Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Air Gunung Sawal Menyusut, Warga Ciamis Andalkan Bak Penampungan

Air Gunung Sawal Menyusut, Warga Ciamis Andalkan Bak Penampungan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Aliran air dari kawasan Gunung Sawal mulai mengecil ketika kemarau masih berlangsung. Di Dusun Nangela, Desa Sandingtaman, Kabupaten Ciamis, warga mengandalkan sumber air pegunungan yang ditampung terlebih dahulu sebelum digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Air untuk minum, mandi, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya kini harus dikelola lebih cermat. Sebab, ketika debit sumber berkurang, bak penampungan membutuhkan waktu lebih lama untuk terisi.

Kondisi tersebut menjadi gambaran kecil tentang bagaimana kemarau mulai menekan ketersediaan air di sejumlah wilayah Ciamis.

Debit Air Gunung Sawal Mulai Menurun

Bagi warga Dusun Nangela, persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada air.

Yang terasa adalah perubahan debitnya.

Sumber air dari kawasan Gunung Sawal masih dimanfaatkan warga. Namun, alirannya tidak lagi sebanyak ketika kondisi musim lebih basah. Warga kemudian menampung air melalui bak yang dibuat secara swadaya sebelum menyalurkannya menuju permukiman.

Pola sederhana itu menjadi penyangga kebutuhan rumah tangga.

Namun, penyangga tersebut juga memiliki batas. Ketika air yang masuk ke bak semakin sedikit, masyarakat harus menyesuaikan pemakaian agar persediaan tidak cepat habis.

Laporan kondisi warga Sandingtaman pada 13 September 2026 menunjukkan bahwa penurunan debit sumber air Gunung Sawal mulai dirasakan selama musim kemarau.

Situasi tersebut terjadi ketika Ciamis masih berada dalam periode siaga menghadapi kekeringan.

Pemkab Ciamis sebelumnya menetapkan status siaga darurat kekeringan selama tiga bulan, mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.

Bak Penampungan Menjadi Penyangga Warga

Bak penampungan memiliki fungsi sederhana, tetapi penting.

Air dari sumber pegunungan dikumpulkan terlebih dahulu. Setelah itu, warga menyalurkannya menggunakan selang menuju rumah masing-masing.

Cara tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber air yang tersedia secara swadaya.

Akan tetapi, ketika debit sumber menurun, sistem itu ikut menghadapi tekanan.

Bak mungkin tetap terisi, tetapi kecepatannya berbeda. Karena itu, setiap perubahan debit menjadi sesuatu yang langsung dirasakan di tingkat rumah tangga.

Kondisi ini juga perlu dilihat dalam konteks kekeringan Ciamis secara keseluruhan.

BPBD Ciamis mencatat kekeringan telah meluas ke 17 kecamatan dan 31 desa. Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak 14.847 jiwa dari 7.134 kepala keluarga terdampak dan membutuhkan dukungan air bersih. Distribusi air yang telah dilakukan mencapai sekitar 766.000 liter.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan air bersih di Ciamis bukan lagi sekadar cerita tentang satu sumber air atau satu desa.

Ciamis Masih Berhadapan dengan Kemarau

Penurunan Air Gunung Sawal di Sandingtaman terjadi dalam periode ketika kondisi kekeringan masih menjadi perhatian.

Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian I September 2026, BMKG memasukkan Kabupaten Ciamis ke dalam kategori Awas.

Sementara itu, prakiraan BMKG untuk Dasarian II September menunjukkan sebagian wilayah Jawa Barat berpotensi mengalami curah hujan rendah.

Data tersebut tentu tidak berarti seluruh wilayah Ciamis mengalami kondisi yang sama.

Karakteristik sumber air setiap desa berbeda. Begitu pula kondisi sumur, mata air, jaringan distribusi, dan kebutuhan masyarakat.

Namun, informasi tersebut memberikan konteks bahwa pengelolaan air selama kemarau tidak bisa dilakukan hanya setelah sumber air mulai bermasalah.

Pemantauan lebih awal menjadi penting.

Gunung Sawal Bukan Sekadar Bentang Alam

Gunung Sawal memiliki posisi penting dalam lingkungan Ciamis.

Dokumen RPJMD Kabupaten Ciamis 2025–2029 menempatkan kawasan Gunung Sawal dalam konteks fungsi hidrologis wilayah. Kawasan tersebut berkaitan dengan sumber aliran sungai yang menopang kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah.

Karena itu, berkurangnya debit sebuah sumber air di kawasan Gunung Sawal layak menjadi perhatian.

Bukan karena kondisi tersebut otomatis berarti seluruh sistem air Ciamis terganggu.

Melainkan karena sumber air di kawasan hulu memiliki hubungan dengan keberlanjutan air di wilayah yang lebih luas.

Kemarau pada akhirnya menguji dua hal sekaligus: ketersediaan air dan kesiapan masyarakat mengelolanya.

Jangan Tunggu Bak Penampungan Kosong

Kekeringan tidak selalu hadir dalam bentuk yang dramatis.

Kadang tandanya jauh lebih sederhana.

Aliran selang yang semakin kecil. Bak yang lebih lambat terisi. Sumur yang mulai dangkal. Atau warga yang harus mengurangi pemakaian air untuk kebutuhan tertentu.

Bagi masyarakat yang bergantung pada sumber air lokal, perubahan kecil tersebut sudah cukup menjadi tanda bahwa musim kemarau harus dihadapi dengan lebih hati-hati.

Karena itu, kondisi di Dusun Nangela menjadi pengingat penting bagi pengelolaan sumber air di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.

Pemetaan wilayah rawan kekeringan, pemantauan debit sumber air, kesiapan tempat penampungan, serta distribusi air bersih harus berjalan sebelum keadaan menjadi lebih sulit.

Masyarakat pun dapat berperan dengan menggunakan air secara bijak dan melaporkan lebih awal ketika sumber air mulai mengalami penurunan.

Air Gunung Sawal dan Masa Depan Ciamis

Persoalan air di Ciamis bukan sesuatu yang baru.

Pada Juli 2026, misalnya, kekeringan juga berdampak terhadap warga Desa Kawasen. AlbadarPost sebelumnya melaporkan sebanyak 429 warga terdampak dan mendapat bantuan distribusi air bersih.

Laporan lain mengenai distribusi air bersih di sejumlah wilayah Ciamis menunjukkan bahwa tekanan terhadap sumber air terus menjadi persoalan ketika musim kemarau datang.

Artinya, respons terhadap kekeringan tidak cukup hanya dengan mengirimkan air ketika warga sudah kesulitan.

Kesiapsiagaan harus dimulai dari sumbernya.

Gunung Sawal, mata air, sungai, sumur, dan berbagai sumber air lokal merupakan bagian dari sistem yang perlu dijaga bersama.

Di Dusun Nangela, penurunan debit Air Gunung Sawal mungkin terlihat sederhana. Hanya aliran yang mengecil.

Namun bagi warga yang setiap hari menunggu bak penampungan terisi, perubahan itu punya arti yang jauh lebih besar.

Kemarau tidak selalu membuat air hilang dalam satu malam. Kadang ia pergi sedikit demi sedikit. Dan ketika debit mulai mengecil, itulah saat paling tepat untuk bertindak—sebelum bak benar-benar kosong dan pilihan warga semakin sedikit. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less