Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Ngaji Kebangsaan Gus Baha, Pesan Persatuan Sampai ke Polres Banjar

Ngaji Kebangsaan Gus Baha, Pesan Persatuan Sampai ke Polres Banjar

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
  • visibility 68
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Ngaji Kebangsaan Gus Baha yang berlangsung di Rembang, Jawa Tengah, turut diikuti jajaran Polres Banjar secara daring dari Masjid At Taubah Polres Banjar, Sabtu (26/9/2026). Forum tersebut membawa pesan tentang persatuan, kebersamaan, nilai kebangsaan, serta pengabdian yang relevan dengan tugas anggota Polri di tengah masyarakat.

Kegiatan utama berlangsung di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo hadir langsung bersama Gus Baha, sedangkan jajaran kepolisian dari berbagai daerah mengikuti kegiatan melalui sambungan virtual.

Bagi personel Polres Banjar, kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan rohani dan mental. Selain itu, pesan yang muncul dalam forum tersebut dapat menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga sikap, integritas, dan kepedulian ketika berhadapan dengan masyarakat.

Polres Banjar Ikuti Ngaji Kebangsaan dari Masjid At Taubah

Dikutip dari Polres Banjar, Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro hadir bersama para Kabag, Kasat Fung, Kapolsek jajaran, serta personel Polres Banjar. Mereka mengikuti Ngaji Kebangsaan Gus Baha melalui Zoom Meeting dari Masjid At Taubah Polres Banjar.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, kegiatan berlanjut dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan Kapolri, tausiyah Gus Baha, diskusi dan tanya jawab, kemudian doa penutup.

Dari Rembang, kegiatan tersebut menjangkau personel Polri di berbagai wilayah Indonesia. Data Tribratanews Polri mencatat 700 peserta hadir langsung, terdiri atas 100 Polwan, 300 Polki, dan 300 santri. Sementara itu, 41.449 peserta mengikuti kegiatan secara virtual.

Skala partisipasi itu membuat forum tidak berhenti sebagai kegiatan di satu pesantren. Pesan yang muncul dari Rembang ikut menjangkau jajaran kepolisian di daerah, termasuk Polres Banjar.

Gus Baha dan Kapolri Bicara Persatuan

Dalam forum tersebut, perhatian utama tertuju pada pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Kapolri menekankan bahwa perbedaan perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Menurutnya, persatuan menjadi modal penting agar kehidupan masyarakat dan pembangunan dapat terus berjalan.

Sementara itu, Kapolri menyebut ulama sebagai “lentera dan kompas” bagi bangsa. Nasihat, tuntunan, serta doa ulama dinilai memiliki peran dalam memberikan arah bagi kehidupan masyarakat. Di sisi lain, Polri menjalankan tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban serta memberikan perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat.

Pertemuan antara ulama, santri, dan jajaran kepolisian tersebut kemudian menemukan titik temu pada satu persoalan: bagaimana menjaga kehidupan bangsa tetap rukun di tengah perbedaan.

Bagi anggota Polri, pesan itu memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan sehari-hari. Setiap anggota bertemu masyarakat dengan latar belakang, kebutuhan, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, kemampuan menjaga sikap dan membangun komunikasi menjadi bagian penting dalam pelayanan.

Pesan dari Pesantren Menjadi Bekal Personel Polres Banjar

Dilansir dari Polres Banjar, Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro mengatakan pembinaan rohani dan mental menjadi bagian penting dalam membentuk personel yang profesional sekaligus memiliki integritas dan kepedulian terhadap masyarakat.

“Pengabdian kepada masyarakat membutuhkan profesionalitas yang dibarengi ketulusan, integritas dan kepedulian. Nilai-nilai yang disampaikan dalam Ngaji Kebangsaan ini menjadi pengingat bagi seluruh personel untuk terus menjaga persatuan serta memberikan pelayanan dengan hati,” ujar Didi.

Menurutnya, tugas kepolisian bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, setiap anggota perlu menjaga sikap, menghormati perbedaan, dan mengedepankan pendekatan yang humanis ketika menjalankan tugas.

Pesan tersebut membuat kegiatan keagamaan memiliki kaitan dengan pekerjaan anggota di lapangan. Setelah mengikuti pembinaan, personel tetap kembali pada tugas utama: memberikan pelayanan, menjaga keamanan, dan merespons kebutuhan masyarakat secara profesional.

Dari Rembang ke Banjar, Pesan Persatuan Tidak Berhenti di Forum

Ada sisi menarik dari Ngaji Kebangsaan Gus Baha yang diikuti Polres Banjar. Kegiatan tersebut mempertemukan ruang pesantren dengan institusi kepolisian dalam satu forum kebangsaan.

Di Rembang, santri dan jajaran Polri mengikuti kegiatan secara langsung. Pada saat yang sama, puluhan ribu peserta lain menyimak melalui jaringan virtual dari berbagai daerah. Polres Banjar menjadi salah satu bagian dari rangkaian partisipasi tersebut.

Bagi masyarakat, pesan persatuan tidak berhenti pada forum pengajian. Nilainya dapat terlihat dari tindakan sehari-hari, terutama ketika aparat berhadapan langsung dengan warga.

Mendengarkan keluhan, menghormati perbedaan, menjaga tutur kata, serta memberikan pelayanan secara profesional merupakan bentuk sederhana dari pengabdian.

Karena itu, pembinaan rohani seperti ini memiliki konteks yang lebih luas. Nilai yang didengar dalam forum baru memiliki makna ketika anggota mampu menerapkannya dalam pekerjaan.

Pengabdian Diukur dari Cara Melayani

Kegiatan Ngaji Kebangsaan Gus Baha memberikan ruang bagi jajaran Polri untuk kembali mengingat hubungan antara nilai kebangsaan dan pengabdian.

Persatuan tidak hanya menjadi tema dalam pidato. Di lapangan, persatuan juga hadir melalui cara aparat memperlakukan masyarakat secara adil, menghargai perbedaan, dan menjaga komunikasi tetap terbuka.

Dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA di Rembang, pesan tersebut kemudian tersambung secara virtual ke berbagai daerah. Salah satunya Polres Banjar.

Pada akhirnya, nilai sebuah pembinaan tidak hanya terlihat dari ramainya peserta atau panjangnya rangkaian acara. Ukurannya juga terletak pada apa yang dilakukan setelah kegiatan berakhir.

Dari pesantren di Rembang hingga Masjid At Taubah Polres Banjar, satu pesan menempuh perjalanan melalui layar: persatuan tidak cukup diucapkan. Ia harus hadir dalam cara setiap orang menjalankan tugas, menghormati perbedaan, dan melayani sesama. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less