Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Calon Kepala Sekolah Tasikmalaya Disiapkan, Mutu Pendidikan Jadi Taruhan

Calon Kepala Sekolah Tasikmalaya Disiapkan, Mutu Pendidikan Jadi Taruhan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 34
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Calon kepala sekolah Tasikmalaya menghadapi tantangan yang tidak berhenti pada kemampuan mengelola administrasi. Mereka juga perlu memperkuat kepemimpinan, menjaga integritas, dan mendorong perbaikan pembelajaran di tengah tantangan peningkatan mutu pendidikan daerah.

Tuntutan tersebut mengemuka dalam kegiatan Pembekalan bagi Peserta Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya, Selasa (3/11/2026). Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, Drs. H. Asep Goparullah, M.Pd., membuka kegiatan di Aula Bapelitbangda Kota Tasikmalaya.

Menurut laporan Pemkot Tasikmalaya, Asep menekankan pentingnya kompetensi manajerial dan akademik, kepemimpinan, integritas, kedisiplinan, serta kemampuan berinovasi. Pemerintah kota berharap pembekalan tersebut membantu peserta mempersiapkan diri menjadi pemimpin satuan pendidikan yang profesional dan bertanggung jawab.

Namun, ukuran keberhasilan penyiapan calon kepala sekolah tidak cukup berhenti pada penguasaan materi pelatihan. Kemampuan menerapkan kompetensi tersebut dalam pengelolaan sekolah menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Data Pendidikan Tasikmalaya Menunjukkan Tantangan Antarjenjang

Tantangan peningkatan mutu pendidikan dapat dilihat melalui indikator partisipasi pendidikan di Kota Tasikmalaya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya menunjukkan Angka Partisipasi Murni (APM) pada 2024 mencapai 97,22 persen untuk SD/MI, 87,22 persen untuk SMP/MTs, serta 65,23 persen untuk SMA/SMK/MA.

APM menggambarkan proporsi penduduk pada kelompok usia resmi suatu jenjang pendidikan yang bersekolah pada jenjang tersebut. Perbedaan angka ant jenjang menunjukkan bahwa capaian partisipasi pendidikan tidak sama pada setiap tingkat. Data ini dapat ditelusuri melalui publikasi statistik BPS Kota Tasikmalaya.

Angka tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya persoalan kepemimpinan sekolah. Berbagai faktor dapat memengaruhi partisipasi pendidikan, termasuk kondisi sosial ekonomi keluarga, akses terhadap layanan pendidikan, dan karakteristik penduduk.

Meski demikian, data tersebut memberikan konteks penting bagi pembahasan mutu pendidikan. Upaya memperkuat kepemimpinan sekolah perlu berjalan bersama kebijakan pendidikan yang memperhatikan kebutuhan peserta didik pada setiap jenjang.

RPJMD Kota Tasikmalaya 2025–2029 mencatat rata-rata lama sekolah penduduk mencapai 9,63 tahun pada 2024. Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran kondisi pendidikan daerah yang perlu terus ditingkatkan. Dalam konteks itu, pembekalan calon kepala sekolah menjadi bagian penting dari upaya menyiapkan pemimpin satuan pendidikan yang mampu mendorong kualitas pembelajaran.

Karena itu, calon kepala sekolah perlu memahami kondisi sekolah yang akan mereka pimpin, mengenali kebutuhan warga sekolah, dan menentukan prioritas perbaikan berdasarkan persoalan nyata.

Integritas dan Kompetensi Manajerial Harus Berjalan Bersama

Pembekalan yang diselenggarakan Pemkot Tasikmalaya menempatkan integritas sebagai salah satu unsur penting dalam kesiapan calon kepala sekolah.

Dalam praktiknya, integritas bukan sekadar persoalan sikap pribadi. Nilai tersebut juga berkaitan dengan cara seorang pemimpin mengambil keputusan, menggunakan kewenangan, mengelola sumber daya, dan mempertanggungjawabkan kebijakan.

Kepala sekolah harus mampu membangun lingkungan kerja yang profesional sekaligus menjaga kepercayaan guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

Selain itu, kompetensi manajerial diperlukan agar program sekolah berjalan sesuai kebutuhan. Pemimpin sekolah perlu menetapkan prioritas, mengoordinasikan tenaga pendidik, serta mengevaluasi hasil pelaksanaan program.

Keduanya saling melengkapi. Kompetensi tanpa integritas berisiko melemahkan kepercayaan, sedangkan integritas tanpa kemampuan manajerial belum cukup untuk memastikan pengelolaan sekolah berjalan efektif.

Oleh sebab itu, proses penyiapan calon kepala sekolah perlu memperhatikan keseimbangan antara kemampuan teknis, kualitas kepemimpinan, dan tanggung jawab profesional.

Inovasi Sekolah Perlu Berorientasi pada Pembelajaran

Asep juga menekankan bahwa kepala sekolah harus berperan sebagai penggerak perubahan, bukan hanya menjalankan tugas administratif.

Peran tersebut menuntut kemampuan membangun kolaborasi antara guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. Dengan kerja sama yang baik, sekolah memiliki peluang lebih besar untuk mengidentifikasi persoalan dan mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Inovasi tidak selalu membutuhkan program besar atau teknologi mahal. Sekolah dapat memulai perbaikan melalui penguatan budaya membaca, pengembangan metode pembelajaran, peningkatan koordinasi antarguru, dan komunikasi yang lebih efektif dengan orang tua.

Namun, setiap inovasi perlu memiliki tujuan dan ukuran keberhasilan yang jelas. Program baru tidak otomatis meningkatkan mutu pendidikan apabila tidak menjawab persoalan yang dihadapi peserta didik.

Karena itu, calon kepala sekolah perlu mengembangkan kebiasaan mengevaluasi program berdasarkan hasil, bukan sekadar jumlah kegiatan yang terlaksana.

Keberhasilan Pelatihan Perlu Diukur dari Hasilnya

Pembekalan bakal calon kepala sekolah merupakan salah satu langkah dalam menyiapkan pemimpin pendidikan yang profesional. Meski demikian, informasi yang tersedia belum menjelaskan jumlah peserta, durasi pelatihan, tahapan seleksi, maupun target kompetensi khusus kegiatan tersebut.

Kelengkapan informasi itu penting agar masyarakat dapat memahami cakupan program dan menilai hasilnya secara lebih terukur.

Ke depan, evaluasi penyiapan calon kepala sekolah dapat memperhatikan kemampuan peserta dalam menyusun rencana pengembangan sekolah, mengelola sumber daya, membangun budaya kerja yang sehat, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Ukuran tersebut merupakan usulan evaluasi, bukan target resmi yang telah diumumkan Pemkot Tasikmalaya.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa penguatan kepemimpinan sekolah berjalan seiring dengan upaya memperbaiki akses dan kualitas layanan pendidikan. Dengan demikian, pembekalan tidak berhenti sebagai kegiatan pengembangan kapasitas, tetapi menjadi bagian dari proses perbaikan pendidikan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, masyarakat membutuhkan pemimpin sekolah yang mampu mengubah kompetensi menjadi tindakan nyata dan memastikan kepentingan peserta didik tetap menjadi prioritas.

Sebab, keberhasilan menyiapkan kepala sekolah bukan hanya tentang siapa yang siap memimpin, melainkan tentang bagaimana kepemimpinan itu kelak meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi penerus Kota Tasikmalaya. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less