Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Bapperida Ciamis Garap 5 Agenda, Apa Dampaknya bagi Warga?

Bapperida Ciamis Garap 5 Agenda, Apa Dampaknya bagi Warga?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
  • visibility 76
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Bapperida (Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten) Ciamis mengikuti sejumlah agenda perencanaan pembangunan yang menyentuh berbagai sektor, mulai dari akses pendidikan, ekonomi sirkular, sinkronisasi kebijakan dan penganggaran, pangan dan gizi, hingga pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN). Rangkaian pembahasan tersebut memperlihatkan sejumlah isu yang masuk dalam perhatian pemerintah daerah dan pemerintah provinsi Jawa Barat.

Dikutip dari Bapperida Ciamis, lima agenda itu memiliki tema berbeda. Namun, semuanya bertemu pada satu kebutuhan yang sama, yakni memastikan perencanaan pembangunan memiliki arah yang jelas dan dapat diterapkan sesuai kebutuhan daerah.

Di titik inilah pertanyaan publik menjadi penting: setelah pembahasan, sinkronisasi, dan penyusunan dokumen selesai, apa yang nantinya berubah bagi masyarakat Ciamis?

Pendidikan Jadi Salah Satu Perhatian

Salah satu agenda yang diikuti Bapperida Kabupaten Ciamis berkaitan dengan Sosialisasi Capaian dan Rekomendasi Peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta Akses Pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/Kota Jawa Barat.

Kegiatan tersebut membahas upaya meningkatkan akses pendidikan dasar dan menengah sekaligus mutu pendidikan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Isu tersebut penting karena akses pendidikan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan fasilitas pendidikan. Pemerintah juga perlu memperhatikan mutu layanan dan kemampuan sistem pendidikan menjangkau masyarakat.

Karena itu, capaian SPM dapat menjadi salah satu bahan evaluasi untuk melihat bagian mana yang masih membutuhkan perhatian dalam pembangunan pendidikan.

Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada bagaimana rekomendasi tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan dan program yang konkret.

Ekonomi Sirkular Mulai Masuk Perencanaan

Bapperida Kabupaten Ciamis juga mengikuti Peluncuran Peta Jalan dan Rencana Aksi Daerah Ekonomi Sirkular Provinsi Jawa Barat 2025–2045 bersama Kementerian PPN/Bappenas dengan dukungan EU-Indonesia Cooperation Facility (EU-ICF).

Ekonomi sirkular mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien. Pendekatan tersebut juga membuka ruang agar material yang sebelumnya berakhir sebagai limbah dapat kembali masuk ke dalam proses pemanfaatan.

Bagi daerah, konsep tersebut memiliki kaitan dengan persoalan lingkungan sekaligus peluang ekonomi.

Akan tetapi, penerapannya membutuhkan lebih dari sekadar dokumen kebijakan. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu memiliki sistem yang memungkinkan pengurangan sampah, penggunaan kembali material, serta pengolahan yang bernilai ekonomi.

Karena itu, tantangan berikutnya adalah bagaimana gagasan ekonomi sirkular dapat disesuaikan dengan kondisi dan potensi Kabupaten Ciamis.

Penganggaran 2027 Mulai Diselaraskan

Agenda lainnya berkaitan dengan Rapat Sinkronisasi Kebijakan Pembangunan dan Penganggaran Tahun 2027 yang diselenggarakan Bappeda Provinsi Jawa Barat pada Senin, 28 September 2026.

Forum tersebut diarahkan untuk memperkuat sinergi dan keterpaduan perencanaan pembangunan sekaligus menyelaraskan kebijakan prioritas dan penganggaran antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota.

Bagian ini memiliki arti penting karena rencana pembangunan membutuhkan dukungan anggaran.

Program yang masuk prioritas pada akhirnya perlu memiliki ruang pembiayaan agar dapat berjalan. Sebaliknya, keterbatasan anggaran juga membuat pemerintah harus menentukan prioritas secara cermat.

Dengan demikian, pembahasan penganggaran 2027 bukan hanya soal angka dalam dokumen. Di dalamnya terdapat pilihan mengenai program dan kebutuhan masyarakat mana yang memperoleh perhatian dalam pembangunan.

Ketahanan Pangan Tak Berhenti di Produksi

Agenda lain yang diikuti Bapperida Ciamis adalah Finalisasi Dokumen Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RADPG-BPSDL) Kabupaten Ciamis Tahun 2026–2029.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis. Penyempurnaan dokumen diarahkan untuk menjadi pedoman dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan status gizi masyarakat melalui pemanfaatan potensi sumber daya lokal.

Pendekatan tersebut menarik karena ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi.

Ketersediaan pangan, akses masyarakat, keterjangkauan harga, pola konsumsi, dan pemenuhan kebutuhan gizi juga menjadi bagian dari persoalan.

Karena itu, dokumen rencana aksi akan memiliki arti strategis apabila mampu menghubungkan potensi sumber daya lokal dengan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.

Kompetensi ASN Menjadi Bagian dari Mesin Kebijakan

Bapperida Kabupaten Ciamis juga mengikuti Pembahasan Arah Kebijakan Pengembangan Kompetensi ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ciamis yang dilaksanakan BKPSDM Kabupaten Ciamis.

Pembahasan tersebut diarahkan untuk mendukung implementasi manajemen talenta di lingkungan pemerintah daerah.

Isu kompetensi ASN tidak dapat dipisahkan dari kualitas pelayanan publik. Perencanaan yang baik membutuhkan aparatur yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi pekerjaan administratif maupun pelayanan yang konkret.

Karena itu, pengembangan kompetensi bukan sekadar agenda internal birokrasi.

Ketika kapasitas aparatur meningkat, pemerintah memiliki modal yang lebih kuat untuk menjalankan berbagai program pembangunan. Namun, hasilnya tetap perlu terlihat dalam kualitas pelayanan dan pelaksanaan kebijakan di lapangan.

Lima Agenda, Satu Ujian Implementasi

Jika lima agenda tersebut dibaca secara utuh, terlihat beberapa sektor yang menjadi bagian dari pembahasan pembangunan: pendidikan, lingkungan dan ekonomi sirkular, penganggaran, pangan-gizi, serta sumber daya aparatur.

Kelima sektor tersebut memang berbeda. Namun, semuanya membutuhkan perencanaan yang konsisten dan pelaksanaan yang terukur.

Pendidikan membutuhkan pembiayaan. Ekonomi sirkular membutuhkan perubahan pola pengelolaan sumber daya. Ketahanan pangan membutuhkan koordinasi lintas sektor. Sementara itu, seluruh kebijakan membutuhkan aparatur yang mampu menjalankannya.

Karena itu, keberhasilan rangkaian agenda tersebut tidak cukup diukur dari banyaknya forum yang diikuti atau dokumen yang disusun.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jelas hasil perencanaan tersebut diterjemahkan menjadi program, berapa besar manfaatnya, dan apakah masyarakat benar-benar merasakan perubahan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak menilai pembangunan dari tebalnya dokumen perencanaan.

Mereka menilainya dari sekolah yang lebih mudah diakses, pangan yang lebih terjamin, lingkungan yang lebih tertata, pelayanan publik yang lebih baik, serta program pemerintah yang benar-benar menyentuh kebutuhan sehari-hari.

Ruang rapat melahirkan rencana, dokumen memberi arah, dan anggaran membuka jalan. Namun, pembangunan Ciamis baru benar-benar terasa ketika semua itu keluar dari meja birokrasi dan hadir dalam kehidupan warganya. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less