Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Dunia » Inggris Batasi Media Sosial Remaja, Patut Jadi Contoh?

Inggris Batasi Media Sosial Remaja, Patut Jadi Contoh?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DUNIA – Ketika banyak negara masih mencari cara terbaik melindungi anak di ruang digital, Inggris memilih langkah yang berbeda. Mengutip Reuters dan keterangan resmi Pemerintah Inggris, pemerintah berencana menerapkan pengaturan bawaan (default) yang membatasi akses media sosial bagi remaja berusia 16 hingga 17 tahun mulai pukul 00.00 hingga 06.00. Kebijakan yang dikenal sebagai default social media curfew itu menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan anak dan remaja di era digital, sekaligus mengurangi dampak negatif penggunaan media sosial pada malam hari.

Berbeda dengan larangan total, pengaturan tersebut masih dapat dinonaktifkan (opt out) oleh pengguna. Namun, pemerintah berharap pengaturan bawaan ini mampu membantu remaja membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, terutama terkait kualitas tidur, kesehatan mental, dan waktu belajar.

Langkah ini segera menarik perhatian dunia. Sebagian kalangan memuji pendekatan tersebut sebagai bentuk perlindungan yang lebih proporsional. Sebaliknya, sebagian lainnya mempertanyakan efektivitas aturan yang masih memberi ruang bagi pengguna untuk mengubah pengaturan awal.

Inggris Memilih Membatasi, Bukan Melarang

Pemerintah Inggris tidak menutup akses media sosial sepenuhnya bagi remaja. Sebaliknya, mereka menerapkan pembatasan otomatis pada jam-jam yang dinilai paling berisiko terhadap kualitas tidur dan kesejahteraan digital.

Selain pengaturan waktu penggunaan, pemerintah juga mengusulkan agar platform media sosial menonaktifkan secara bawaan sejumlah fitur yang dianggap mendorong penggunaan berlebihan, seperti autoplay dan infinite scrolling. Kedua fitur tersebut dinilai membuat pengguna terus menggulir layar tanpa menyadari lamanya waktu yang telah dihabiskan.

Pendekatan ini menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah. Jika sebelumnya fokus lebih banyak tertuju pada penghapusan konten berbahaya, kini perhatian juga diarahkan pada desain platform yang dapat memengaruhi perilaku pengguna.

Data dari Ofcom, regulator komunikasi Inggris, menunjukkan mayoritas remaja di negara tersebut menggunakan media sosial setiap hari. Kondisi itu mendorong pemerintah mencari keseimbangan antara manfaat teknologi dan perlindungan terhadap kelompok usia yang masih berada dalam masa perkembangan.

Tidur Remaja Kini Menjadi Perhatian Serius

Alasan utama di balik kebijakan tersebut bukan sekadar membatasi penggunaan gawai, melainkan menjaga kesehatan remaja.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa tidur yang cukup berperan penting terhadap kesehatan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, dan kesehatan mental anak maupun remaja. Sementara itu, berbagai penelitian menunjukkan penggunaan layar hingga larut malam dapat mengganggu kualitas tidur dan menurunkan konsentrasi pada keesokan harinya.

Pemerintah Inggris juga mengungkapkan bahwa konsultasi dan uji coba yang melibatkan ratusan remaja beserta orang tua menunjukkan adanya manfaat ketika penggunaan media sosial dibatasi pada malam hari. Hasilnya antara lain berupa pola tidur yang lebih baik, meningkatnya fokus belajar, dan bertambahnya waktu interaksi bersama keluarga.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini bukan satu-satunya solusi. Edukasi digital dan peran orang tua tetap menjadi bagian penting dalam membentuk kebiasaan penggunaan internet yang sehat.

Aturan Baru yang Masih Memicu Perdebatan

Tidak semua pihak sepakat dengan langkah tersebut.

Sejumlah pakar teknologi menilai pengaturan bawaan belum tentu efektif karena remaja masih dapat menonaktifkannya. Tantangan lain juga muncul pada proses verifikasi usia pengguna serta kemungkinan penggunaan VPN untuk menghindari pembatasan.

Namun, pemerintah Inggris berpandangan bahwa pengaturan bawaan tetap memiliki dampak positif. Banyak pengguna tidak pernah mengubah konfigurasi awal perangkat atau aplikasi. Karena itu, pembatasan otomatis dinilai tetap mampu mengurangi penggunaan media sosial pada waktu istirahat.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak di internet bukan persoalan sederhana. Regulasi harus mampu menjaga keseimbangan antara hak pengguna, kebebasan berekspresi, dan perlindungan terhadap kelompok rentan.

Bisakah Menjadi Contoh bagi Negara Lain?

Pertanyaan ini mulai muncul seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap dampak media sosial.

Data UNICEF menunjukkan internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak dan remaja. Di sisi lain, isu seperti kecanduan digital, kesehatan mental, perundungan siber, hingga paparan konten berbahaya terus menjadi tantangan global.

Karena itu, kebijakan Inggris dapat menjadi salah satu referensi, meski tidak bisa diterapkan secara mentah di setiap negara. Kondisi sosial, budaya, tingkat literasi digital, serta regulasi di masing-masing negara tentu berbeda.

Bagi Indonesia, misalnya, diskusi mengenai perlindungan anak di ruang digital semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan internet oleh kelompok usia muda. Yang terpenting bukan sekadar membatasi akses, melainkan menciptakan ekosistem digital yang sehat melalui regulasi, edukasi, inovasi teknologi, dan keterlibatan keluarga.

Menjaga Masa Depan Digital Generasi Muda

Teknologi tidak pernah menjadi musuh. Media sosial juga telah membuka banyak peluang dalam pendidikan, kreativitas, hingga ekonomi digital.

Namun, semakin besar manfaatnya, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan teknologi digunakan secara bijak. Itulah sebabnya berbagai negara mulai beralih dari sekadar membahas kebebasan digital menuju perlindungan digital.

Apakah kebijakan serupa layak diterapkan di negara lain masih akan menjadi bahan diskusi. Akan tetapi, satu hal semakin jelas: menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan digital remaja kini bukan lagi sekadar urusan keluarga, melainkan telah menjadi agenda kebijakan publik di berbagai negara.

Di era ketika notifikasi tak pernah benar-benar tidur, tantangan terbesar bukanlah menghentikan teknologi, melainkan memastikan teknologi tidak mengambil alih waktu istirahat, kesehatan, dan masa depan generasi muda. Inggris telah memulai perdebatan itu. Kini, dunia menunggu bagaimana setiap negara akan menjawabnya. (Red)

 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Daging Babi ke Masjid

    Aksi Provokatif ke Masjid Berakhir Penjara, Singapura Bertindak Tegas

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 113
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Kasus kirim daging babi ke masjid di Singapura akhirnya berujung penjara. Kecewa karena kontrak kerjanya tidak diperpanjang, seorang pria warga Singapura berusia 62 tahun, dilaporkan mengirim paket berisi daging babi ke tujuh masjid berbeda. Peristiwa itu langsung memancing perhatian luas karena menyentuh isu sensitif soal agama dan kerukunan sosial di negara […]

  • Suasana haru pelepasan jamaah haji Tasikmalaya di Gedung Dakwah Islamiyah, Selasa (5/5/2026).

    441 Jamaah Haji Berangkat, Suasana Haru Selimuti Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 109
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Jamaah Haji Tasikmalaya resmi diberangkatkan menuju Tanah Suci. Sebanyak 441 orang dari Kloter 20KJT dilepas dalam suasana haru yang tak terbendung, Selasa pagi (5/5/2026). Sejak matahari belum tinggi, keluarga sudah memadati area Gedung Dakwah Islamiyah. Sebagian berdiri rapat di pinggir jalan. Sebagian lagi duduk sambil menggenggam tas kecil milik orang yang […]

  • Ilustrasi menu sederhana di restoran hotel bintang 5 yang disajikan mewah dengan plating elegan dan suasana premium.

    Menu Murah yang Jadi Mahal: Rahasia Branding Hotel Bintang 5

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 119
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Branding hotel menjadi alasan utama mengapa makanan sederhana bisa berubah sangat mahal ketika masuk restoran hotel bintang 5. Nasi goreng, kentang goreng, bahkan air mineral yang biasa saja di luar, mendadak terasa premium saat hadir di meja marmer dengan lampu temaram dan pelayanan super ramah. Fenomena ini bukan sekadar soal rasa makanan. […]

  • penganiayaan remaja

    Polisi Selidiki Penganiayaan Remaja di Tasikmalaya

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Penganiayaan remaja di Tasikmalaya membuat dua pelajar luka serius dan memicu sorotan pada keamanan jalan kota. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Dua remaja di Kota Tasikmalaya mengalami luka serius usai menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang bermotor, Sabtu (13/12/2025) dini hari. Peristiwa ini kembali menyoroti rapuhnya rasa aman warga, khususnya pelajar, di ruang publik pada jam […]

  • Situasi keamanan WNI di Meksiko meningkat pascakerusuhan kartel, Kemlu imbau waspada dan jaga komunikasi KBRI.

    WNI di Meksiko Diminta Siaga, Kerusuhan Kartel Meluas

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 140
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Situasi keamanan WNI di Meksiko kembali menjadi sorotan setelah kerusuhan kartel meningkat di sejumlah wilayah. Pemerintah memastikan warga negara Indonesia atau diaspora Indonesia di Meksiko dalam kondisi aman. Meski demikian, Kemlu meminta seluruh WNI di Meksiko meningkatkan kewaspadaan dan menjaga komunikasi intensif dengan KBRI Mexico City. Sejak eskalasi keamanan terjadi, pemerintah […]

  • Strategi branding sekolah untuk membangun kepercayaan publik dan daya saing pendidikan nasional

    Branding Sekolah dan Tanggung Jawab Pendidikan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 140
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di tengah meningkatnya persaingan dunia pendidikan, sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai ruang transfer pengetahuan. Kini, masyarakat menuntut lebih dari sekadar capaian akademik. Selain mutu pembelajaran, orang tua juga menaruh perhatian besar pada pembentukan karakter, kejelasan arah pendidikan, serta nilai-nilai yang ditanamkan. Oleh karena itu, situasi ini menandai perubahan mendasar dalam cara […]

expand_less