Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Rezeki dalam Islam: Saat Penghasilan Tak Cukup, Harus Bagaimana?

Rezeki dalam Islam: Saat Penghasilan Tak Cukup, Harus Bagaimana?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 9
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Setiap akhir bulan, ada orang yang menghitung keuntungan usaha. Ada yang merencanakan liburan keluarga. Ada pula yang menghitung sisa uang di dompet, lalu mencoba memastikan apakah jumlah itu cukup untuk membeli beras, membayar listrik, dan memenuhi kebutuhan anak sampai tanggal gajian berikutnya.

Pada saat yang sama, layar ponsel menyuguhkan kehidupan yang tampaknya jauh lebih mudah. Seseorang baru membeli mobil. Orang lain memamerkan rumah baru. Ada pula yang mengunggah foto liburan dengan senyum lebar.

Kita melihat semuanya sambil menatap saldo rekening sendiri.

Lalu muncul pertanyaan yang sulit diakui: Mengapa rezeki orang lain terlihat begitu mudah, sedangkan hidup saya terasa berat?

Pertanyaan itu manusiawi. Namun, jika terus dipelihara, perbandingan bisa mengubah rasa ingin maju menjadi kecemasan, bahkan membuat kita merasa gagal hanya karena belum memiliki apa yang dimiliki orang lain.

Rezeki dalam Islam bukan sekadar persoalan berapa banyak uang yang terkumpul, melainkan juga bagaimana manusia berikhtiar, mengelola hartanya, dan menjaga hati ketika menghadapi keterbatasan.

Ketika Media Sosial Menjadi Etalase Kemakmuran

Media sosial membuat kehidupan orang lain terasa dekat. Kita bisa melihat rumah, kendaraan, pakaian, hingga perjalanan seseorang tanpa perlu mengenalnya secara mendalam.

Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan sendiri yang lengkap dengan persoalannya dengan kehidupan orang lain yang hanya tampil melalui beberapa foto.

Kita mengetahui tagihan listrik yang belum dibayar, biaya sekolah anak, dan cicilan yang jatuh tempo. Sebaliknya, kita tidak selalu mengetahui beban keuangan orang yang sedang memamerkan mobil barunya.

Di sinilah ironi itu muncul: kita merasa tertinggal dalam perlombaan yang garis awal, beban, dan tujuan pesertanya bahkan tidak kita ketahui.

Lebih ironis lagi, terkadang kita membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tidak ingin terlihat kalah. Barang yang semula menjadi kebutuhan berubah menjadi alat pembuktian diri.

Padahal, media sosial tidak menyediakan laporan keuangan di bawah setiap unggahan. Kita bisa melihat kemewahan seseorang, tetapi tidak otomatis mengetahui bagaimana ia memperolehnya, berapa kewajibannya, atau apakah kondisi ekonominya benar-benar sebaik yang terlihat.

Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kehidupan orang lain lebih mudah. Kita hanya melihat sebagian kecil dari cerita mereka.

Rezeki dalam Islam: Antara Ikhtiar dan Penerimaan

Allah berfirman dalam QS Al-Isra ayat 30:

اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًاࣖ

bahwa Dia melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki.

Ayat ini mengingatkan bahwa keadaan ekonomi manusia tidak selalu sama. Ada yang memperoleh penghasilan besar, ada yang pendapatannya terbatas, dan ada pula yang harus menghadapi perubahan kondisi hidup di luar perkiraannya.

Namun, keyakinan terhadap ketentuan Allah tidak berarti kita harus diam ketika menghadapi kesulitan.

Jika penghasilan tidak mencukupi kebutuhan keluarga, kita tetap perlu mengevaluasi pengeluaran, mencari peluang kerja, meningkatkan keterampilan, atau mengembangkan usaha sesuai kemampuan.

Allah juga berfirman dalam QS An-Najm ayat 39 bahwa manusia memperoleh apa yang telah diusahakannya. Ayat tersebut menegaskan pentingnya usaha, tetapi tidak berarti setiap orang pasti memperoleh hasil materi yang sama meskipun telah berusaha dengan cara serupa.

Sebab, kehidupan memiliki banyak faktor yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Oleh karena itu, ikhtiar dan tawakal perlu berjalan beriringan. Kita berusaha memperbaiki keadaan tanpa menganggap bahwa seluruh nilai diri ditentukan oleh besarnya penghasilan.

Penghasilan Terbatas, Jangan Biarkan Gengsi Mengatur Uang

Rasa cemas terhadap kondisi ekonomi tidak cukup diatasi dengan nasihat agar bersabar. Ketika kebutuhan rumah tangga menumpuk, seseorang juga membutuhkan langkah yang konkret.

Pertama, bedakan kebutuhan dengan keinginan.

Catat pengeluaran bulanan, mulai dari makanan, tempat tinggal, listrik, transportasi, pendidikan, hingga kesehatan. Setelah itu, periksa pengeluaran yang sebenarnya dapat ditunda.

Tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Jika telepon genggam masih berfungsi dengan baik, misalnya, membeli perangkat baru demi mengikuti tren mungkin bukan keputusan yang bijak ketika kebutuhan pokok belum aman.

Kedua, waspadai utang konsumtif.

Cicilan bisa membuat barang terasa lebih terjangkau karena pembayarannya dibagi dalam beberapa periode. Namun, cicilan tetap mengurangi pendapatan yang tersedia pada bulan-bulan berikutnya.

Karena itu, jangan mengambil utang baru hanya demi mempertahankan penampilan. Jika cicilan yang ada sudah membebani keuangan, susun prioritas pembayaran dan hindari menambah kewajiban sebelum kondisi memungkinkan.

Ketiga, cari peluang memperbaiki pemasukan.

Peningkatan penghasilan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mempelajari keterampilan yang dibutuhkan pasar, mencari pekerjaan tambahan yang realistis, atau mengembangkan usaha kecil berdasarkan kemampuan modal.

Tentu saja, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Seseorang yang harus merawat anggota keluarga atau menghadapi keterbatasan pekerjaan mungkin membutuhkan strategi berbeda.

Yang penting, evaluasi kondisi keuangan berdasarkan kenyataan, bukan berdasarkan tuntutan untuk menyamai gaya hidup orang lain.

Sebab, uang yang digunakan untuk membuktikan bahwa kita mampu belum tentu membuat kita benar-benar lebih mampu.

Qanaah Bukan Alasan untuk Menyerah

Dalam Islam, qanaah berkaitan dengan sikap merasa cukup dan tidak membiarkan ketamakan menguasai hati. Akan tetapi, qanaah bukan berarti seseorang harus berhenti berusaha memperbaiki kehidupannya.

Kita tetap boleh memiliki cita-cita untuk meningkatkan penghasilan, membeli rumah, membiayai pendidikan anak, atau membangun usaha yang lebih besar.

Yang perlu dijaga ialah cara mencapai tujuan tersebut. Jangan sampai keinginan untuk terlihat berhasil mendorong kita mengambil keputusan yang membahayakan keuangan keluarga atau menghalalkan cara yang tidak benar.

Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan sikap ghibthah, yakni menginginkan kebaikan serupa tanpa berharap nikmat orang lain hilang. Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari, hal ini antara lain dikaitkan dengan orang yang menggunakan hartanya di jalan yang benar dan orang yang mengamalkan serta mengajarkan ilmu.

Dengan demikian, keberhasilan orang lain dapat menjadi sumber inspirasi, bukan alasan untuk membenci keadaan sendiri.

Kita boleh belajar dari orang yang berhasil membangun usaha. Kita boleh mencari tahu bagaimana seseorang mengembangkan keterampilan atau mengelola keuangannya. Namun, kita tidak perlu mengubah setiap pencapaian orang lain menjadi ukuran kegagalan pribadi.

Jika ingin memahami lebih jauh tentang sikap merasa cukup, baca juga artikel AlbadarPost tentang makna qanaah dalam Islam.

Jangan Sampai Sibuk Mengejar Kehidupan Orang Lain

Pada akhirnya, setiap orang memiliki kebutuhan, tanggungan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, kehidupan tidak selalu dapat diukur dengan satu standar berupa harta, jabatan, atau barang yang dimiliki.

Jika penghasilan belum mencukupi, akui keadaan tersebut tanpa merendahkan diri. Periksa keuangan, tentukan prioritas, cari peluang yang masuk akal, dan terus perbaiki ikhtiar.

Jika melihat orang lain lebih berhasil, belajarlah dari hal baik yang bisa diteladani. Tidak perlu membenci mereka, tetapi juga tidak perlu memaksakan diri mengikuti gaya hidupnya.

Kita boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun, jangan sampai keinginan itu membuat kita mengorbankan ketenangan keluarga, menumpuk utang demi gengsi, atau lupa mensyukuri hal-hal yang masih kita miliki.

Sebab, kita tidak harus terlihat kaya di mata orang lain untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dan kita tidak perlu mengalahkan siapa pun untuk membuktikan bahwa ikhtiar kita bernilai. (Red).

  • Penulis: redaktur
expand_less