Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Pelatihan Kerja Ciamis Dibuka, Berapa Peserta Terserap Industri?

Pelatihan Kerja Ciamis Dibuka, Berapa Peserta Terserap Industri?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 48
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Program Tailor Made Training (TMT) di PT Chihaya Global Utama (CGU) membawa harapan bagi pencari kerja di Kabupaten Ciamis. Namun, pembukaan pelatihan dan penandatanganan kerja sama belum cukup membuktikan manfaatnya. Publik masih perlu mengetahui jumlah peserta, kompetensi yang diajarkan, serta target penyerapan tenaga kerja setelah program berakhir.

Berdasarkan laporan Pemkab Ciamis, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya membuka program TMT pada Senin (26/10/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepakatan antara Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, Kementerian Ketenagakerjaan RI, dan Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat kualitas serta daya saing tenaga kerja lokal. Meski demikian, keberhasilannya perlu diukur melalui hasil yang dapat diperiksa, bukan hanya terlaksananya kegiatan dan terjalinnya kesepakatan.

Informasi mengenai jumlah peserta, bidang pelatihan, durasi program, dan target penempatan belum tercantum dalam keterangan kegiatan yang tersedia. Tanpa informasi tersebut, masyarakat belum dapat menilai seberapa besar peluang program ini membuka jalan menuju pekerjaan bagi warga setempat.

Pengangguran Ciamis Menjadi Konteks Tantangan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,08 persen pada Agustus 2025. Angka itu naik 0,71 poin persentase dibandingkan Agustus 2024 yang mencapai 3,37 persen.

Pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 666.184 orang. Dari jumlah tersebut, 639.021 orang bekerja, sedangkan 27.163 orang masuk kategori penganggur terbuka.

Data itu menggambarkan tantangan ketenagakerjaan yang perlu dijawab melalui kebijakan yang tepat sasaran. Namun, angka tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan keberhasilan atau kegagalan TMT yang baru dibuka pada Oktober 2026.

Pertanyaan yang perlu dijawab ialah apakah pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan tenaga kerja perusahaan dan apakah tersedia peluang rekrutmen bagi pesertanya. Jika program bertujuan menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri, keterkaitan antara materi pelatihan dan posisi pekerjaan perlu dijelaskan secara terbuka.

Dengan demikian, publik dapat membedakan program peningkatan keterampilan dari program yang secara konkret mempersiapkan peserta untuk memasuki dunia kerja.

Mayoritas Pekerja Berada di Sektor Informal

Tantangan ketenagakerjaan Ciamis tidak hanya berkaitan dengan pengangguran. BPS mencatat sebanyak 396.480 orang atau 62,04 persen penduduk bekerja berada di sektor informal pada Agustus 2025. Sementara itu, pekerja sektor formal berjumlah 242.541 orang atau 37,96 persen.

Komposisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan kerja perlu dilihat bersama kualitas pekerjaan yang tersedia. Bertambahnya orang yang bekerja belum otomatis menjamin pendapatan memadai, perlindungan kerja, atau keberlanjutan pekerjaan.

Karena itu, pelatihan kerja perlu memiliki arah yang jelas. Kompetensi yang diajarkan semestinya relevan dengan kebutuhan industri, sedangkan hasil program perlu dievaluasi berdasarkan perkembangan peserta setelah pelatihan.

Dalam pembukaan TMT, Herdiat mendorong peserta mengikuti pelatihan dengan serius agar memiliki keterampilan dan profesionalisme. Ia juga berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada seremoni serta perusahaan menyediakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.

Harapan itu penting, tetapi perlu ditindaklanjuti melalui pelaksanaan dan evaluasi yang terukur. Tanpa informasi mengenai target dan hasil, publik belum memiliki dasar yang cukup untuk menilai dampak program terhadap kesempatan kerja warga.

Kemiskinan Menambah Urgensi Penciptaan Kerja

BPS Kabupaten Ciamis mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 7,19 persen, dengan jumlah sekitar 88,72 ribu orang. Angka tersebut turun 0,20 poin persentase dibandingkan Maret 2024.

Data kemiskinan ini memperkuat relevansi upaya memperluas kesempatan kerja, meskipun kemiskinan dipengaruhi berbagai faktor dan tidak dapat diselesaikan melalui pelatihan kerja semata.

Bagi masyarakat, manfaat program akan lebih mudah dinilai apabila pemerintah menjelaskan siapa yang menjadi sasaran, keterampilan apa yang diperoleh, dan bagaimana peserta dapat mengakses peluang kerja setelah pelatihan.

Pemerintah daerah bersama BBPVP Bandung dan PT CGU juga perlu menjelaskan apakah pelatihan disusun untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja tertentu atau berfokus pada peningkatan kompetensi secara umum. Kedua pendekatan tersebut dapat bermanfaat, tetapi memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda.

Kejelasan sasaran akan membantu mencegah kesenjangan antara keterampilan yang diajarkan dan kebutuhan nyata di pasar kerja.

Target Penyerapan Perlu Dibuka kepada Publik

Penandatanganan nota kesepakatan antara BBPVP Bandung dan Pemerintah Kabupaten Ciamis menjadi awal kerja sama. Tahap berikutnya adalah memastikan pelaksanaan program memiliki target yang jelas, indikator yang terukur, dan mekanisme evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Setidaknya, ada lima informasi yang perlu dijelaskan kepada publik: jumlah peserta, bidang pelatihan, standar kelulusan, target penempatan kerja, dan jumlah peserta yang akhirnya memperoleh pekerjaan. Informasi mengenai keberlanjutan pekerjaan juga penting untuk menilai manfaat program dalam jangka lebih panjang.

Keterangan kegiatan yang tersedia belum merinci indikator-indikator tersebut. Karena itu, target penyerapan tenaga kerja belum dapat dinilai dan hasil konkret program belum bisa disimpulkan.

Kondisi ini bukan bukti bahwa program tidak efektif. Namun, keterbatasan informasi tersebut menunjukkan perlunya transparansi agar masyarakat dapat mengikuti perkembangan dan menilai hasilnya berdasarkan fakta.

Pemerintah daerah dan perusahaan memiliki kesempatan untuk menjadikan TMT sebagai jembatan antara pelatihan dan kebutuhan industri. Kesempatan itu akan lebih berarti apabila peserta memperoleh kompetensi yang relevan dan memiliki jalur yang jelas menuju pekerjaan.

Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan kerja Ciamis tidak cukup diukur dari pembukaan program atau penandatanganan kesepakatan. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak peserta memperoleh pekerjaan, seberapa sesuai pekerjaan itu dengan kompetensinya, dan apakah manfaatnya benar-benar dirasakan tenaga kerja lokal. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less