Sedih Kehilangan Amal, Tapi Tetap Malas? Ini Teguran Ibnu Athaillah
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
- visibility 103
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang merenungkan amal kebaikan yang terlewat menurut Ibnu Athaillah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu jenis penyesalan yang terdengar sangat religius: sedih karena amal kebaikan terlewat, lalu berjanji akan memperbaikinya—tetapi tetap saja tidak bergerak.
Kita menyesal karena tidak sempat membaca Al-Qur’an. Kita merasa bersalah karena melewatkan salat sunah. Kita kecewa karena kesempatan bersedekah berlalu begitu saja.
Lalu kita berkata, “Besok saya akan memperbaikinya.”
Masalahnya, besok sering datang membawa kemalasan yang sama.
Di titik inilah sebuah hikmah Ibnu Athaillah terasa seperti cermin. Sedih kehilangan amal memang bisa menjadi tanda hati masih peka. Namun, jika kesedihan itu tidak membuat seseorang bangkit mengejar ketaatan, ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih dalam.
Jangan-jangan kita bukan sedang berubah.
Kita hanya sedang menikmati perasaan sebagai orang yang ingin berubah.
Ibnu Athaillah: Sedih Saja Tidak Cukup
Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari menulis:
اَلْحُزْنُ عَلَى فِقْدَانِ الطَّاعَةِ مَعَ عَدَمِ النُّهُوضِ إِلَيْهَا مِنْ عَلَامَاتِ الِاغْتِرَارِ
Artinya:
“Kesedihan karena kehilangan ketaatan, tetapi tidak bangkit untuk mengejarnya, merupakan salah satu tanda keterpedayaan.”
Hikmah tersebut tercantum dalam Al-Hikam al-‘Aṭā’iyyah. Penjelasannya menyoroti perbedaan antara kesedihan yang berhenti sebagai perasaan dan kesedihan yang mendorong seseorang kembali mengejar ketaatan.
Pesannya cukup sederhana, tetapi tidak selalu nyaman diterima.
Penyesalan harus mempunyai arah.
Kalau seseorang sedih karena kehilangan kesempatan berbuat baik, lalu mencari kesempatan berikutnya, kesedihan itu dapat menjadi pintu perubahan.
Sebaliknya, jika ia terus berkata ingin memperbaiki diri tetapi tetap mengulang kelalaian yang sama, rasa sesal tersebut belum menghasilkan apa-apa.
Kita mungkin terlalu sibuk menghitung amal yang terlewat sampai lupa melihat amal yang masih bisa dikerjakan.
Penyesalan Seharusnya Membuat Kita Bergerak
Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk berhenti pada rasa bersalah.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Ayat berikutnya bahkan mengarahkan manusia untuk kembali kepada Allah:
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya.”
Ada kata yang penting di sana: kembali.
Kembali berarti bergerak.
Artinya, setelah menyadari kelalaian, seseorang tidak diminta tinggal terlalu lama dalam penyesalan. Ia diarahkan untuk mengambil langkah menuju perbaikan.
Kalau hari ini sadar terlalu banyak waktu terbuang, tidak perlu menunggu Senin.
Kalau ibadah mulai berantakan, tidak perlu menunggu Ramadan.
Kalau sudah lama tidak membaca Al-Qur’an, tidak perlu menunggu hati terasa sempurna.
Kerjakan apa yang masih mungkin dikerjakan.
Kita Kadang Lebih Rajin Mengumpulkan Niat
Ada kebiasaan manusia yang agak lucu.
Kita senang mengumpulkan niat baik.
“Nanti saya akan lebih rajin.”
“Nanti saya akan sedekah.”
“Nanti saya akan belajar agama.”
“Nanti saya akan bangun lebih pagi.”
“Nanti saya akan memperbaiki ibadah.”
Niatnya baik.
Tetapi kata “nanti” sering tidak mempunyai tanggal jatuh tempo.
Hari berganti. Minggu berganti. Bahkan tahun berganti. Niatnya masih tersimpan rapi.
Di media sosial, kita bisa membagikan kutipan tentang sedekah hanya dalam beberapa detik. Namun, ketika melihat seseorang membutuhkan pertolongan, tangan belum tentu bergerak.
Kita bisa membagikan nasihat tentang tahajud sebelum tidur. Tetapi ketika alarm berbunyi menjelang subuh, tombol snooze terkadang menjadi pilihan pertama.
Di sinilah satire kehidupan sehari-hari terasa.
Kita kadang ingin memperoleh perasaan sebagai orang saleh tanpa menjalani proses yang membuat kita benar-benar menjadi lebih baik.
Tentu, tidak setiap kegagalan dalam ibadah berarti seseorang sedang terpedaya. Manusia bisa lelah, lupa, sibuk, jatuh, lalu bangkit kembali.
Yang patut diwaspadai adalah pola ketika penyesalan terus muncul, tetapi tidak pernah menghasilkan perubahan.
Rasa Sedih Bisa Menjadi Alarm
Rasa sedih karena kehilangan amal bukan sesuatu yang harus dibuang.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمُ الْمُؤْمِنُ
Artinya:
“Barang siapa kebaikannya membuatnya gembira dan keburukannya membuatnya sedih, maka itulah orang beriman.”
Riwayat ini dinilai sahih dalam sejumlah penilaian hadis.
Jadi, rasa tidak nyaman terhadap kelalaian dapat menjadi sesuatu yang baik.
Namun, ada satu persoalan.
Alarm tidak dibuat untuk didengarkan sepanjang hari.
Alarm dibuat agar kita bangun.
Begitu pula penyesalan.
Ia seharusnya membangunkan hati, bukan menjadi tempat tinggal.
Ketika Amal Terlewat, Cari Kesempatan Berikutnya
Mungkin kemarin kita melewatkan sebuah amal.
Mungkin karena pekerjaan. Mungkin karena lelah. Mungkin karena malas. Bisa juga karena perhatian kita terseret oleh layar ponsel selama berjam-jam.
Tidak perlu memperindah alasan.
Akui saja.
Kemudian bergerak.
Kesempatan bersedekah yang terlewat masih dapat diganti dengan kesempatan berikutnya. Bacaan Al-Qur’an yang tidak sempat dilakukan pagi hari masih bisa dikerjakan malam hari. Majelis ilmu yang terlewat masih menyisakan kesempatan untuk belajar pada waktu lain.
Tidak semua kesempatan kedua datang dengan bentuk yang sama. Karena itu, jangan terlalu lama sibuk meratapi kesempatan pertama.
Yang penting adalah jangan menjadikan kegagalan kemarin sebagai alasan untuk mengulang kegagalan hari ini.
Dalam konteks inilah hikmah Ibnu Athaillah menjadi sangat relevan: yang perlu dilihat bukan hanya apakah hati kita sedih, tetapi apakah kesedihan itu membuat kita bangkit.
Penyesalan Bisa Menjadi Pintu, Bisa Juga Menjadi Kursi
Akhirnya, penyesalan mempunyai dua kemungkinan.
Ia bisa menjadi pintu.
Atau ia bisa menjadi kursi.
Sebagai pintu, penyesalan membuat seseorang meninggalkan kelalaian dan kembali kepada ketaatan.
Sebagai kursi, penyesalan membuat seseorang duduk nyaman sambil terus berkata bahwa dirinya sebenarnya ingin berubah.
Karena itu, ketika amal kebaikan terlewat, jangan berhenti pada kalimat, “Sayang sekali.”
Cari kesempatan berikutnya.
Ketika ibadah tertunda, jangan hanya menyalahkan diri sendiri.
Bangkit.
Ketika hati merasa jauh dari Allah, jangan biarkan rasa itu berubah menjadi keputusasaan.
Kembali.
Sebab, manusia tidak diminta menjadi sempurna sebelum mulai memperbaiki diri. Ia hanya perlu jujur melihat kelalaiannya, lalu mengambil langkah berikutnya.
Jangan ukur penyesalan dari seberapa dalam kita merasa bersalah. Ukurlah dari seberapa cepat kita kembali berbuat baik. Air mata mungkin menunjukkan bahwa hati masih merasa; tetapi langkah yang berubah menunjukkan bahwa penyesalan itu benar-benar bekerja. (Red)
- Penulis: redaktur






