Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Radikalisme Digital: Ancaman Baru yang Tumbuh di Saku Anak-anak

Radikalisme Digital: Ancaman Baru yang Tumbuh di Saku Anak-anak

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
  • visibility 236
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF — Setiap kali laporan baru tentang radikalisasi muncul, publik sering membayangkan proses perekrutan yang berlangsung di ruang-ruang gelap. Dalam imajinasi itu, ekstremisme tumbuh jauh dari pusat kehidupan sehari-hari. Namun data beberapa tahun terakhir menabrak asumsi tersebut. Radikalisme kini hadir melalui jalur yang justru paling dekat: ponsel anak-anak.

Perangkat yang semestinya menjadi ruang belajar berubah menjadi pintu bagi ideologi kekerasan. Mantan Kepala Densus 88, Martinus Hukom, menyebut fenomena ini sebagai pergeseran otoritas moral anak ke ruang yang tak lagi bisa dikontrol keluarga. Pernyataan itu bukan alarm kosong. Ia diperkuat data dan pola yang sudah terbaca aparat selama lima tahun terakhir.

Fenomena ini layak dikaji, bukan sekadar sebagai isu keamanan, tetapi sebagai masalah sosial yang mempengaruhi arah generasi baru.


Data Mengatakan Satu Hal: Anak-anak Sudah Jadi Target Serius

Dalam laporan internal Polri yang disampaikan berkala sejak 2020, proses rekrutmen jaringan ekstrem mulai memanfaatkan game online, forum diskusi tertutup, dan aplikasi percakapan terenkripsi. Puncaknya pada 2024–2025, ketika Densus 88 merilis temuan: 110 anak di 23 provinsi teridentifikasi pernah berinteraksi dengan simpatisan jaringan teror.

Angka itu bukan hanya statistik. Ia menggambarkan betapa luasnya medan baru yang tidak bisa dijangkau dengan mekanisme pengawasan konvensional.

Jika dibandingkan data tahun 2018–2019, jumlah anak yang terekspos konten ekstrem naik hampir tiga kali lipat. Tren ini terjadi seiring meningkatnya kepemilikan ponsel pada usia 9–15 tahun. Survei APJII menunjukkan penetrasi internet pada usia sekolah dasar-dini remaja mencapai 62%, naik drastis dari 35% satu dekade lalu. Di titik inilah radikalisme menemukan celah: ruang tanpa pendampingan yang dipadati algoritma yang sulit dikendalikan.


Pola Radikalisasi Baru: Tidak Lagi Ideologis, Tetapi Emosional

Salah satu yang berubah dari radikalisme digital adalah pintu masuknya. Jika pada dekade awal ekstremisme menyasar pemahaman ideologis, kini banyak rekrutmen menggunakan pendekatan psikologis: rasa ingin diterima, kebutuhan menjadi “bagian dari sesuatu”, atau pencarian figur otoritas. Remaja—yang memang sedang mencari identitas—mudah terpikat oleh narasi yang menawarkan kepastian moral.

Baca juga: Eks Kepala Densus 88 Peringatkan Radikalisme Digital yang Bidik Remaja

Model rekrutmen ini terlihat serupa dengan pola grooming dalam kasus kekerasan seksual atau penipuan digital. Pelaku mengawali komunikasi dengan membangun kedekatan emosional, bukan doktrin. Konten ekstrem muncul belakangan. Dalam beberapa kasus yang dipublikasikan BNPT, fase kedekatan bisa berlangsung berminggu-minggu sebelum ideologi kekerasan dikenalkan.

Di titik ini, radikalisasi menjadi fenomena psikososial, bukan semata isu ideologi.


Tanggung Jawab Negara Ada, Tetapi Tembok Pertama Tetap Keluarga

Seruan Densus 88 tentang pentingnya “sidak ponsel anak” sering menuai kritik. Sebagian orang tua menganggapnya berlebihan. Tapi data tadi menunjukkan bahwa rekrutmen digital lebih senyap dibanding yang pernah ada sebelumnya. Aplikasi perpesanan terenkripsi dan mode private menjadi faktor utama mengapa orang tua sulit melihat tanda-tanda awal.

Tentu, pengawasan keluarga bukan solusi tunggal. Negara tetap memiliki tanggung jawab membangun arsitektur perlindungan digital yang lebih kuat. Regulasi platform, peningkatan literasi digital sekolah, dan kolaborasi lintas lembaga harus menjadi langkah paralel. Tetapi keluarga tetap benteng pertama. Bukan hanya memantau ponsel, tetapi membangun komunikasi yang memungkinkan anak bercerita lebih dulu sebelum internet melakukannya.


4. Tantangan Baru: Radikalisme Tanpa Geografi

Jika dulu radikalisme banyak berakar dari komunitas fisik, kini batas geografis tak ada artinya. Seorang anak di Tasikmalaya dapat mengobrol dengan seseorang di luar negeri dengan satu klik. Jaringan ekstrem global bergerak dengan metode yang sangat halus: memproduksi konten yang tampak seperti diskusi sejarah, memberikan ruang curhat, hingga menciptakan komunitas permainan daring yang memiliki struktur hierarki.

Dalam riset RAND Corporation tahun 2023, pola radikalisasi anak di berbagai negara menunjukkan tren serupa: mereka tidak merasa bergabung dengan “kelompok teroris”, melainkan menemukan “teman bicara”. Proses ini yang membuat radikalisme digital sulit dideteksi, bahkan bagi orang tua yang merasa dekat dengan anaknya sendiri.

Indonesia tidak kebal terhadap pola ini. Justru dengan tingginya penetrasi internet dan budaya digital yang longgar dalam keluarga, risikonya meningkat.


Di Masa Depan, Pengawasan Digital Akan Sama Pentingnya dengan Pendidikan Moral

Fenomena radikalisme digital menandai fase baru dalam hubungan antara anak, teknologi, dan keamanan publik. Pengawasan digital bukan lagi sekadar aturan rumah tangga, tetapi bagian dari pendidikan moral itu sendiri. Jika nilai-nilai dapat dipelajari dari layar, maka ruang digital harus diperlakukan seperti ruang pendidikan, bukan sekadar sumber hiburan.

Perlu ada kesadaran kolektif bahwa ancaman digital tidak bisa dilawan dengan retorika keras atau operasi penindakan semata. Yang dibutuhkan adalah literasi, dialog, dan kehadiran orang dewasa—baik keluarga, sekolah, maupun negara—di tempat anak-anak menghabiskan waktunya: ruang digital.


Radikalisme digital adalah ancaman kontemporer yang bergerak senyap dan memanfaatkan celah psikologis remaja. Menghadapinya memerlukan pendekatan baru: bukan sekadar aparat pemerintah, tetapi kedewasaan digital dalam keluarga dan kebijakan negara yang adaptif. Ruang digital telah menjadi ruang moral baru, dan siapa yang mengisinya akan menentukan arah satu generasi. (Red/Arrian)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kecelakaan Anggota Polres Ciamis

    Kecelakaan Tragis, Dua Polisi Ciamis Meninggal Dunia

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 95
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kecelakaan anggota Polres Ciamis kembali menjadi sorotan setelah dua personel Polri meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 22.30 WIB. Insiden kecelakaan polisi yang melibatkan motor dinas dan sebuah bus pariwisata itu kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian untuk memastikan penyebab pastinya. Peristiwa […]

  • Fosfor Tugu Koperasi

    Dugaan Fosfor Tugu Koperasi Tasikmalaya Tunggu Kajian Ahli

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 33
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Fosfor Tugu Koperasi menjadi perhatian setelah muncul informasi mengenai dugaan material fosfor yang disebut berada di sebuah kolam di belakang kawasan Tugu Koperasi, Kota Tasikmalaya. Hingga kini, material yang diduga fosfor tersebut belum dievakuasi karena masih menunggu kajian teknis dari instansi yang berwenang. Informasi awal mengenai keberadaan material itu disampaikan oleh […]

  • Kepemimpinan Santri

    Jarang Disadari, Ini 5 Cara Pesantren Mencetak Jiwa Pemimpin

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Tidak banyak yang sadar bahwa banyak pemimpin tangguh di Indonesia justru lahir dari lingkungan sederhana: pesantren. Di balik jadwal padat dan kehidupan disiplin, kepemimpinan santri terbentuk melalui kebiasaan harian yang tampak biasa, namun memiliki dampak luar biasa. Nilai kepemimpinan pesantren, karakter santri, serta pola pendidikan berbasis pengalaman nyata membuat santri belajar memimpin […]

  • usaha minuman kekinian

    Ternyata Ini Peluang Usaha Minuman Kekinian Paling Cepat Balik Modal

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Usaha minuman kekinian kini menjadi salah satu peluang bisnis paling menjanjikan. Banyak orang mencari ide bisnis minuman modern, peluang jualan minuman viral, hingga usaha minuman modal kecil yang cepat balik modal. Namun, tidak semua menyadari bahwa keberhasilan bisnis ini bukan hanya soal tren, melainkan strategi yang tepat. Selain itu, perubahan gaya […]

  • Tasik Open 2026

    Karateka dari Yogya hingga Bandung Ramaikan Tasik Open 2026

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 117
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Ajang Tasik Open 2026 langsung mencuri perhatian publik olahraga bela diri di Priangan Timur. Sebanyak 396 peserta karate dari berbagai daerah memadati GOR Sukapura pada Sabtu (16/5/2026) untuk bertanding dalam turnamen yang baru pertama kali digelar tersebut. Tasik Open 2026 bukan hanya menghadirkan persaingan di atas matras. Turnamen ini juga menjadi […]

  • Rumah Tidak Layak Huni

    Prabowo Targetkan 400 Ribu Rumah Tidak Layak Huni Direhabilitasi pada 2026

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Prabowo targetkan 400 ribu rumah tidak layak huni direhabilitasi pada 2026 lewat program BSPS. albadarpost.com, LENSA – Presiden Prabowo Subianto menetapkan target ambisius: sebanyak 400 ribu unit rumah tidak layak huni akan direhabilitasi melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menekan angka masyarakat yang […]

expand_less