Pengajian Maulid Nabi di Sukahurip: Cinta Rasul Bukan Sekadar Salawat
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
- visibility 64
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pengajian Maulid Nabi SAW di Pesantren AL-Muniroh Sukahurip, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (3/10/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Pengajian Maulid Nabi SAW di Pondok Pesantren Al-Muniroh, Sukahurip, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (3/10/2026), mengangkat pesan tentang pentingnya menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah SAW ke dalam akhlak sehari-hari.
Ratusan jamaah mengikuti pengajian yang menghadirkan KH Jojo Jauharudin, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hanasah Leuwisari, sebagai mubaligh. Tema yang diangkat yakni “Mengapa Cinta Rasul Tidak Cukup Hanya dengan Bersalawat? Ini 5 Bentuk Teladan yang Bisa Diamalkan.”
Tema tersebut membawa pembahasan Maulid Nabi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya diwujudkan melalui salawat dan peringatan Maulid, tetapi juga melalui upaya meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Cinta Rasul Tidak Berhenti di Majelis
Peringatan Maulid Nabi biasanya menjadi momentum untuk memperbanyak salawat, mendengarkan tausiyah, membaca maulid, dan mempererat silaturahmi. Namun, pesan yang disampaikan dalam pengajian di Al-Muniroh mengajak jamaah melihat apa yang terjadi setelah majelis berakhir.
Sebab, nilai sebuah pengajian tidak hanya terasa ketika jamaah berada di tempat acara. Pesannya justru diharapkan tetap hidup ketika seseorang kembali ke rumah, bertemu keluarga, berinteraksi dengan tetangga, bekerja, hingga menggunakan media sosial.
KH Jojo Jauharudin menyampaikan bahwa kecintaan kepada Rasulullah perlu diwujudkan melalui perilaku nyata.
“Cinta kepada Rasulullah jangan berhenti pada ucapan dan salawat. Salawat harus mendorong kita untuk mengenal akhlak beliau, kemudian berusaha menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ukuran kecintaan itu terlihat dari bagaimana kita menjaga ucapan, amanah, hubungan dengan keluarga, tetangga, dan sesama.”
Pesan tersebut membuat hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada kisah sejarah. Sebaliknya, peringatan Maulid menjadi ruang untuk melakukan evaluasi terhadap perilaku diri sendiri.
Lima Teladan Rasulullah yang Bisa Diamalkan
Ada sejumlah bentuk keteladanan Rasulullah yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pertama, menjaga ucapan. Perkataan dapat membangun hubungan, tetapi juga dapat melukai orang lain. Karena itu, menjaga lisan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial.
Kedua, menepati amanah. Amanah tidak hanya berkaitan dengan jabatan. Janji kepada keluarga, tanggung jawab dalam pekerjaan, kepercayaan orang lain, hingga kewajiban dalam kehidupan sehari-hari juga membutuhkan sikap yang sama.
Ketiga, menghormati orang tua. Kecintaan kepada Rasulullah juga dapat tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang tua. Perubahan sederhana, seperti berbicara dengan lebih lembut dan membantu kebutuhan mereka, dapat menjadi bagian dari penerapan akhlak.
Keempat, menjaga hubungan dengan tetangga. Kehidupan masyarakat membutuhkan kepedulian. Membantu ketika ada kesulitan, menjaga perasaan, dan menghindari perselisihan merupakan bentuk akhlak sosial yang dapat diterapkan siapa saja.
Kelima, menjaga perilaku di media sosial. Tantangan akhlak kini juga hadir di ruang digital. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati sebelum menyebarkan informasi, menulis komentar, atau ikut dalam perdebatan yang berpotensi menimbulkan permusuhan.
Dengan demikian, amalan setelah Maulid Nabi tidak selalu harus berbentuk kegiatan besar. Memperbaiki perilaku secara bertahap justru dapat menjadi bentuk nyata dari pesan yang diperoleh selama pengajian.
Pesan Al-Muniroh: Jangan Berhenti pada Seremoni
Sesepuh Pondok Pesantren Al-Muniroh, KH Acep Bulkini, menekankan pentingnya menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk menghidupkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan masyarakat.
“Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan kita. Jangan sampai semangat hanya terasa ketika berada di majelis. Setelah pulang, semangat itu harus terlihat dalam ibadah, akhlak, hubungan dengan keluarga, serta kepedulian kepada masyarakat.”
Pesan tersebut sekaligus menempatkan Maulid Nabi sebagai momentum muhasabah. Jamaah tidak hanya diajak mengenang perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga melihat kembali perilaku masing-masing.
Apakah ucapan sudah terjaga? Apakah amanah sudah dijalankan? Bagaimana hubungan dengan orang tua dan tetangga? Lalu, apakah media sosial sudah digunakan secara bijak?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menjadi ukuran sejauh mana pesan pengajian Maulid Nabi benar-benar diterapkan setelah acara selesai.
Bagi masyarakat, keteladanan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat muncul dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, mulai dari menjaga perkataan, menepati janji, menghormati orang tua, peduli kepada tetangga, hingga menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang bagaimana umat mengenang Rasulullah SAW, tetapi juga bagaimana umat berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan.
Salawat menghidupkan cinta. Keteladanan membuktikan bahwa cinta itu benar-benar hidup. (Red)
- Penulis: redaktur






