Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Sampah Ciamis: Kota Bersih Ini Justru Pasang Alarm

Sampah Ciamis: Kota Bersih Ini Justru Pasang Alarm

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Ada ironi di balik gerakan sampah Ciamis pada Jumat, 18 September 2026.

Kabupaten yang dikenal memiliki capaian kuat dalam pengelolaan lingkungan justru kembali memasang alarm. Bukan karena Ciamis telah berstatus darurat sampah, melainkan karena pemerintah daerah tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi krisis di kemudian hari.

Alarm itu disampaikan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat memimpin apel bersama dan Gerakan Jumat Bersih dalam rangka Gerakan Indonesia ASRI.

Ratusan aparatur dan unsur lintas lembaga turun membersihkan sejumlah ruang publik. Namun, pesan terpenting dari kegiatan tersebut sebenarnya bukan soal berapa banyak sampah yang berhasil diangkut pagi itu.

Pertanyaannya lebih jauh:

Setelah Jumat Bersih selesai, siapa yang memastikan sampah tidak kembali ke tempat yang sama?

Ciamis Sudah Punya Prestasi, tetapi Bukan Berarti Persoalan Selesai

Ciamis memiliki modal penting dalam pengelolaan lingkungan.

Pada 2025, Kabupaten Ciamis meraih sertifikat pengakuan kategori Clean Land untuk kota kecil dalam ajang The 6th ASEAN Environmentally Sustainable Cities Award. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat volume sampah yang masuk ke TPA turun dari sekitar 45 truk per hari pada 2019 menjadi sembilan truk per hari pada 2024.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa kebersihan Ciamis bukan sekadar persoalan jalan yang terlihat rapi.

Ada sistem pengelolaan, partisipasi masyarakat, TPS3R, bank sampah, hingga berbagai program pengurangan sampah yang menopangnya.

Bahkan, hasil evaluasi pengelolaan sampah 2025 yang dirilis KLH/BPLH menempatkan Kabupaten Ciamis sebagai daerah dengan nilai tertinggi dalam kategori Sertifikat Menuju Kabupaten/Kota Bersih, dengan nilai 74,68.

Namun, prestasi bukan berarti persoalan selesai.

Justru karena sudah memiliki capaian tersebut, tantangan berikutnya adalah memastikan sistemnya tetap berjalan ketika perhatian publik terhadap kebersihan mulai berkurang.

Peringatan Bupati: Jangan Tunggu Sampah Menjadi Krisis

Dikutip dari Pemkab Ciamis, Herdiat mengingatkan bahwa persoalan sampah perlu ditangani sejak sekarang.

Ia menyebut sejumlah daerah saat ini menghadapi persoalan sampah serius dan memperingatkan bahwa Ciamis bisa mengalami kondisi serupa dalam dua atau tiga tahun apabila tidak bergerak dari sekarang.

Pernyataan tersebut penting dibaca secara tepat.

Ciamis bukan disebut sedang berstatus darurat sampah.

Yang disampaikan adalah peringatan mengenai potensi persoalan apabila perubahan perilaku dan pengelolaan sampah tidak dijaga.

Karena itu, Herdiat meminta ASN, TNI dan Polri menjadi teladan. Gerakan kebersihan, menurutnya, tidak cukup dilakukan dalam satu kegiatan, tetapi harus berlanjut dari rumah, lingkungan kerja hingga fasilitas publik.

Dengan kata lain, Jumat Bersih seharusnya menjadi awal kebiasaan, bukan akhir kegiatan.

Delapan Titik Dibersihkan, dari Stadion hingga Sungai

Gerakan Jumat Bersih menyasar delapan titik strategis di kawasan perkotaan Ciamis.

Lokasinya meliputi:

  1. Sisi barat Stadion Galuh
  2. Sisi timur Stadion Galuh
  3. Area GGT
  4. Terminal Ciamis
  5. Pasar Subuh
  6. Pasar Manis
  7. Jalan Letnan Samuji
  8. Kawasan Jalan Rumah Sakit dan Sungai Cimemen

Pembersihan melibatkan ASN bersama unsur TNI, Polri, akademisi, BUMN, BUMD dan lembaga lainnya.

Lokasi tersebut bukan pilihan tanpa alasan.

Stadion, terminal, pasar, jalan dan kawasan sungai merupakan ruang yang bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat. Artinya, persoalan sampah di tempat-tempat tersebut tidak cukup ditangani dengan aksi bersih sesekali.

Sampah baru akan terus muncul selama aktivitas masyarakat tetap berlangsung.

Karena itu, tantangannya bukan hanya membersihkan, tetapi juga mencegah sampah kembali menumpuk.

D'Arrian Collections

Lebih dari 280 Bank Sampah, Tantangannya Ada di Kebiasaan

Ciamis juga tidak memulai dari nol.

Dalam kegiatan Jumat Bersih tersebut, Pemkab Ciamis kembali mendorong masyarakat memanfaatkan lebih dari 280 unit bank sampah yang tersedia.

Sementara itu, KLH/BPLH mencatat Ciamis memiliki 298 unit TPS3R dan bank sampah dalam konteks capaian pengelolaan sampah yang menjadi bagian dari penghargaan ASEAN.

Namun, keberadaan fasilitas belum otomatis menyelesaikan persoalan.

Pertanyaan berikutnya adalah:

Apakah masyarakat sudah memilah sampah sejak dari rumah?

Apakah sampah organik diolah? Apakah sampah yang masih bernilai ekonomi masuk ke bank sampah? Apakah pasar memiliki sistem pengelolaan yang konsisten?

Pertanyaan semacam itu justru menentukan apakah gerakan kebersihan benar-benar berubah menjadi budaya.

KLH/BPLH sendiri menempatkan rumah tangga sebagai bagian penting dalam pengelolaan sampah dari sumber. Di Ciamis, sumber sampah terbesar disebut berasal dari rumah tangga, sementara sisa makanan menjadi komposisi terbesar.

Artinya, persoalan sampah tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada petugas kebersihan atau pemerintah daerah.

Jangan Sampai Jumat Bersih Berhenti pada Hari Jumat

Ada satu jebakan dalam setiap gerakan kebersihan.

Lingkungan dibersihkan. Sampah diangkut. Foto kegiatan dibuat. Jalan terlihat lebih rapi.

Kemudian beberapa hari berlalu.

Jika sampah kembali muncul di tempat yang sama, berarti persoalannya belum selesai.

Karena itu, ukuran keberhasilan Jumat Bersih tidak semata-mata berada pada jumlah peserta atau volume sampah yang berhasil dikumpulkan.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah kegiatan selesai.

Apakah masyarakat mulai memilah sampah?

Apakah sampah rumah tangga berkurang?

Apakah bank sampah semakin aktif?

Apakah kawasan pasar, terminal dan sungai tetap terjaga?

Di titik inilah Gerakan Indonesia ASRI memiliki tantangan sebenarnya.

ASRI bukan sekadar lingkungan yang bersih setelah dibersihkan. ASRI harus menjadi kebiasaan yang membuat lingkungan tetap bersih meski tidak sedang ada kegiatan Jumat Bersih.

Prestasi Kebersihan Bukan Garis Finish

Ciamis sudah memiliki pengalaman dan prestasi dalam pengelolaan lingkungan.

Namun, penghargaan bukan garis finish.

Justru capaian tersebut harus menjadi alasan untuk menjaga standar yang sudah dibangun.

Pemerintah memiliki tanggung jawab membangun sistem. Masyarakat memiliki peran menjaga kebiasaan. Dunia usaha juga perlu ikut mengurangi dan mengelola sampah dari sumbernya.

Ketiganya harus berjalan bersamaan.

Sebab persoalan sampah tidak mengenal agenda seremonial.

Ia muncul setiap hari.

Ciamis sudah punya prestasi kebersihan. Kini tantangannya bukan menambah pajangan di lemari, melainkan memastikan sampah tidak kembali memenuhi jalan, pasar dan sungai. Sebab daerah yang benar-benar bersih bukan yang paling sering menggelar Jumat Bersih, tetapi yang membuat warganya tidak perlu menunggu hari Jumat untuk menjaga kebersihan. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less