Monas Bergema Doa, Harmoni Lintas Iman Menguat
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Lebih dari 100 ribu jemaah memenuhi kawasan Monas mengikuti Doa Kebangsaan lintas agama menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Sabtu (1/7/2026). (Foto: Kemenag).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA NASIONAL — Lebih dari 100 ribu jemaah memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (1/8/2026) malam, untuk mengikuti Doa Kebangsaan Monas atau Zikir Kebangsaan sebagai pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Bukan hanya dihadiri tokoh agama dan pejabat, kegiatan tersebut juga mempertemukan lansia, anak-anak, santri, mahasiswa, hingga mahasiswa asing dalam satu ruang kebersamaan yang mencerminkan harmoni lintas iman.
Sejak sore, arus masyarakat mulai mengalir menuju kawasan Monas. Sebagian datang bersama keluarga, sebagian lagi hadir bersama rombongan pesantren, komunitas, maupun perguruan tinggi. Ketika malam tiba, pelataran Monas berubah menjadi lautan manusia yang larut dalam suasana khidmat.
Agenda yang digelar pemerintah ini menjadi pembuka rangkaian peringatan HUT ke-81 RI sepanjang Agustus. Selain menjadi momentum spiritual, kegiatan tersebut mengajak masyarakat merefleksikan makna kemerdekaan melalui persatuan dan rasa syukur.
Lautan Jemaah di Monas Menjadi Potret Indonesia yang Beragam
Pemandangan di kawasan Monas malam itu memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya. Lansia duduk berdampingan dengan mahasiswa. Anak-anak mengikuti orang tuanya dengan tertib. Santri berbincang akrab dengan mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan di Indonesia.
Di berbagai sudut kawasan, peserta saling membantu menemukan tempat duduk, berbagi air minum, hingga menyapa orang yang baru mereka kenal. Suasana hangat tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman dapat tumbuh menjadi kekuatan ketika dibangun di atas rasa saling menghormati.
Ketika lantunan zikir mulai menggema, ribuan peserta menundukkan kepala dalam keheningan. Momen itu menjadi salah satu bagian paling menyentuh sepanjang acara.
Enam Tokoh Agama Bergantian Memimpin Doa Kebangsaan
Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika enam tokoh lintas agama secara bergantian memimpin doa sesuai keyakinan masing-masing.
Prosesi tersebut berlangsung dengan penuh penghormatan terhadap perbedaan. Seluruh peserta mengikuti rangkaian acara secara tertib, sementara doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus harapan agar Indonesia terus diberi kedamaian, persatuan, dan kesejahteraan.
Pelaksanaan doa lintas agama itu menjadi simbol bahwa keberagaman bukan sekadar identitas bangsa, melainkan modal sosial yang harus terus dirawat.
Menteri Agama: Bangsa Besar Lahir dari Doa dan Kerukunan
Dalam sambutannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi.
“Bangsa yang besar juga dibangun oleh kekuatan doa, keluhuran akhlak, dan kokohnya kerukunan antarsesama,” ujar Nasaruddin Umar.
Menurutnya, doa merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam menjaga persatuan nasional. Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat terus merawat toleransi dan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia.
Pesan tersebut disambut hangat para peserta yang memenuhi kawasan Monas. Banyak di antara mereka mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan bangsa selama 81 tahun merdeka.
Bukan Sekadar Seremoni, Tetapi Refleksi Kebangsaan
Doa Kebangsaan Monas tidak hanya menjadi pembuka agenda peringatan kemerdekaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan ruang refleksi bagi masyarakat untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa sekaligus memperkuat komitmen menjaga Indonesia tetap damai.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, persatuan menjadi modal penting agar bangsa ini mampu terus melangkah maju.
Kehadiran lebih dari 100 ribu jemaah dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa semangat kebersamaan masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Nilai tersebut menjadi pesan penting bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan sejarah, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga bersama.
Bagi banyak peserta, malam itu bukan hanya tentang menghadiri sebuah acara. Mereka pulang membawa keyakinan bahwa Indonesia akan tetap kokoh selama masyarakatnya terus menjaga rasa saling menghormati, memperkuat persaudaraan, dan merawat harmoni dalam kehidupan sehari-hari.
Di bawah langit Monas, lebih dari 100 ribu tangan terangkat dalam doa yang sama. Ketika perbedaan memilih berdiri berdampingan, Indonesia kembali menunjukkan bahwa kekuatan terbesarnya bukan hanya kemerdekaan, melainkan persatuan yang terus hidup dari generasi ke generasi. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar