Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Doa Terbaik Menurut Ibnu Athaillah: Jangan Cuma Minta

Doa Terbaik Menurut Ibnu Athaillah: Jangan Cuma Minta

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan ketika berdoa: apa sebenarnya yang paling pantas kita minta kepada Allah? Selama ini, doa terbaik sering kita bayangkan sebagai permohonan untuk mendapatkan rezeki, kesehatan, pekerjaan, pasangan, rumah, atau jalan keluar dari masalah. Semua itu boleh diminta. Namun, doa kepada Allah juga dapat diarahkan pada sesuatu yang lebih mendasar: memohon kemampuan untuk menjalankan apa yang Allah kehendaki dari seorang hamba.

Gagasan itu terangkum dalam salah satu hikmah Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam:

خَيْرُ مَا تَطْلُبُهُ مِنْهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ

Sebaik-baik yang engkau minta kepada-Nya adalah apa yang Dia minta darimu.”

Hikmah tersebut mengajak seorang hamba melihat kembali orientasi doanya. Bukan berarti manusia harus berhenti meminta urusan dunia. Sebaliknya, manusia tetap boleh memohon berbagai kebutuhan. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar untuk diminta: keteguhan dalam penghambaan kepada Allah.

Kalimatnya pendek. Namun, tamparannya cukup panjang.

Kita Sering Membawa Daftar Keinginan Saat Berdoa

Coba perhatikan doa kita ketika hidup sedang tidak ramah.

Kita meminta masalah segera selesai. Kita meminta rezeki bertambah. Kita meminta pekerjaan datang. Kita meminta usaha berkembang. Kita meminta orang tertentu berubah. Bahkan, terkadang kita sudah menentukan bentuk jawaban yang kita inginkan sebelum doa selesai diucapkan.

Tidak ada yang salah dengan meminta berbagai kebutuhan tersebut.

Namun, persoalannya muncul ketika doa hanya menjadi daftar keinginan manusia, sementara ketaatan kepada Allah justru berada di bagian paling belakang.

Ada sesuatu yang menarik dalam kebiasaan manusia berdoa. Ketika kebutuhan datang, doa bisa menjadi sangat panjang. Akan tetapi, ketika kebutuhan itu terpenuhi, perubahan dalam ibadah tidak selalu mengikuti. Kita begitu tekun meminta ketika sedang membutuhkan, tetapi belum tentu sama tekunnya mendekat ketika kebutuhan telah selesai.

Di sinilah hikmah Ibnu Athaillah terasa relevan.

Jika Allah memerintahkan kita untuk beribadah, menjaga amanah, meninggalkan larangan, berlaku jujur, dan tetap berada di jalan yang benar, maka meminta kemampuan untuk menjalankan semua itu merupakan permintaan yang sangat mendasar.

Dengan begitu, doa tidak hanya meminta perubahan keadaan, tetapi juga meminta perbaikan diri.

Dan mungkin, di situlah ironi manusia.

Kita ingin Allah mengubah hidup kita, tetapi kadang enggan ketika Allah meminta kita mengubah perilaku.

Al-Qur’an Menempatkan Ibadah sebagai Tujuan Kehidupan

Pandangan tersebut memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat tersebut memberikan kerangka penting dalam memahami kehidupan seorang Muslim. Manusia tentu membutuhkan dunia. Kita bekerja, berdagang, membangun keluarga, mengejar pendidikan, dan berusaha memperbaiki kondisi ekonomi.

Akan tetapi, semua aktivitas itu tidak menghapus tujuan utama penghambaan kepada Allah.

Karena itu, doa untuk memperoleh dunia semestinya berjalan bersama doa agar kita tidak kehilangan arah ketika dunia berada di tangan.

Sebab, rezeki yang bertambah tidak otomatis membuat seseorang semakin dekat kepada Allah. Sebaliknya, kesempitan juga tidak otomatis berarti seseorang jauh dari-Nya.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana seorang hamba menjalani keadaan tersebut.

D'Arrian Collections

Nabi Mengajarkan Doa yang Meminta Kualitas Diri

Menariknya, Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa yang secara langsung meminta kualitas batin dan perilaku seorang Muslim:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.”

HR. Muslim no. 2721

Perhatikan susunannya.

Doa tersebut tidak hanya berbicara tentang sesuatu yang ingin dimiliki. Ada permintaan untuk memperoleh petunjuk dan ketakwaan.

Artinya, seorang Muslim tidak hanya membutuhkan pertolongan Allah agar keadaan di luar dirinya berubah. Ia juga membutuhkan pertolongan agar dirinya mampu menghadapi keadaan tersebut dengan benar.

Memiliki rezeki membutuhkan syukur.

Memiliki kekuasaan membutuhkan amanah.

Memiliki ilmu membutuhkan tanggung jawab.

Bahkan, memiliki masalah membutuhkan kesabaran.

Karena itu, doa terbaik bukan selalu doa yang meminta hidup menjadi mudah. Kadang, doa yang lebih penting adalah permohonan agar kita memiliki hati yang benar ketika hidup tidak mudah.

“Ya Allah, Bantu Aku Menjadi Hamba yang Taat”

Ada pula doa yang sangat jelas meminta pertolongan Allah untuk menjalankan ibadah:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

Doa tersebut diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal dan diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud no. 1522.

Di sinilah hubungan antara doa Nabi dan hikmah Ibnu Athaillah menjadi semakin jelas.

Kita tetap boleh meminta rezeki.

Kita tetap boleh meminta kesembuhan.

Kita tetap boleh meminta kemudahan.

Namun, jangan lupa meminta sesuatu yang membuat semua pemberian itu tidak menjauhkan kita dari Allah: petunjuk, ketakwaan, kemampuan bersyukur, dan kesanggupan beribadah dengan baik.

Al-Qur’an juga mengingatkan:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat tersebut tentu bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Justru sebaliknya, ia mengingatkan bahwa usaha manusia seharusnya berjalan bersama ketakwaan.

Mungkin Bukan Doanya yang Kurang, tetapi Arah Permintaannya

Pada akhirnya, hikmah Ibnu Athaillah tidak menyuruh manusia berhenti meminta.

Ia justru mengajak kita memperbaiki kualitas permintaan.

Jangan hanya berkata:

“Ya Allah, berikan aku apa yang kuinginkan.”

Tambahkan dalam hati:

“Ya Allah, berikan pula kepadaku kemampuan untuk melakukan apa yang Engkau sukai.”

Sebab, mendapatkan apa yang kita mau belum tentu menjadi keselamatan.

Sebaliknya, kemampuan untuk tetap taat ketika memperoleh maupun kehilangan sesuatu adalah karunia yang sangat mendasar.

Kita sering datang kepada Allah membawa daftar keinginan. Padahal, mungkin ada satu permohonan yang jauh lebih penting:

“Ya Allah, jangan hanya kabulkan apa yang aku minta; mampukan aku menjalankan apa yang Engkau minta.”

Itulah pelajaran tajam dari hikmah tersebut.

Jangan sampai kita begitu sibuk meminta Allah mengubah hidup, sampai lupa meminta Allah memperbaiki diri.

Dan barangkali, doa terbaik bukanlah doa yang membuat seluruh hidup berjalan sesuai keinginan kita, melainkan doa yang membuat kita tetap menjadi hamba Allah ketika hidup berjalan tidak sesuai keinginan. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less