Bukan Sekadar Perangkat, Disdik Ciamis Uji Pemanfaatan Digitalisasi
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- visibility 83
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi pemasangan smart TV di sekolah sebagai bentuk Digitalisasi Pendidikan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Digitalisasi pendidikan Ciamis mulai mendapat perhatian lebih dekat hingga ke ruang kelas. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis bersama Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat melakukan monitoring pemanfaatan bantuan sarana digitalisasi pembelajaran di sejumlah sekolah.
Monitoring tersebut menarik bukan semata karena perangkat digital telah tersedia. Persoalan yang lebih penting justru berada setelah perangkat diterima: apakah teknologi benar-benar digunakan, dirawat, dan memberi nilai tambah bagi proses belajar siswa?
Pertanyaan itu menjadi relevan karena digitalisasi pendidikan tidak selesai ketika perangkat tiba di sekolah. Teknologi baru memiliki arti ketika penggunaannya mampu membantu guru mengajar dan siswa memahami materi dengan lebih baik.
Tiga Sekolah Jadi Titik Pantau
Dikutip dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, monitoring dilakukan pada satuan pendidikan lintas jenjang. Tiga lokasi yang menjadi titik kunjungan adalah TK Kijang di Kecamatan Cihaurbeuti, SD IT Al-Amin di Kecamatan Sindangkasih, dan SMPN 6 Ciamis.
Pada TK Kijang, pemantauan diarahkan pada pengenalan media digital yang interaktif dan ramah anak. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan karakteristik pendidikan usia dini yang membutuhkan metode belajar yang menarik sekaligus sesuai perkembangan anak.
Kemudian, SD IT Al-Amin menjadi lokasi untuk melihat pemanfaatan sarana digital dalam pembelajaran literasi, numerasi, dan materi dasar.
Sementara itu, di SMPN 6 Ciamis, penggunaan perangkat digital diarahkan untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek, eksplorasi riset mandiri, serta proses evaluasi belajar siswa.
Perbedaan tiga jenjang tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak bisa memakai satu pola untuk semua sekolah. Teknologi yang efektif untuk anak usia dini belum tentu memiliki pendekatan yang sama dengan pembelajaran di SMP.
Perangkat Sudah Ada, Lalu Apa?
Di sinilah persoalan digitalisasi pendidikan menjadi lebih menarik.
Pengadaan perangkat dapat terlihat secara kasatmata. Komputer, perangkat pembelajaran, aplikasi, atau sarana pendukung lainnya bisa dihitung. Namun, kualitas pemanfaatannya jauh lebih sulit diukur hanya dari jumlah perangkat.
Disdik Ciamis dan BBPMP Jawa Barat sendiri menempatkan optimalisasi penggunaan sebagai salah satu sasaran monitoring. Perangkat yang diterima sekolah diharapkan digunakan secara aktif, dirawat, dan tepat sasaran oleh pendidik maupun siswa.
Artinya, pekerjaan belum selesai ketika bantuan sampai di sekolah.
Sekolah perlu memastikan perangkat tetap berfungsi. Guru juga membutuhkan kemampuan untuk memilih dan menggunakan teknologi sesuai kebutuhan pembelajaran. Pada saat yang sama, siswa harus memperoleh manfaat nyata dari penggunaannya.
Jika perangkat hanya tersimpan di ruang tertentu atau digunakan sesekali tanpa memperkuat proses belajar, tujuan digitalisasi tentu belum sepenuhnya tercapai.
Karena itu, monitoring menjadi penting. Pemerintah tidak cukup hanya mengetahui berapa banyak perangkat yang tersedia, tetapi juga perlu mengetahui seberapa sering dan seberapa efektif perangkat tersebut digunakan.
Digitalisasi Harus Mengubah Cara Belajar
Teknologi seharusnya bukan sekadar memindahkan materi dari papan tulis ke layar.
Dalam kegiatan monitoring tersebut, Disdik Ciamis dan BBPMP Jawa Barat menempatkan inovasi metode pengajaran sebagai salah satu fokus. Guru didorong memanfaatkan platform digital untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif.
Namun, interaktif tidak otomatis berarti efektif.
Pembelajaran tetap membutuhkan tujuan yang jelas. Teknologi harus membantu siswa memahami materi, mengeksplorasi informasi, mengembangkan kemampuan berpikir, atau menyelesaikan persoalan secara lebih baik.
Karena itu, ukuran keberhasilan digitalisasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apakah perangkat digunakan?”
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: “apa perubahan yang dirasakan siswa setelah perangkat itu digunakan?”
Jawabannya dapat terlihat dari kualitas proses belajar, keterlibatan siswa, kemampuan memahami materi, hingga kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Tiga Target yang Perlu Dibuktikan
Monitoring yang dilakukan pada Kamis, 1 Oktober 2026 tersebut memiliki tiga fokus utama.
Pertama, optimalisasi penggunaan. Perangkat harus aktif digunakan, dirawat, dan sesuai kebutuhan.
Kedua, inovasi metode pengajaran. Guru didorong menggunakan teknologi untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.
Ketiga, pembelajaran bermakna. Teknologi diharapkan membantu siswa memahami materi melalui media visual, simulasi, dan sumber belajar digital yang beragam.
Ketiga sasaran itu terlihat sederhana. Namun, pelaksanaannya membutuhkan konsistensi.
Sebab, transformasi digital di sekolah bukan proyek satu hari. Setelah monitoring selesai, tantangan berikutnya justru memastikan penggunaan perangkat tetap berjalan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Jangan Sampai Digitalisasi Berhenti di Laporan
Ada satu hal yang patut menjadi perhatian dalam setiap program digitalisasi pendidikan: indikator keberhasilan harus terlihat di ruang kelas, bukan hanya dalam laporan administrasi.
Perangkat yang digunakan tentu merupakan perkembangan positif. Namun, manfaat akhirnya tetap harus kembali kepada siswa.
Guru membutuhkan dukungan kompetensi. Sekolah membutuhkan pemeliharaan perangkat. Siswa membutuhkan akses dan pengalaman belajar yang relevan. Pemerintah juga membutuhkan indikator yang dapat menunjukkan apakah investasi sarana digital benar-benar menghasilkan perubahan.
Karena itu, monitoring seperti yang dilakukan Disdik Ciamis bersama BBPMP Jawa Barat memiliki nilai penting apabila hasilnya tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan.
Yang paling penting justru apa yang terjadi setelah monitoring.
Apakah perangkat semakin sering digunakan? Apakah metode belajar semakin variatif? Apakah siswa semakin aktif? Dan yang paling mendasar, apakah pemanfaatan teknologi membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah digitalisasi pendidikan benar-benar menjadi transformasi atau sekadar pergantian alat.
Ciamis sudah melangkah dengan menghadirkan sarana digital di sekolah. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut tidak berhenti sebagai perangkat yang tersimpan, melainkan benar-benar bekerja untuk kepentingan pendidikan.
Sebab, sekolah yang digital bukan yang paling banyak memiliki perangkat, tetapi yang mampu mengubah teknologi menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswanya. (Red)
- Penulis: redaktur






