5.000 Jamaah Shalat Istisqo, Ciamis Hadapi Kemarau 5 Bulan
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

5.000 jamaah mengikuti Shalat Istisqo di Alun-Alun Ciamis, Kamis (*/10/2026).(Dok. Pemkab Ciamis).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Shalat Istisqo Ciamis digelar di Alun-Alun Ciamis, Kamis (8/10/2026), di tengah kemarau yang telah berlangsung lebih dari lima bulan. Sekitar 5.000 jamaah berkumpul untuk memohon turunnya hujan, sementara kekeringan Ciamis mulai berdampak pada kebutuhan air bersih, lahan pertanian, dan kehidupan masyarakat.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengikuti pelaksanaan tersebut bersama jajaran pemerintah daerah, ulama, santri, pelajar, serta masyarakat dari berbagai unsur.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah tidak hanya mengajak masyarakat memperbanyak doa. Herdiat juga mendorong warga menjaga sumber air, membantu sesama, serta bersama-sama menghadapi dampak kemarau.
Kemarau Panjang Mulai Tekan Kebutuhan Air
Kemarau yang berlangsung berbulan-bulan membuat persoalan air semakin menjadi perhatian di Ciamis.
Sejumlah lahan pertanian dan kebun terdampak kekurangan air. Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah sungai yang mengalami penurunan debit.
Situasi tersebut kemudian berimbas pada kebutuhan air bersih masyarakat. Pemkab Ciamis melakukan distribusi air ke sejumlah wilayah yang membutuhkan. Dalam keterangannya, kebutuhan tersebut disebut mencapai sekitar 60 tangki air bersih per hari.
Karena itu, persoalan kemarau Ciamis tidak hanya berkaitan dengan kondisi cuaca. Dampaknya menyentuh kebutuhan dasar warga sekaligus aktivitas pertanian.
Bagi masyarakat yang bergantung pada sumber air setempat, setiap hari tanpa hujan dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan air.
Sekitar 5.000 Jamaah Berkumpul di Alun-Alun Ciamis
Diberitakan dari Pemkab Ciamis, pelaksanaan Shalat Istisqo Ciamis diikuti sekitar 5.000 jamaah.
Peserta berasal dari berbagai unsur, antara lain aparatur pemerintah, TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan Islam, organisasi kepemudaan, instansi vertikal, BUMN dan BUMD, pelajar, santri, serta masyarakat umum.
Selain di tingkat kabupaten, pelaksanaan shalat istisqo juga berlangsung serentak di sejumlah kecamatan, kelurahan, dan desa.
Di Alun-Alun Ciamis, Ketua MUI Kabupaten Ciamis KH Saiful Uyun bertindak sebagai khatib. Sementara itu, KH Bukhari Muslim menjadi imam.
Kehadiran ribuan jamaah menunjukkan bahwa kemarau telah menjadi perhatian bersama. Pemerintah, ulama, pelajar, santri, dan masyarakat berkumpul dalam satu momentum untuk memohon pertolongan Allah SWT.
Bupati Herdiat Ajak Warga Introspeksi
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengajak masyarakat menjadikan kemarau sebagai momentum introspeksi dan memperbaiki diri.
Menurut Herdiat, masyarakat perlu memperbanyak istighfar, meningkatkan ibadah, bersedekah, serta membantu warga yang mengalami kesulitan akibat kekeringan.
Namun, pesan tersebut tidak berhenti pada aspek spiritual.
Herdiat juga mengingatkan masyarakat agar menjaga sumber mata air, memelihara pohon, tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak hutan, serta menggunakan air secara bijaksana.
Pesan itu menempatkan Shalat Istisqo Ciamis sebagai bagian dari ikhtiar yang lebih luas. Doa menjadi ikhtiar batin, sedangkan menjaga lingkungan dan membantu warga terdampak menjadi ikhtiar nyata.
Dengan demikian, momentum shalat istisqo juga membawa pesan tentang tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan dan sumber kehidupan.
Petani dan Warga Terdampak Jadi Perhatian
Dampak kemarau tidak berhenti pada berkurangnya pasokan air untuk rumah tangga.
Sektor pertanian juga menghadapi tekanan ketika sawah dan kebun mengalami kekurangan air. Bagi petani, kondisi tersebut berkaitan langsung dengan keberlangsungan aktivitas produksi dan penghidupan mereka.
Pemkab Ciamis karena itu terus mendorong kepedulian berbagai pihak terhadap warga yang terdampak.
Distribusi air bersih menjadi salah satu langkah untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada saat yang sama, pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga sumber air dan lingkungan.
Langkah tersebut penting karena hujan merupakan faktor alam yang tidak dapat dikendalikan manusia. Sebaliknya, kepedulian, penghematan air, perlindungan sumber mata air, dan bantuan kepada warga terdampak dapat dilakukan sejak sekarang.
Doa dan Ikhtiar Berjalan Bersama
Pelaksanaan shalat istisqo di Ciamis menjadi gambaran bagaimana masyarakat merespons kemarau dari dua sisi.
Di satu sisi, ribuan warga memanjatkan doa agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan. Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat tetap harus menghadapi persoalan air bersih serta dampak kemarau secara konkret.
Pemkab Ciamis berharap hujan segera turun sehingga tekanan terhadap masyarakat dan sektor pertanian dapat berkurang.
Sebab, ketika hujan belum juga turun, Ciamis tidak cukup hanya menengadah ke langit. Air harus dijaga, warga harus dibantu, dan ikhtiar harus tetap berjalan. (Red)
- Penulis: redaktur






