Bukan Jabatan, Ini Warisan Sejati Seorang Kades Sukandar
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi ribuan warga mengiringi sebuah prosesi pemakaman.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ribuan warga memenuhi jalan-jalan di Desa Kalirandu, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, saat mengantar Kepala Desa Kalirandu, Sukandar, menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Prosesi pemakaman Kades Pemalang itu menyita perhatian karena jumlah pelayat yang begitu banyak. Menurut laporan Detik, warga dan perangkat desa mengenang almarhum sebagai sosok yang sederhana, dekat dengan masyarakat, tidak membedakan warganya setelah kontestasi politik selesai, serta dikenal rutin menjalankan puasa sunnah Senin dan Kamis.
Di sepanjang jalan menuju pemakaman, suasana berlangsung khidmat. Warga berdiri dalam diam, sebagian ikut berjalan mengiringi jenazah, sementara yang lain menundukkan kepala sambil memanjatkan doa. Tidak banyak kata yang terucap, tetapi kehadiran ribuan orang menggambarkan kedekatan emosional yang terbangun selama almarhum mengemban amanah sebagai kepala desa.
Bagi seorang Muslim, peristiwa seperti ini bukan hanya menghadirkan rasa haru. Di baliknya tersimpan pelajaran tentang amanah, akhlak, dan jejak amal yang akan tetap dikenang ketika seseorang telah meninggalkan dunia.
Bukan Jabatan yang Abadi, Melainkan Amal yang Ditinggalkan
Setiap manusia akan sampai pada satu titik yang sama: kematian. Jabatan, harta, dan popularitas akan berhenti di dunia. Yang terus menyertai adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631).
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa tinggi kedudukan seseorang, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.
Allah SWT juga berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7).
Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia di sisi Allah SWT, sekecil apa pun bentuknya.
Pemimpin yang Adil Akan Selalu Dikenang
Menurut keterangan perangkat desa yang dikutip Detik, Sukandar dikenal tidak membedakan masyarakat setelah pemilihan kepala desa selesai. Ia memilih merangkul seluruh warga dan membangun komunikasi tanpa melihat perbedaan pilihan politik.
Sikap seperti itu sejalan dengan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58).
Kepemimpinan dalam Islam bukan tentang kekuasaan, melainkan pelayanan. Ketika seorang pemimpin bersedia mendengar, hadir di tengah masyarakat, dan memperlakukan semua orang dengan adil, kepercayaan akan tumbuh secara alami.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa banyak warga merasa kehilangan sosok yang selama ini mereka kenal dekat.
Akhlak Baik Lebih Lama Dikenang daripada Popularitas
Perangkat Desa Kalirandu juga menyampaikan bahwa almarhum rutin menjalankan puasa sunnah Senin dan Kamis. Kebiasaan itu menunjukkan ikhtiar menjaga hubungan dengan Allah SWT di tengah kesibukan sebagai pemimpin.
Rasulullah SAW bersabda:
“Amal-amal manusia diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis. Aku ingin ketika amalku diperlihatkan, aku sedang berpuasa.”
(HR. Tirmidzi No. 747).
Namun, ibadah pribadi bukan satu-satunya hal yang dikenang masyarakat. Warga juga mengenang kerendahan hati, kesediaan mendengar, dan kebiasaan almarhum menyapa siapa saja.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi No. 2018).
Popularitas bisa memudar seiring waktu. Sebaliknya, akhlak yang baik akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan manfaatnya.
Kesaksian Baik Adalah Kabar Gembira, Bukan Vonis Surga
Ramainya pelayat tidak dapat dijadikan ukuran pasti bahwa seseorang memperoleh surga. Penilaian akhir sepenuhnya berada di tangan Allah SWT.
Namun, Rasulullah SAW pernah bersabda ketika para sahabat memuji sebuah jenazah:
“Kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi.”
(HR. Bukhari No. 1367 dan Muslim No. 949).
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini merupakan kabar gembira bagi orang yang mendapatkan kesaksian baik dari kaum Muslimin yang mengenalnya. Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti manusia dapat memastikan kedudukan seseorang di akhirat. Hak menetapkan balasan tetap berada pada Allah SWT.
Karena itu, penghormatan ribuan warga kepada Sukandar lebih tepat dipahami sebagai kesaksian atas kebaikan yang mereka rasakan selama hidupnya, bukan sebagai penetapan nasib akhir almarhum.
Hikmah untuk Kita Semua
Mungkin suatu hari nanti, bukan nama Sukandar yang menjadi bahan renungan, melainkan nama kita sendiri.
Akankah orang mengenang kita karena jabatan?
Atau karena harta?
Ataukah karena kita pernah menjadi sebab hadirnya kemudahan, senyuman, dan harapan bagi orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak direnungkan sejak hari ini, karena setiap manusia sedang menulis warisannya sendiri melalui sikap, perkataan, dan perbuatannya.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan mencari pujian, melainkan kesempatan menanam amal sebelum datang hari ketika semua pintu usaha tertutup.
Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa almarhum Sukandar, menerima amal salehnya, melapangkan kuburnya, serta menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Semoga pula Allah menjadikan kisah ini sebagai pengingat agar kita terus memperbaiki akhlak, menjaga amanah, dan memperbanyak amal yang bermanfaat bagi sesama.
Suatu hari nanti, kita pun akan dibaringkan dalam liang yang sama. Saat itu, bukan lagi jabatan yang menemani, bukan pula harta yang mengiringi. Yang tersisa hanyalah doa orang-orang yang pernah kita bahagiakan, amal yang pernah kita ikhlaskan, dan rahmat Allah SWT yang kita harapkan. Maka, pertanyaannya bukan seberapa tinggi posisi kita hari ini, melainkan seberapa banyak jejak kebaikan yang akan tetap hidup ketika nama kita hanya tinggal kenangan. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar