Bukan Sekadar Razia, Operasi Patuh Lodaya Pangandaran Hadirkan Ogoh-Ogoh
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tim ogoh-ogoh bersama Satlantas Polres Pangandaran mengedukasi pengendara dalam Operasi Patuh Lodaya 2026, Senin (26/10/2026).(Dok. Polres Pangandaran).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Operasi Patuh Lodaya 2026 di Kabupaten Pangandaran menghadirkan pendekatan berbeda. Polres Pangandaran menggandeng tim ogoh-ogoh untuk mengedukasi pengendara melalui cara kreatif dan humanis. Pendekatan ini membawa pesan keselamatan berlalu lintas ke ruang publik dengan sentuhan budaya lokal.
Bersama Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pangandaran, tim ogoh-ogoh menyapa pengguna jalan di kawasan bundaran dan lampu merah pada Senin (26/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya tertib berlalu lintas.
Cara ini menawarkan pendekatan berbeda dari sosialisasi konvensional. Alih-alih hanya mengandalkan imbauan formal dan penindakan, petugas mengajak masyarakat memahami keselamatan melalui interaksi langsung.
Tim Ogoh-Ogoh Bantu Sampaikan Pesan Keselamatan
Kawasan bundaran dan persimpangan lampu merah menjadi titik pertemuan berbagai pengguna jalan. Di lokasi tersebut, tim ogoh-ogoh mendampingi Satlantas Polres Pangandaran untuk menyampaikan pesan keselamatan kepada masyarakat.
Kehadiran tim ini memberi unsur visual yang menarik dalam kegiatan edukasi. Namun, tujuan utamanya bukan sekadar menarik perhatian pengendara, melainkan mendorong mereka agar lebih disiplin saat menggunakan jalan raya.
Kesadaran tersebut penting karena keselamatan lalu lintas bergantung pada perilaku setiap pengguna jalan. Pengendara sepeda motor perlu menggunakan helm berstandar dan mematuhi rambu. Sementara itu, pengemudi mobil harus mengenakan sabuk pengaman serta menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan.
Selain mematuhi aturan, pengguna jalan juga perlu menghindari tindakan yang membahayakan orang lain. Dengan demikian, pesan yang disampaikan selama operasi dapat diterapkan dalam perjalanan sehari-hari, bukan hanya ketika petugas berada di sekitar mereka.
Eyang Jaga Resmi Perkuat Sentuhan Budaya Lokal
Kegiatan tersebut juga menghadirkan sosok ikonik Eyang Jaga Resmi. Kehadirannya menambah unsur budaya lokal dalam penyampaian pesan keselamatan kepada masyarakat Pangandaran.
Pendekatan berbasis budaya dapat menjadi sarana komunikasi yang lebih dekat dengan kehidupan warga. Melalui cara tersebut, edukasi lalu lintas tidak hanya berbicara tentang aturan dan sanksi, tetapi juga mengingatkan masyarakat mengenai tanggung jawab bersama.
Meski demikian, kreativitas dalam menyampaikan pesan harus berjalan seiring dengan ketegasan terhadap aturan. Pengendara tetap perlu memastikan kendaraannya layak jalan, membawa dokumen yang diperlukan, serta menjaga konsentrasi selama berkendara.
Kepatuhan terhadap rambu dan marka jalan juga harus menjadi kebiasaan. Sebab, keselamatan tidak cukup bergantung pada pengawasan petugas, tetapi membutuhkan kedisiplinan yang tumbuh dari diri setiap pengguna jalan.
Operasi Patuh Lodaya Berlangsung hingga 8 November 2026
Kapolres Pangandaran AKBP Ikrar Potawari melalui Kanit Regident Satlantas IPDA Harry Santoso menegaskan bahwa Operasi Patuh Lodaya 2026 tidak hanya mengedepankan penindakan. Kepolisian juga mengutamakan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ketertiban dan keselamatan berlalu lintas.
Berdasarkan laporan Polres Pangandaran, operasi berlangsung selama 14 hari, mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026. Selama periode tersebut, masyarakat diharapkan semakin disiplin dan memahami pentingnya mematuhi aturan saat berkendara.
Karena itu, operasi ini tidak sepatutnya dipandang semata-mata sebagai kegiatan pemeriksaan kendaraan. Momentum tersebut juga dapat mendorong masyarakat mengevaluasi kebiasaan berkendara, mulai dari penggunaan perlengkapan keselamatan hingga kepatuhan terhadap rambu.
Pendekatan humanis melalui edukasi menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran. Namun, dampak jangka panjangnya bergantung pada kesediaan masyarakat menerapkan pesan tersebut secara konsisten.
Tertib Berlalu Lintas Bukan Hanya Takut Ditilang
Pelibatan tim ogoh-ogoh dan kehadiran Eyang Jaga Resmi memperlihatkan cara kreatif dalam menyampaikan pesan keselamatan. Meski begitu, keberhasilan edukasi tidak cukup diukur dari perhatian masyarakat selama kegiatan berlangsung.
Hal yang lebih penting ialah perubahan perilaku setelah kegiatan berakhir. Pengendara perlu tetap mematuhi aturan meskipun tidak ada petugas yang mengawasi.
Sikap tersebut dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: menggunakan perlengkapan keselamatan, menjaga jarak aman, mematuhi rambu, dan tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk berkendara.
Pada akhirnya, tertib berlalu lintas bukan sekadar cara menghindari sanksi. Kepatuhan merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri, keluarga, dan setiap orang yang berbagi jalan.
Ogoh-ogoh boleh menarik perhatian, tetapi keselamatan harus menjadi kebiasaan. (Red)
- Penulis: redaktur
