Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Basth dan Qabdh: Saat Hidup Lapang Justru Menguji Hati

Basth dan Qabdh: Saat Hidup Lapang Justru Menguji Hati

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
  • visibility 56
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Basth dan qabdh dalam Al-Hikam berbicara tentang dua keadaan batin manusia: kelapangan dan kesempitan. Namun, hikmah basth dan qabdh tidak sekadar mengajarkan bagaimana menikmati hidup ketika lapang atau bertahan ketika sempit. Pesannya justru lebih mengusik: kelapangan pun dapat menjadi ujian bagi hati dan hawa nafsu.

Di sinilah manusia sering keliru membaca keadaan.

Ketika rezeki bertambah, pekerjaan lancar, usaha berkembang, tubuh sehat, dan berbagai keinginan terpenuhi, kita mudah menyimpulkan bahwa hidup sedang berada di jalur yang benar.

Sebaliknya, ketika uang berkurang, rencana gagal, hubungan retak, atau pintu kesempatan tertutup, kita buru-buru merasa sedang berada di ujung kesialan.

Padahal, belum tentu.

Dalam Al-Hikam, terdapat hikmah yang berbunyi:

الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُودِ الْفَرَحِ، وَالْقَبْضُ لَا حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيهِ

Maknanya secara ringkas: dalam keadaan basth, nafsu dapat mengambil bagiannya melalui kegembiraan; sedangkan dalam keadaan qabdh, nafsu tidak memperoleh bagian di dalamnya. Teks tersebut tercantum dalam sejumlah susunan Al-Hikam.

Kalimat pendek itu menyimpan sindiran yang panjang.

Ketika Rekening Bertambah, Ego Kadang Ikut Membesar

Tidak ada yang salah dengan bergembira karena memperoleh rezeki.

Masalahnya muncul ketika kegembiraan membuat manusia merasa dirinya menjadi pusat dari semua keberhasilan.

Hari ini rekening bertambah, lalu kita merasa hebat. Bisnis tumbuh, lalu kita menganggap semua itu semata-mata hasil kecerdikan sendiri. Mendapat jabatan, kita merasa memang paling layak. Mendapat pujian, kita mulai percaya bahwa penilaian orang lain adalah bukti kualitas diri.

Bahkan, kadang rasa syukur pun berubah menjadi pertunjukan.

Sedikit keberhasilan diumumkan. Sedikit kemewahan dipamerkan. Sedikit pujian disimpan rapat-rapat di dalam hati sebagai bukti bahwa diri sendiri memang istimewa.

Di sinilah basth dapat menjadi wilayah yang membutuhkan kewaspadaan.

Sebab, kelapangan memberi ruang bagi hawa nafsu untuk ikut menikmati keadaan.

Bukan berarti seseorang dilarang bahagia. Sebaliknya, Islam tidak mengharamkan kegembiraan atas nikmat Allah. Persoalannya adalah apakah kegembiraan itu membawa seseorang semakin dekat kepada Allah atau justru membuatnya semakin sibuk mengagumi dirinya sendiri.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan tentang manusia yang ketika memperoleh kenikmatan berkata bahwa Tuhannya telah memuliakannya. Namun, ketika rezekinya dibatasi, ia merasa Tuhannya telah menghinakannya. Pola pikir tersebut kemudian dibantah dalam rangkaian ayat Surah Al-Fajr.

Artinya, lapang dan sempit tidak bisa dibaca hanya dari ukuran materi.

Qabdh Tidak Otomatis Berarti Allah Sedang Menghukum

Di sisi lain, qabdh, atau keadaan sempit dan berat dalam batin, juga tidak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda bahwa Allah sedang meninggalkan seseorang.

Ada masa ketika doa terasa panjang jawabannya.

Ada masa ketika usaha sudah dilakukan, tetapi hasil belum terlihat.

Ada pula masa ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya.

Dalam keadaan seperti itu, manusia cenderung bertanya, “Mengapa saya?”

Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Dalam QS Al-Baqarah ayat 216, Allah mengingatkan bahwa manusia dapat membenci sesuatu yang sebenarnya baik baginya dan menyukai sesuatu yang ternyata buruk baginya. Allah mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui.

Karena itu, kesempitan tidak selalu identik dengan keburukan.

Bisa jadi seseorang sedang belajar sabar.

Bisa jadi ia sedang belajar menerima kenyataan.

Bisa jadi pula kesulitan membuatnya berhenti mengejar sesuatu yang selama ini justru menjauhkannya dari Allah.

Tentu, kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti memiliki alasan tertentu yang kita ketahui. Yang dapat kita lakukan adalah mengambil pelajaran, memperbaiki ikhtiar, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.

Al-Qur’an memberikan pegangan yang sangat jelas:

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS Asy-Syarh: 5)

Yang Perlu Ditakuti Justru Ketika Semuanya Terasa Mudah

Ada ironi besar dalam kehidupan.

Ketika susah, manusia rajin berdoa.

Ketika lapang, ia kadang lupa siapa yang membuatnya bisa bernapas lega.

Ketika kehilangan, ia menangis di hadapan Allah.

Ketika memperoleh banyak hal, ia terkadang merasa tidak lagi membutuhkan siapa-siapa.

Padahal, basth dan qabdh sama-sama dapat menjadi jalan pendidikan bagi hati.

Kelapangan menguji syukur.

Kesempitan menguji sabar.

Kelapangan bertanya, “Apakah kamu tetap rendah hati ketika memperoleh banyak?”

Kesempitan bertanya, “Apakah kamu tetap percaya ketika kehilangan banyak?”

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang manusia bukan sekadar berapa banyak yang berhasil ia kumpulkan.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi pada hatinya setelah semua itu datang.

Jika kekayaan membuat seseorang lebih dermawan, kelapangan telah menjadi jalan kebaikan.

Jika keberhasilan membuat seseorang semakin rendah hati, basth telah menemukan adabnya.

Sebaliknya, jika kelapangan membuat seseorang sombong, lupa diri, dan merasa tidak membutuhkan Tuhan, maka kenikmatan tersebut justru membuka persoalan baru.

Begitu pula ketika kesempitan datang.

Jika kesulitan membuat seseorang semakin sabar, memperbaiki diri, dan kembali kepada Allah, maka keadaan sempit tidak berhenti sebagai penderitaan.

Ia berubah menjadi pelajaran.

Jangan Terlalu Cepat Menilai Hidup dari Permukaannya

Pesan Al-Hikam Ibnu Athaillah pada akhirnya bukan ajakan untuk memilih hidup susah daripada hidup lapang.

Bukan pula perintah untuk curiga terhadap setiap rezeki.

Pesannya jauh lebih dalam: jangan menjadikan keadaan lahir sebagai satu-satunya ukuran keadaan batin.

Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi miskin ketenangan.

Seseorang bisa kehilangan banyak hal tetapi justru menemukan kembali arah hidupnya.

Seseorang bisa tertawa di depan banyak orang, tetapi sedang berperang keras dengan kesombongan di dalam dirinya.

Karena itu, ketika hidup sedang lapang, bersyukurlah tanpa merasa paling hebat.

Ketika hidup sedang sempit, bersabarlah tanpa menganggap Allah telah meninggalkan.

Dan ketika keduanya datang silih berganti, jangan berhenti melihat ke dalam diri.

Sebab yang sedang diuji bukan hanya keadaan hidup.

Yang sedang diuji adalah cara hati menerima keadaan tersebut.

Kesempitan memang bisa membuat manusia menangis kepada Allah. Namun, kelapangan kadang lebih berbahaya: ia bisa membuat manusia berhenti merasa membutuhkan-Nya. Jadi, jangan hanya bertanya mengapa hidup sedang sulit. Ketika semuanya berjalan terlalu mudah, tanyakan pula: apakah hati masih tahu kepada siapa semua kelapangan itu harus dikembalikan? (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less