Hari Kesaktian Pancasila, Ini Peran Santri Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- visibility 63
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Santri Tasikmalaya mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat pada Hari Kesaktian Pancasila.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober bukan sekadar agenda seremonial. Di Kota Tasikmalaya, momentum ini juga menjadi pengingat bahwa nilai Pancasila perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, termasuk di kalangan santri dan generasi muda.
Tema Hari Kesaktian Pancasila 2026 adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Momentum tersebut menjadi ruang untuk kembali melihat pentingnya persatuan di tengah masyarakat yang terus menghadapi perubahan.
Lantas, apa peran santri dalam menjaga nilai Pancasila di tengah kehidupan masyarakat saat ini?
Kepala Bakesbangpol Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., menilai santri memiliki ruang penting dalam menjaga nilai kebangsaan.
“Santri punya peran penting menjaga nilai Pancasila melalui persatuan, gotong royong, toleransi, dan kepedulian terhadap masyarakat.”
Santri dan Pancasila Dimulai dari Hal Sederhana
Peran santri dalam menjaga nilai Pancasila tidak harus diwujudkan melalui kegiatan besar.
Menjaga persaudaraan, menghormati guru, membantu teman, merawat lingkungan, serta menghargai perbedaan merupakan tindakan sederhana yang memiliki makna sosial.
Di lingkungan pesantren, santri juga bertemu dengan teman dari berbagai daerah dan latar belakang. Mereka belajar dalam ruang yang sama serta menjalani berbagai aktivitas secara bersama-sama.
Kondisi tersebut menjadi ruang untuk membangun kebiasaan hidup berdampingan.
Karena itu, nilai persatuan tidak hanya dapat dijelaskan melalui teori. Santri dapat mempraktikkannya ketika mampu menghargai perbedaan dan tetap bekerja sama.
Hal yang sama berlaku untuk gotong royong. Kegiatan membersihkan lingkungan, membantu warga, hingga terlibat dalam kegiatan sosial menjadi bentuk kontribusi yang mudah dilihat masyarakat.
Peran Santri di Tengah Tantangan Digital
Ada satu medan baru yang tidak bisa dilewatkan: ruang digital.
Santri generasi sekarang tumbuh ketika media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Pada saat yang sama, perbedaan pendapat juga dapat berkembang menjadi konflik apabila tidak disikapi secara bijak.
Karena itu, santri memiliki ruang untuk ikut membangun budaya digital yang sehat.
Memeriksa informasi sebelum membagikannya, tidak menyebarkan provokasi, menghormati perbedaan pendapat, serta menggunakan media sosial untuk menyampaikan pengetahuan dan kegiatan positif merupakan bentuk pengamalan nilai kebangsaan.
Langkah tersebut terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, dampaknya dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Mengapa Persatuan Penting bagi Tasikmalaya?
Tasikmalaya memiliki kehidupan sosial dan keagamaan yang kuat. Pesantren serta lembaga pendidikan keagamaan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, santri bukan kelompok yang hidup terpisah dari persoalan daerah.
Mereka merupakan bagian dari generasi muda yang kelak akan memasuki berbagai bidang kehidupan. Ada yang menjadi guru, pengusaha, pekerja profesional, akademisi, aktivis sosial, maupun tokoh masyarakat.
Nilai yang mereka bawa dari lingkungan pendidikan akan ikut menentukan cara mereka berinteraksi ketika kembali ke tengah masyarakat.
Persatuan, toleransi, kepedulian, dan gotong royong karena itu bukan sekadar istilah dalam momentum 1 Oktober.
Nilai tersebut justru diuji ketika masyarakat menghadapi perbedaan.
Sejarah 1 Oktober Tetap Menjadi Pengingat
Hari Kesaktian Pancasila memiliki latar sejarah yang berkaitan dengan peristiwa politik dan kekerasan pada 1965. Pemerintah kemudian menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967.
Namun, generasi muda yang hidup pada 2026 menghadapi tantangan yang berbeda.
Mereka tidak hidup dalam situasi politik 1965. Mereka menghadapi perkembangan teknologi, arus informasi yang sangat cepat, perubahan sosial, serta perbedaan pandangan yang dapat muncul di ruang publik maupun media sosial.
Karena itu, sejarah perlu menjadi bahan pembelajaran, sementara pengamalan Pancasila harus hadir dalam persoalan masa kini.
Bagi santri, bentuknya dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Pancasila Jangan Berhenti di Upacara
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila memang membutuhkan upacara sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah.
Namun, maknanya tidak berhenti ketika upacara selesai.
Pancasila akan lebih terasa ketika masyarakat mau menjaga persaudaraan, membantu sesama, menghormati perbedaan, menyelesaikan persoalan melalui dialog, dan tidak menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar.
Santri pun memiliki ruang yang sama untuk mengambil bagian.
Mereka dapat memulainya dari pesantren, kemudian membawanya ke lingkungan keluarga, masyarakat, organisasi, tempat kerja, hingga ruang digital.
Bagi Tasikmalaya, peran tersebut menjadi penting karena generasi muda hari ini adalah bagian dari masyarakat yang akan menentukan wajah daerah pada masa mendatang.
Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang bagaimana bangsa mengingat sejarah 1 Oktober. Bagi santri Tasikmalaya, tantangannya lebih dekat: bagaimana persatuan, gotong royong, toleransi, dan kepedulian benar-benar terlihat dalam tindakan—bukan hanya terdengar dalam pidato atau tertulis di spanduk. (Red)
- Penulis: redaktur






