Ustadz Pesantren Tasikmalaya Capai 20.853, Tertinggi di Jabar
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi para santri sedang mengaji di sebuah Pesantren.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Ustadz pesantren Tasikmalaya tercatat mencapai 20.853 orang dalam data Kementerian Agama mengenai jumlah ustadz pada pondok pesantren menurut jenis kelamin dan kualifikasi pendidikan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam daftar kabupaten/kota Jawa Barat pada tabel tersebut, sedikit di atas Bogor yang mencapai 20.115 orang.
Selisih jumlah ustadz antara Tasikmalaya dan Bogor mencapai 738 orang. Dengan demikian, jumlah ustadz di Kabupaten Tasikmalaya sekitar 3,7 persen lebih banyak dibandingkan Bogor.
Temuan ini menarik karena kedua daerah sama-sama berada pada kelompok dengan jumlah ustadz pesantren yang besar. Namun, dalam tabel Kementerian Agama tersebut, Tasikmalaya berada sedikit di atas Bogor.
Tasikmalaya Sumbang 15,5 Persen Ustadz Jabar
Secara keseluruhan, tabel Kementerian Agama mencatat 134.497 ustadz pada pondok pesantren di Jawa Barat berdasarkan kelompok jenis kelamin. Jumlah itu terdiri atas 40.630 laki-laki dan 93.867 perempuan.
Dari angka tersebut, Kabupaten Tasikmalaya menyumbang sekitar 15,5 persen. Sementara itu, kontribusi Kabupaten Bogor berada di kisaran 15 persen.
Perbedaannya memang tidak terlalu jauh. Akan tetapi, selisih 738 ustadz cukup membuat Tasikmalaya menempati posisi teratas dalam daftar yang tercantum pada tabel.
Data tersebut juga menunjukkan komposisi berdasarkan jenis kelamin. Kabupaten Tasikmalaya memiliki 5.909 ustadz laki-laki dan 14.944 ustadz perempuan.
Artinya, jumlah ustadz perempuan di Kabupaten Tasikmalaya dalam data tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan ustadz laki-laki.
Garut dan Ciamis Juga Masuk Kelompok Besar
Persebaran ustadz pesantren di Jawa Barat tidak hanya terkonsentrasi di Tasikmalaya dan Bogor.
Kabupaten Cirebon tercatat memiliki 14.033 ustadz, sedangkan Garut mencapai 11.773 orang. Berikutnya, Ciamis mencatat 6.809 ustadz dan Bandung Barat sebanyak 7.194 orang.
Khusus kawasan Priangan Timur, data tersebut juga memperlihatkan angka yang cukup beragam.
Selain Kabupaten Tasikmalaya yang mencapai 20.853 orang, Ciamis tercatat memiliki 6.809 ustadz. Kemudian, Kota Tasikmalaya memiliki 3.746 orang, Pangandaran 1.907 orang, dan Kota Banjar 918 orang.
Jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah tersebut, Kabupaten Tasikmalaya memiliki jumlah yang jauh lebih besar.
Karena itu, data ini memberikan gambaran mengenai besarnya jumlah tenaga pengajar pondok pesantren yang tercatat di wilayah Tasikmalaya dibandingkan sejumlah daerah lain di Jawa Barat.
Jangan Samakan dengan Jumlah Pesantren atau Santri
Ada hal penting yang perlu diperhatikan ketika membaca tabel tersebut.
Kementerian Agama tidak hanya menyajikan jumlah berdasarkan jenis kelamin, tetapi juga menampilkan kelompok kualifikasi pendidikan, yakni kurang dari S1, S1, S2, S3, dan nonjenjang.
Untuk Kabupaten Tasikmalaya, jumlah pada kelompok kualifikasi pendidikan tercatat 7.966 orang. Angka tersebut berbeda dari total 20.853 karena keduanya merupakan kelompok informasi yang berbeda dalam tabel.
Dengan demikian, angka 20.853 tidak boleh dijumlahkan lagi dengan 7.966.
Begitu pula, jumlah ustadz tidak otomatis menunjukkan jumlah pondok pesantren maupun jumlah santri di sebuah daerah. Ketiga indikator tersebut memiliki cakupan yang berbeda.
Untuk membaca kondisi pendidikan pesantren secara lebih lengkap, data jumlah lembaga, santri, serta kualifikasi tenaga pengajar perlu dilihat secara bersamaan.
Namun, satu fakta cukup jelas dari tabel Kementerian Agama tersebut: Kabupaten Tasikmalaya mencatat 20.853 ustadz, atau 738 orang lebih banyak dibandingkan Kabupaten Bogor.
Bagi Tasikmalaya, angka itu bukan sekadar statistik. Ia menunjukkan besarnya jumlah tenaga pengajar yang tercatat dalam ekosistem pondok pesantren—dan menempatkan daerah ini di posisi teratas dalam tabel Kemenag yang menjadi rujukan. (Red)
- Penulis: redaktur






