Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Kekeringan Ancam Lahan, Garut Salurkan Benih Padi dan Jagung

Kekeringan Ancam Lahan, Garut Salurkan Benih Padi dan Jagung

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Pemerintah Kabupaten Garut bersama Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) dan Kelompok Peduli Pangan menyalurkan 280 kilogram benih padi dan jagung kepada kelompok tani di Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong. Bantuan ini disalurkan di tengah ancaman kekeringan yang berdampak pada lahan pertanian di wilayah tersebut.

Bantuan terdiri atas 250 kilogram benih padi dan 30 kilogram benih jagung. Penyalurannya berlangsung di Lapang Harum Madu, Kecamatan Bayongbong, Senin (19/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia 2026.

Di tengah upaya mendukung produksi pangan, persoalan ketersediaan air masih menjadi tantangan bagi petani. Karena itu, bantuan benih perlu berjalan beriringan dengan penanganan kekeringan dan perbaikan infrastruktur irigasi.

Bantuan Benih Garut Disalurkan kepada Kelompok Tani

Kepala UPT Pertanian Wilayah 9, Teddy Gumilar, menjelaskan bahwa benih diserahkan melalui ketua kelompok tani untuk selanjutnya dibagikan kepada para anggota sesuai kebutuhan.

Selain benih padi dan jagung, petani juga dapat memanfaatkan benih tanaman lain, seperti bayam, sosin atau sawi, dan seledri. Pemilihan komoditas dapat menyesuaikan kebutuhan serta kondisi lahan yang tersedia.

Teddy juga mendorong masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT), memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman pangan. Cara ini dapat membantu keluarga memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Meski demikian, penyaluran benih bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan produksi. Petani tetap membutuhkan air yang cukup, sarana produksi, serta kondisi lahan yang mendukung agar kegiatan tanam dapat berlangsung dengan baik.

Sekitar 42 Hektare Lahan Terdampak Kekeringan

Direktur Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Kadafi, menyampaikan bahwa sekitar 42 hektare lahan pertanian di wilayah perbatasan tiga kecamatan terdampak kekeringan ekstrem.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertanian tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan benih. Ketika sumber air menyusut atau pasokan irigasi tidak mencukupi, petani berisiko mengalami kesulitan dalam mempertahankan kegiatan tanam.

Salah seorang anggota KWT, Mayati, menggambarkan perubahan kondisi air yang dirasakan masyarakat. Ia menyebut pasokan air yang sebelumnya masih tersedia dalam jumlah terbatas kini tidak lagi mencukupi.

Keluhan tersebut memperlihatkan pentingnya penanganan yang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Namun, angka sekitar 42 hektare itu merujuk pada keterangan Mulyono, bukan gambaran seluruh lahan pertanian di Kabupaten Garut.

Penanganan Kekeringan Membutuhkan Solusi Bertahap

Untuk membantu mengatasi keterbatasan air, SSC bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Upaya penanganan mencakup langkah jangka pendek, menengah, dan panjang.

Dalam jangka pendek, pemompaan air sungai dilakukan sebagai upaya darurat untuk membantu memenuhi kebutuhan air. Adapun untuk jangka menengah, terdapat upaya pengeboran sumur melalui dukungan BBWS di sejumlah wilayah, termasuk Desa Padamukti, Kecamatan Pasirwangi, dan Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong.

Untuk jangka panjang, SSC mengusulkan peningkatan infrastruktur irigasi agar distribusi air dapat mendukung kegiatan pertanian secara lebih berkelanjutan.

Mulyono juga menekankan pentingnya pemulihan kawasan hutan di hulu sungai dan daerah pegunungan. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat dan sektor pertanian.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan kekeringan memerlukan koordinasi berbagai pihak. Bantuan benih dapat mendukung proses produksi, tetapi ketersediaan air dan infrastruktur yang memadai tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian.

Petani Berharap Ada Bantuan Lanjutan

Mayati berharap pemerintah memberikan dukungan lanjutan kepada petani, terutama berupa benih padi dan pupuk untuk menghadapi musim tanam berikutnya.

Harapan tersebut menegaskan bahwa kebutuhan petani tidak berhenti pada penyaluran benih. Dukungan sarana produksi, kepastian pasokan air, dan penanganan irigasi juga diperlukan agar proses tanam memiliki peluang lebih baik untuk menghasilkan panen.

Peringatan Hari Pangan Sedunia di Bayongbong menjadi momentum untuk melihat ketahanan pangan secara lebih menyeluruh. Ketersediaan benih, kecukupan air, infrastruktur irigasi, dan pengelolaan lingkungan merupakan unsur yang saling berkaitan.

Benih memberi petani kesempatan untuk menanam, tetapi ketersediaan air dan irigasi yang memadai ikut menentukan apakah kesempatan itu berujung pada panen. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less