Ilmu dalam Islam: Banyak Pengetahuan, Mengapa Akhlak Tak Berubah?
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang membaca buku keislaman dengan khusyuk di ruang belajar, menggambarkan refleksi tentang ilmu dan akhlak dalam Islam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Ada orang yang rela begadang demi gelar, menghabiskan tabungan demi sertifikat, dan berdebat panjang demi membuktikan dirinya paling pintar. Namun, ketika mendapat kritik sederhana, emosinya justru lebih cepat naik daripada pemahamannya.
Ironisnya, semakin banyak informasi yang dikumpulkan, semakin mudah pula seseorang merasa paling benar. Ayat dan hadis bisa dikutip dengan lancar, istilah agama terdengar meyakinkan, tetapi sikap terhadap sesama belum tentu ikut membaik.
Di sinilah pertanyaan tentang ilmu dalam Islam menjadi penting: apakah pengetahuan yang kita cari benar-benar mengubah cara kita hidup, atau hanya menambah bahan untuk memenangkan perdebatan?
Persoalannya bukan pada gelar, sekolah, atau banyaknya buku yang dibaca. Semua itu dapat menjadi jalan menuju kemajuan. Persoalannya muncul ketika ilmu berhenti sebagai kebanggaan pribadi dan tidak berlanjut menjadi amal, tanggung jawab, serta akhlak yang lebih baik.
Gelar Bertambah, Kebijaksanaan Belum Tentu Menyusul
Kita hidup pada masa ketika pengetahuan dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan layar. Buku digital tersedia, ceramah dapat diputar kapan saja, dan berbagai persoalan bisa dicari jawabannya dalam hitungan detik.
Akses tersebut merupakan kemudahan yang patut disyukuri. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang bijaksana.
Mengetahui banyak hal berbeda dengan memahami persoalan secara utuh. Menghafal kalimat bijak juga tidak sama dengan mempraktikkan kebijaksanaan ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Kita mungkin pernah melihat orang berbicara panjang tentang kesantunan, tetapi merendahkan orang yang berbeda pandangan. Ada pula yang mengutip ajaran tentang kejujuran, tetapi merasa tidak masalah memanipulasi fakta ketika kepentingannya terancam.
Tentu, contoh tersebut tidak dapat digunakan untuk menghakimi semua orang berpendidikan atau semua orang yang aktif mempelajari agama. Namun, fenomena itu cukup menjadi bahan evaluasi: jangan-jangan kita lebih sibuk merawat citra sebagai orang berilmu daripada memperbaiki perilaku sendiri.
Ilmu seharusnya membantu manusia mengenali kekurangan, bukan sekadar menemukan kesalahan orang lain.
Al-Qur’an Mengangkat Derajat Orang Berilmu
Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang tinggi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
Artinya: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ayat ini menunjukkan kemuliaan iman dan ilmu. Akan tetapi, keutamaan tersebut tidak semestinya dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Justru, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menggunakan pengetahuan itu secara benar. Orang yang memahami suatu persoalan semestinya lebih berhati-hati ketika berbicara, lebih terbuka terhadap koreksi, dan tidak tergesa-gesa menjatuhkan penilaian.
Al-Qur’an juga mengajarkan doa yang sangat ringkas, tetapi memiliki makna mendalam. Dalam Surah Taha ayat 114, Allah mengajarkan Nabi Muhammad SAW untuk berdoa:
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Rabbi zidnī ‘ilmā.
Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Doa tersebut mengingatkan bahwa pencarian ilmu tidak semestinya berhenti setelah seseorang memperoleh ijazah, jabatan, atau pengakuan masyarakat. Selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki pemahaman, dan mengakui bahwa pengetahuan manusia memiliki batas.
Orang yang sungguh-sungguh belajar tidak harus selalu menang dalam perdebatan. Terkadang, kematangan justru terlihat ketika seseorang berani berkata, “Saya belum tahu,” atau bersedia mengoreksi pendapatnya setelah menemukan bukti yang lebih kuat.
Mengejar Dunia dan Akhirat Memerlukan Ilmu
Ada ungkapan populer yang berbunyi,
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Ungkapan tersebut kurang lebih bermakna bahwa siapa pun yang menginginkan dunia, akhirat, atau keduanya perlu menempuh jalan ilmu.
Namun, ungkapan ini perlu ditempatkan secara tepat. Ia populer sebagai hikmah, tetapi tidak semestinya langsung dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadis sahih tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pesan umumnya tetap dapat direnungkan. Kehidupan dunia membutuhkan ilmu. Pedagang perlu memahami transaksi yang jujur, tenaga kesehatan membutuhkan kompetensi, dan pemimpin harus mampu mempertimbangkan kebijakan beserta dampaknya terhadap masyarakat.
Begitu pula dalam urusan akhirat. Seorang Muslim perlu mempelajari dasar-dasar ibadah, memahami halal dan haram, serta mengetahui bagaimana menjalankan ajaran agama berdasarkan sumber yang dapat dipercaya.
Rasulullah SAW bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim nomor 2699.
Dengan demikian, mencari ilmu bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh penghasilan atau status sosial. Ilmu juga dapat menjadi jalan untuk memperbaiki ibadah dan menjalankan tanggung jawab kepada sesama.
Meski demikian, pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada pengumpulan informasi. Niat, ketepatan pemahaman, dan penerapannya tetap perlu diperhatikan.
Ketika Ilmu Berubah Menjadi Alat untuk Merasa Paling Benar
Di ruang digital, pengetahuan terkadang diperlakukan seperti aksesori untuk membangun citra. Seseorang menampilkan kutipan, istilah asing, atau referensi keagamaan agar terlihat lebih unggul daripada orang lain.
Tidak ada yang salah dengan berbagi ilmu. Media sosial bahkan dapat menjadi sarana menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat. Masalahnya muncul ketika tujuan utamanya bergeser dari memberi pemahaman menjadi mencari pengakuan.
Jumlah tanda suka tidak membuktikan kebenaran suatu pendapat. Banyaknya pengikut juga tidak otomatis menunjukkan kedalaman ilmu. Sebaliknya, pendapat yang disampaikan dengan sederhana belum tentu keliru hanya karena pembicaranya tidak terkenal.
Lebih berbahaya lagi apabila dalil digunakan tanpa memahami konteksnya. Potongan ayat atau hadis yang dibagikan tanpa penjelasan memadai dapat membuat orang salah memahami suatu persoalan. Karena itu, rujukan keagamaan perlu diperiksa, konteksnya perlu dipahami, dan persoalan yang rumit sebaiknya ditanyakan kepada orang yang memiliki kompetensi.
Satire paling tajam sebenarnya bukan ditujukan kepada orang lain, melainkan kepada kebiasaan kita sendiri: ingin pendapat didengar, tetapi enggan mendengarkan; ingin dihormati sebagai orang berilmu, tetapi sulit menerima koreksi.
Jika ilmu justru membuat seseorang semakin gemar merendahkan, ada sesuatu yang patut diperiksa dalam cara ilmu itu dipahami atau digunakan.
Tentu, kita tidak boleh gegabah menilai kualitas iman seseorang hanya dari satu perilaku. Namun, setiap orang tetap dapat menjadikan akhlak sebagai salah satu bahan evaluasi atas manfaat pengetahuan yang dimilikinya.
Ukuran Ilmu Bukan Hanya Apa yang Kita Ketahui
Lalu, bagaimana menilai apakah ilmu membawa perubahan?
Mulailah dari pertanyaan sederhana. Apakah pengetahuan membuat kita lebih jujur ketika tidak ada yang mengawasi? Apakah pemahaman agama membuat kita lebih berhati-hati dalam menilai orang lain? Apakah keahlian yang kita miliki membantu pekerjaan menjadi lebih bertanggung jawab dan bermanfaat?
Pertanyaan tersebut tidak berarti bahwa orang berilmu harus selalu sempurna. Manusia tetap memiliki kekurangan, bisa keliru, dan perlu terus belajar. Justru karena itulah proses menuntut ilmu harus berjalan bersama kesediaan memperbaiki diri.
Ilmu yang bermanfaat tidak selalu menghasilkan perubahan dramatis dalam sehari. Kadang-kadang, hasilnya terlihat melalui hal-hal sederhana: lebih jujur dalam bekerja, lebih adil saat mengambil keputusan, tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, dan berani mengakui kesalahan.
Pada akhirnya, mengejar dunia bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dengan persiapan akhirat. Persoalannya adalah bagaimana ilmu diperoleh, untuk tujuan apa ilmu digunakan, dan apakah penggunaannya membawa manfaat atau justru menimbulkan kerugian.
Gelar dapat membuka pintu kesempatan. Pengetahuan dapat meningkatkan kemampuan. Namun, keduanya tetap membutuhkan tanggung jawab moral agar tidak berhenti menjadi kebanggaan pribadi.
Maka, sebelum sibuk membuktikan bahwa kita paling pintar, ada baiknya kita memeriksa satu hal yang lebih dekat: apakah ilmu yang kita miliki sudah membuat kita lebih jujur, lebih adil, dan lebih bijaksana?
Jangan sampai pengetahuan terus bertambah, tetapi kesediaan memperbaiki diri justru tertinggal. Sebab, ilmu bukan sekadar sesuatu yang kita banggakan di hadapan manusia, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. (Red)
- Penulis: redaktur






