Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Dulu Seberangi Sungai, Kini Akses Pendidikan Pedesaan Lebih Aman

Dulu Seberangi Sungai, Kini Akses Pendidikan Pedesaan Lebih Aman

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 154
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA Jembatan gantung yang menghubungkan wilayah Pangandaran dan Tasikmalaya kini menjadi jalur utama warga, sekaligus membuka babak baru bagi akses pendidikan pedesaan. Bagi anak-anak sekolah, jembatan ini mengakhiri risiko harian yang selama bertahun-tahun mereka hadapi saat menyeberangi sungai.

Jembatan gantung Harumandala menghubungkan Desa Harumandala, Kabupaten Pangandaran, dengan Desa Sindangasih, Kabupaten Tasikmalaya. Sejak berfungsi akhir Desember 2025, jembatan ini langsung dimanfaatkan warga untuk aktivitas harian, terutama perjalanan anak-anak menuju sekolah.

Sebelumnya, sungai menjadi satu-satunya jalur penghubung. Saat debit air naik, anak-anak kerap menunda sekolah. Dalam kondisi tertentu, mereka tetap menyeberang dengan risiko keselamatan yang tinggi. Situasi ini berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi permanen.

Baca juga: Ciamis Tolak Bersih Dadakan, Bank Sampah Jadi Andalan

Kini, jembatan gantung mengubah pola itu. Anak-anak dapat berangkat sekolah dengan waktu tempuh lebih singkat dan rasa aman yang lebih besar. Orang tua tidak lagi dihantui kecemasan setiap musim hujan tiba.

Keselamatan Anak Jadi Titik Balik

Keselamatan anak menjadi dampak paling nyata dari hadirnya jembatan gantung tersebut. Akses yang sebelumnya bergantung pada kondisi alam kini berubah menjadi jalur yang stabil dan dapat diprediksi. Anak-anak tidak perlu lagi menghadapi arus sungai demi mengejar jam pelajaran.

Sejumlah guru di wilayah perbatasan Pangandaran–Tasikmalaya mencatat perubahan kehadiran siswa. Setelah jembatan digunakan, tingkat keterlambatan dan ketidakhadiran menurun. Sekolah menjadi lebih mudah dijangkau, terutama bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama.

Kondisi ini memperkuat akses pendidikan pedesaan, yang selama ini kerap terhambat persoalan infrastruktur dasar. Bagi wilayah terpencil, jarak bukan satu-satunya tantangan. Keamanan perjalanan menjadi faktor penentu keberlanjutan pendidikan anak.

Jembatan gantung ini juga memberi rasa percaya diri bagi anak-anak. Mereka dapat berangkat dan pulang sekolah tanpa ketergantungan pada orang dewasa, sebuah hal yang sebelumnya sulit dilakukan.

Infrastruktur Kecil, Dampak Besar

Pembangunan jembatan gantung Harumandala dilakukan melalui kolaborasi TNI Angkatan Darat dan masyarakat setempat. Prosesnya berlangsung relatif cepat dengan pendekatan gotong royong. Meski sederhana, dampaknya dirasakan langsung oleh warga.

Selain pendidikan, jembatan ini memperlancar mobilitas ekonomi. Petani lebih mudah mengangkut hasil panen, sementara warga dapat mengakses layanan kesehatan dan kebutuhan harian tanpa harus memutar jauh. Namun, bagi keluarga dengan anak usia sekolah, manfaat pendidikan tetap menjadi prioritas utama.

Keberadaan jembatan juga memperkecil kesenjangan layanan antara wilayah perbatasan dua kabupaten. Anak-anak tidak lagi terhambat oleh batas administratif ketika mengakses sekolah terdekat.

Pemerhati pendidikan lokal menilai pembangunan semacam ini sebagai contoh intervensi tepat sasaran. Infrastruktur kecil, jika dibangun sesuai kebutuhan warga, mampu memberi dampak sosial yang luas dan berkelanjutan.

Baca juga: Presiden Prabowo Bertemu Zidane, Ada apa?

Akses Pendidikan Pedesaan dan Tantangan Lanjutan

Meski jembatan gantung telah berfungsi, tantangan akses pendidikan pedesaan belum sepenuhnya selesai. Kondisi jalan menuju jembatan, penerangan, serta perawatan berkala masih membutuhkan perhatian. Pemerintah daerah didorong memastikan keberlanjutan fungsi jembatan agar manfaatnya tidak bersifat sementara.

Warga berharap keberhasilan ini menjadi pemicu pembangunan infrastruktur serupa di wilayah lain yang memiliki persoalan akses pendidikan. Banyak desa di kawasan perbukitan dan perbatasan masih menghadapi hambatan yang sama.

Bagi anak-anak Harumandala dan Sindangasih, jembatan gantung bukan sekadar bangunan fisik. Ia menjadi simbol hadirnya negara dalam memastikan hak dasar anak atas pendidikan yang aman dan layak.

Dengan akses yang lebih baik, harapan tumbuh. Sekolah tidak lagi menjadi perjalanan berisiko, melainkan rutinitas yang wajar dan aman bagi masa depan anak-anak pedesaan. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • pejabat Cianjur mundur

    Gelombang Pejabat Mundur Terjadi di Cianjur

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost menilai mundurnya pejabat Cianjur beruntun menandakan rapuhnya tata kelola birokrasi daerah. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Mundurnya pejabat struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur kembali bertambah. Kali ini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Ayi Reza Addairobi, meninggalkan jabatan struktural dan beralih menjadi pejabat fungsional. Dengan keputusan ini, total enam pejabat penting di Cianjur […]

  • Takdir Allah Ta'ala

    Allah Menghitung Umurmu dengan Napas, Bukan Tahun

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 67
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Coba ingat kembali berapa usia Anda hari ini. Tiga puluh tahun? Empat puluh? Enam puluh? Hampir semua orang menjawab dengan angka yang sama: jumlah tahun sejak lahir. Padahal, menurut para ulama tasawuf, terutama Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam, ukuran kehidupan tidak sesederhana itu. Takdir Allah berjalan pada setiap napas, bukan menunggu […]

  • Tafsir Al-Ankabut 2

    Mengapa Orang Baik Tetap Diuji? Jawabannya Ada di Al-Qur’an

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 177
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Menjelang Subuh, lampu-lampu masjid kampung masih menyala temaram. Di teras masjid, beberapa pasang sandal tersusun tidak beraturan. Ada jamaah yang datang sambil merapatkan jaket karena udara dini hari terasa dingin. Ada pula yang memarkir motor, lalu berjalan cepat ketika iqamah hampir dikumandangkan. Mereka salat. Mereka berdoa. Dan mereka berharap. Namun tidak semua […]

  • Hakordia 2025

    KPK Gelar Hakordia 2025 untuk Perkuat Gerakan Antikorupsi Nasional

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 186
    • 0Komentar

    KPK gelar Hakordia 2025 di Yogyakarta dengan agenda kolaborasi antikorupsi lintas sektor selama empat hari. albadarpost.com, LENSA – Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Hakordia 2025 sebagai gerakan kolaborasi nasional yang dipusatkan di Yogyakarta pada 6–9 Desember. Agenda empat hari ini bukan seremoni tahunan, tetapi ruang inklusif yang dirancang untuk memperluas partisipasi publik dalam pencegahan korupsi. Penetapan […]

  • Perbedaan malam Lailatul Qadr antara NU dan Muhammadiyah

    Malam 27 atau 28? Perbedaan Hitungan Lailatul Qadr, Ini Penjelasannya

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 139
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Perbincangan mengenai Lailatul Qadr yang berbeda kembali muncul di tengah masyarakat. Tahun ini, sebagian umat Islam menyebut malam ini sebagai malam 27 Ramadan menurut pemerintah dan Nahdlatul Ulama, sementara bagi Muhammadiyah malam yang sama justru dihitung sebagai malam ke-28 Ramadan. Perbedaan ini membuat sebagian orang bertanya-tanya: apakah Lailatul Qadr berbeda bagi masing-masing […]

  • Sejarah Kitab Hadis

    Terungkap! Rahasia di Balik Sejarah Penulisan Kitab Hadis dalam Islam

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 142
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Sejarah Kitab Hadis tidak hanya soal pencatatan sabda Nabi Muhammad SAW, tetapi juga perjalanan panjang penuh kehati-hatian, perdebatan, dan ketelitian ilmiah dalam penulisan kitab hadis serta kodifikasi hadis Nabi. Pada awalnya, bahkan sempat muncul larangan penulisan hadis secara umum, sebelum akhirnya berkembang menjadi tradisi ilmiah yang melahirkan kitab-kitab rujukan besar dalam Islam. […]

expand_less