Untuk persoalan yang rumit, mintalah nasihat ulama atau pembimbing agama yang kompeten dan memahami situasi secara utuh.

Jika terdapat ancaman atau kekerasan, jangan menghadapi keadaan tersebut sendirian. Hubungi orang tepercaya atau layanan bantuan yang sesuai dengan risiko yang dihadapi.

Kita tidak perlu menunggu keadaan semakin buruk hanya untuk membuktikan bahwa kita sudah cukup sabar.

Menjaga Silaturahmi Tanpa Kehilangan Harga Diri

Memaafkan, menjaga komunikasi, dan membuka peluang perdamaian merupakan pilihan yang baik ketika memungkinkan. Namun, memaafkan tidak selalu berarti kepercayaan harus pulih seketika. Kepercayaan membutuhkan waktu, tanggung jawab, dan perubahan perilaku yang nyata.

Kita dapat tetap mendoakan kerabat, berbicara dengan santun, dan menghindari balas dendam sambil mempertahankan batas yang sehat. Kita juga dapat berharap hubungan membaik tanpa berpura-pura bahwa masalah tidak pernah terjadi.

Pada akhirnya, keluarga memang layak diperjuangkan. Akan tetapi, memperjuangkan hubungan bukan berarti membiarkan perilaku yang merusak terus berlangsung tanpa koreksi.

Sebab, menjaga silaturahmi bukan berarti harus terus terluka demi mempertahankan nama baik keluarga. Hubungan boleh tetap dijaga, tetapi perilaku yang menyakiti tidak harus terus diberi tempat. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less