Breaking News
light_mode
Beranda » Perspektif » Transportasi Jabar Disorot: Aman Saja Tak Cukup

Transportasi Jabar Disorot: Aman Saja Tak Cukup

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF — Pesawat bisa mendarat dengan selamat. Namun, perjalanan masyarakat belum selesai ketika roda pesawat menyentuh landasan.

Persoalan itulah yang membuat Transportasi Jabar menarik dibaca dari Bandara Nusawiru, Pangandaran. Pada momentum Hari Perhubungan Nasional atau Harhubnas 2026, perhatian tidak hanya tertuju pada keselamatan perjalanan, tetapi juga bagaimana penumpang dapat melanjutkan perjalanan dengan mudah menuju destinasi wisata dan wilayah lain.

Di kawasan selatan Jawa Barat, persoalan tersebut terasa semakin penting. Bandara, jalan raya, kendaraan pengumpan, angkutan umum, hingga jalur kereta api harus dilihat sebagai bagian dari satu jaringan. Jika salah satu mata rantai tidak tersambung, perjalanan masyarakat pun dapat kehilangan kesinambungan.

Karena itu, pesan Harhubnas tahun ini dapat dibaca lebih luas: transportasi Jawa Barat tidak cukup hanya aman. Transportasi juga harus terhubung.

Nusawiru Bukan Sekadar Lokasi Upacara

Peringatan Harhubnas tingkat Jawa Barat berlangsung di Bandara Nusawiru, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jumat, 18 September 2026.

Pemilihan Nusawiru bukan tanpa konteks. Bandara tersebut merupakan salah satu simpul akses udara menuju Pangandaran dan kawasan selatan Jawa Barat.

Namun, sebuah simpul transportasi tidak bekerja sendirian.

Wisatawan yang tiba melalui jalur udara tetap membutuhkan kendaraan untuk mencapai hotel, pantai, pusat kuliner, maupun destinasi lainnya. Begitu pula masyarakat lokal membutuhkan akses lanjutan ketika berpindah dari satu titik ke titik lain.

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mendorong penguatan konektivitas dari Bandara Nusawiru menuju berbagai destinasi wisata Pangandaran. Salah satu opsi yang dibahas ialah shuttle bus, termasuk penggunaan kendaraan listrik.

Gagasan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap transportasi Jabar. Bandara tidak cukup hanya memiliki landasan dan jadwal penerbangan. Akses dari bandara menuju tujuan akhir juga menentukan manfaat sebuah layanan transportasi.

D'Arrian Collections

Keselamatan Tetap Menjadi Batas Utama

Transportasi modern tidak hanya mengejar kecepatan. Keselamatan tetap menjadi fondasi.

Ketika kondisi tertentu membuat perjalanan tidak aman, operasi transportasi harus mengutamakan perlindungan penumpang dan petugas. Keputusan menghentikan layanan dalam situasi berisiko bukan berarti kebutuhan mobilitas masyarakat ikut berhenti.

Justru di titik itulah sistem transportasi diuji.

Masyarakat tetap harus pergi bekerja, bersekolah, mengakses layanan kesehatan, mengirim barang, atau melanjutkan perjalanan. Karena itu, keberadaan moda alternatif dan koneksi antarmoda menjadi penting ketika satu layanan mengalami gangguan.

Dengan pendekatan tersebut, konektivitas Jabar bukan sekadar istilah dalam dokumen perencanaan. Konektivitas menyangkut pengalaman nyata masyarakat saat berpindah dari satu moda ke moda berikutnya.

Perjalanan yang aman tetapi terputus di tengah jalan tetap menyisakan persoalan pelayanan.

Dari Pangandaran ke Jaringan Priangan Timur

Pangandaran memiliki hubungan mobilitas yang erat dengan Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Tasikmalaya, dan wilayah lain di Priangan Timur.

Wisatawan datang dari berbagai arah. Produk UMKM bergerak menuju pasar. Pekerja melakukan perjalanan lintas kabupaten. Masyarakat juga membutuhkan akses menuju pusat pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan perdagangan.

Karena itu, pembahasan mengenai transportasi Priangan Timur tidak seharusnya berhenti pada satu daerah.

Salah satu isu yang kembali mendapat perhatian ialah rencana reaktivasi jalur kereta api Banjar–Pangandaran. Akan tetapi, status rencana tersebut perlu dipahami secara hati-hati.

Reaktivasi belum dapat disebut sebagai proyek yang sudah pasti dibangun. Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih membutuhkan feasibility study atau studi kelayakan. Dalam rencana yang disampaikan pemerintah, pelaksanaannya berada dalam rentang 2028–2029.

Pembedaan antara kajian, rencana, dan pelaksanaan menjadi penting. Dengan begitu, masyarakat memperoleh informasi yang jelas tanpa menciptakan ekspektasi berlebihan.

Tantangan Transportasi Jabar Lebih Besar dari Infrastruktur

Jawa Barat memiliki karakter wilayah yang sangat beragam.

Kawasan metropolitan menghadapi kepadatan perjalanan dan kebutuhan angkutan massal. Sementara itu, kawasan selatan menghadapi persoalan jarak, akses antarkawasan, serta keterhubungan menuju pusat ekonomi dan destinasi wisata.

Karena itu, satu pendekatan tidak selalu cocok untuk seluruh wilayah.

Dokumen perencanaan Jawa Barat mencatat tingkat aksesibilitas transportasi pada 2024 sebesar 41,12 persen, sedangkan peningkatan pengguna angkutan umum tercatat 4,93 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembangunan transportasi perlu melihat aspek akses dan penggunaan layanan, bukan hanya pembangunan fisik.

Dalam konteks Pangandaran, koneksi Bandara Nusawiru dengan destinasi wisata menjadi salah satu contoh konkretnya.

Di sisi lain, koridor Banjar–Pangandaran memperlihatkan kebutuhan koneksi yang lebih luas. Jika berbagai moda dapat terintegrasi, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan perjalanan dan distribusi barang dapat bergerak melalui jaringan yang lebih terstruktur.

Namun, integrasi tidak otomatis terjadi hanya karena infrastruktur tersedia.

Diperlukan jadwal yang saling mendukung, akses perpindahan yang mudah, layanan yang terjangkau, serta standar keselamatan yang konsisten.

Setelah Harhubnas, Apa yang Berubah?

Harhubnas 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.

Momentum di Nusawiru dapat menjadi pengingat bahwa masa depan transportasi Jabar ditentukan oleh kemampuan menghubungkan berbagai titik perjalanan.

Bandara harus terhubung dengan destinasi. Angkutan umum perlu terhubung dengan pusat aktivitas. Moda antarkota harus terhubung dengan jaringan lokal. Bahkan, jalur distribusi barang pun membutuhkan koneksi yang efisien.

Bagi Priangan Timur, kebutuhan tersebut sangat nyata.

Pangandaran memiliki pariwisata. Ciamis dan Banjar menjadi bagian penting dari pergerakan regional. Tasikmalaya memiliki aktivitas ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan jasa yang terus bergerak.

Semua membutuhkan satu hal yang sama: akses yang tidak terputus.

Maka, ukuran keberhasilan transportasi tidak cukup hanya dengan menghitung kendaraan yang beroperasi atau infrastruktur yang dibangun.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masyarakat dapat berpindah dari titik awal menuju tujuan akhir dengan aman, mudah, terjangkau, dan efisien.

Sebab, transportasi yang aman menjaga perjalanan tetap selamat. Tetapi transportasi yang terhubung membuat perjalanan benar-benar sampai pada tujuan.

Jalan boleh panjang. Jarak boleh jauh. Tetapi bagi Jawa Barat, koneksi tidak boleh putus. Sebab ketika transportasi gagal menghubungkan manusia, yang ikut tertahan bukan hanya perjalanan—tetapi juga peluang ekonomi dan kehidupan masyarakat. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less