Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Kunjungan Wisata Priangan Timur Turun 25 Persen, Ada Apa?

Kunjungan Wisata Priangan Timur Turun 25 Persen, Ada Apa?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 36
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kunjungan wisata Priangan Timur mengalami penurunan dalam catatan statistik 2024. Jumlah kunjungan ke objek wisata di enam wilayah kawasan tersebut tercatat 8.365.615, turun sekitar 25,4 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 11.209.289 kunjungan.

Penurunan itu terlihat pada sejumlah daerah yang sebelumnya menjadi magnet pariwisata. Kabupaten Garut dan Kabupaten Pangandaran, misalnya, sama-sama mencatat angka lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan Pangandaran mencatat 3.297.362 kunjungan pada 2024. Sementara itu, Garut membukukan 1.981.104 kunjungan.

Jika digabungkan, kedua daerah tersebut menyumbang sekitar 63,1 persen dari total kunjungan enam wilayah Priangan Timur. Meski masih mendominasi, porsinya lebih rendah dibandingkan 2023 yang mencapai sekitar 69,3 persen.

Perubahan ini membuka pertanyaan lebih besar: apakah daya tarik wisata di Priangan Timur sedang melemah, atau ada perubahan dalam pola pencatatan dan mobilitas pengunjung?

Enam Wilayah Mencatat 8,36 Juta Kunjungan

Perbandingan data 2023 dan 2024 memperlihatkan perubahan jumlah kunjungan yang berbeda pada setiap daerah.

Wilayah 2023 2024
Kabupaten Pangandaran 3.898.575 3.297.362
Kabupaten Garut 3.874.577 1.981.104
Kabupaten Ciamis 1.099.443 1.395.152
Kabupaten Tasikmalaya 898.599 996.764
Kota Tasikmalaya 1.369.231 577.078
Kota Banjar 68.864 118.155
Total 11.209.289 8.365.615

Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya justru mencatat kenaikan. Ciamis bertambah sekitar 26,9 persen, sedangkan Kabupaten Tasikmalaya meningkat sekitar 10,9 persen.

Kota Banjar juga mengalami kenaikan dari 68.864 menjadi 118.155 kunjungan. Sebaliknya, Kota Tasikmalaya mencatat penurunan sekitar 57,9 persen. Garut turun sekitar 48,9 persen, sedangkan Pangandaran berkurang sekitar 15,4 persen.

Dengan demikian, penurunan total kawasan tidak terjadi secara seragam. Ada daerah yang mengalami koreksi cukup besar, tetapi ada pula yang justru mencatat pertumbuhan.

Garut dan Pangandaran Masih Dominan, tetapi Porsinya Berubah

Pangandaran masih menempati posisi pertama dalam perbandingan enam wilayah tersebut. Namun, jumlah kunjungannya turun sekitar 601 ribu dibandingkan 2023.

Garut mengalami perubahan lebih tajam. Catatan kunjungannya berkurang hampir 1,9 juta dalam perbandingan dua tahun tersebut.

Meski begitu, kedua daerah tetap menjadi pusat kunjungan wisata Priangan Timur. Gabungan kontribusinya masih mencapai sekitar 63,1 persen dari total enam wilayah pada 2024.

Di sisi lain, kenaikan Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Banjar memperlihatkan adanya pergeseran komposisi kunjungan. Akan tetapi, data ini belum cukup untuk memastikan wisatawan berpindah dari satu daerah ke daerah lain.

Perubahan angka juga belum menjelaskan penyebabnya. Faktor aksesibilitas, kondisi destinasi, promosi, cuaca, kegiatan ekonomi, hingga perbedaan metode pencatatan perlu diperiksa lebih lanjut sebelum redaksi menarik kesimpulan.

Lama Menginap dan Belanja Wisatawan Belum Menggambarkan Enam Daerah

Jumlah kunjungan bukan satu-satunya indikator untuk mengukur keberhasilan pariwisata. Lama tinggal dan pengeluaran pengunjung juga menentukan besarnya manfaat ekonomi bagi masyarakat.

BPS Jawa Barat mencatat rata-rata lama menginap tamu domestik di hotel berbintang dan nonbintang pada 2024 sebesar 1,32 hari. Sementara itu, tamu asing rata-rata menginap 2,61 hari.

Namun, angka tersebut merupakan gambaran tingkat provinsi, bukan rata-rata khusus Garut, Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, dan Kota Banjar. Selain itu, indikator lama menginap di hotel tidak mencakup seluruh perjalanan wisata, termasuk pengunjung yang tidak menggunakan akomodasi komersial.

BPS juga menyediakan statistik rata-rata pengeluaran perjalanan wisatawan nusantara. Akan tetapi, indikator tersebut memiliki tingkat estimasi nasional atau provinsi, sehingga tidak tepat jika langsung digunakan untuk menghitung belanja wisatawan di masing-masing kabupaten dan kota.

Karena itu, belum tersedia dasar yang cukup untuk menyimpulkan berapa nilai ekonomi yang hilang atau bertambah akibat perubahan kunjungan di enam wilayah tersebut.

Pemerataan Wisata Perlu Diukur dari Dampak Ekonomi

Perubahan statistik ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengejar angka kunjungan, tetapi juga perlu memastikan pengunjung membelanjakan uangnya di daerah tujuan.

Pelaku UMKM, pengelola penginapan, rumah makan, penyedia transportasi, dan pekerja sektor wisata perlu memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut.

Untuk mengetahui dampaknya secara lebih akurat, pemerintah daerah perlu menggabungkan data kunjungan dengan tingkat hunian hotel, lama tinggal, pengeluaran wisatawan, pendapatan usaha, dan penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, evaluasi lapangan perlu menjawab mengapa Garut dan Pangandaran mengalami penurunan cukup besar, sementara Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya justru mencatat kenaikan.

Data kunjungan 2024 dalam publikasi Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2025 masih berstatus angka sementara. BPS mencantumkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat sebagai sumber data. Karena itu, perbandingan dengan 2023 perlu dibaca sebagai gambaran perubahan catatan kunjungan, bukan kesimpulan final mengenai kondisi seluruh aktivitas pariwisata.

Pada akhirnya, persoalan pariwisata Priangan Timur bukan hanya berapa banyak orang datang, melainkan berapa besar manfaat yang tertinggal di daerah setelah wisatawan pulang. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less