Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » GENIUS Tasikmalaya Soroti Gap Literasi Keuangan Pelajar

GENIUS Tasikmalaya Soroti Gap Literasi Keuangan Pelajar

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • visibility 37
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Akses layanan keuangan kelompok usia 15–17 tahun secara nasional sudah mencapai 89,13 persen. Namun, tingkat literasi keuangannya baru 56,04 persen. Selisih 33,09 poin persentase itu menjadi salah satu konteks penting di balik peluncuran GENIUS Tasikmalaya, program edukasi keuangan yang menyasar lingkungan sekolah.

Program Gerakan Edukasi dan Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) diluncurkan Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya pada Kamis, 17 September 2026.

Kegiatan berlangsung di Aula Bappelitbangda, Bale Kota Tasikmalaya, sekaligus menjadi bagian dari Kick Off Bulan Inklusi Keuangan 2026.

Dilansir dari Pemkot Tasikmalaya, program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan pelajar dalam memahami keuangan, sekaligus mendukung pendidikan yang mencakup aspek akademik, karakter, literasi digital, dan literasi finansial.

Akses Keuangan Tinggi, Pemahaman Perlu Diperkuat

Angka Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 memberikan gambaran mengapa edukasi keuangan bagi pelajar semakin penting.

Secara nasional, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan berada pada 69,57 persen.

Untuk kelompok usia 15–17 tahun, indeks inklusi tercatat 89,13 persen. Sementara itu, indeks literasinya baru 56,04 persen.

Perbedaan tersebut mencapai 33,09 poin persentase. Angka ini menunjukkan bahwa tingginya akses terhadap layanan keuangan belum otomatis berjalan seiring dengan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan tersebut.

OJK menjelaskan, literasi keuangan mencakup pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. Sementara itu, inklusi keuangan berkaitan dengan akses serta penggunaan produk dan layanan jasa keuangan.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah pelajar sudah mengenal layanan keuangan.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka memahami risiko, biaya, manfaat, serta konsekuensi dari keputusan finansial yang dibuat.

Di sinilah GENIUS Tasikmalaya mendapatkan relevansinya.

Sekolah Menjadi Ruang Penting Literasi Keuangan

Lingkungan sekolah memiliki posisi strategis untuk membangun kebiasaan finansial sejak dini.

Materi literasi keuangan dapat dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan pelajar. Misalnya, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, membangun kebiasaan menabung, hingga memahami risiko transaksi digital.

Apalagi, aktivitas keuangan kini semakin dekat dengan telepon seluler.

Pembayaran digital, belanja daring, layanan perbankan, dan berbagai aplikasi keuangan dapat digunakan dalam hitungan detik. Kemudahan itu tentu memberikan manfaat, tetapi juga menuntut kehati-hatian.

Pelajar perlu mengetahui bahwa keputusan finansial bukan sekadar persoalan menekan tombol “bayar”.

Ada data pribadi yang harus dilindungi. Ada PIN dan kode OTP yang tidak boleh dibagikan. Ada pula tawaran finansial yang perlu diperiksa sebelum dipercaya.

Karena itu, literasi keuangan perlu diarahkan pada kemampuan mengambil keputusan, bukan berhenti pada hafalan istilah.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan penguatan Tasik Pintar yang menempatkan pendidikan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian penting pembangunan Kota Tasikmalaya.

D’Arrian Shop

Enam Duta Literasi Keuangan Guru Penggerak Dikukuhkan

Dalam kegiatan tersebut, enam Duta Literasi Keuangan Guru Penggerak GENIUS OJK turut dikukuhkan.

Penandatanganan komitmen bersama implementasi Program GENIUS OJK di Kota Tasikmalaya juga dilakukan dalam agenda yang sama.

Kehadiran guru penggerak menjadi bagian penting karena pendidikan finansial membutuhkan kesinambungan. Satu kali seminar atau sosialisasi belum tentu cukup untuk membentuk kebiasaan.

Materi yang sederhana justru dapat lebih efektif jika hadir secara berulang dalam kehidupan sekolah.

Pelajar, misalnya, dapat diajak membuat anggaran uang saku, menentukan target tabungan, memahami prioritas kebutuhan, serta mengevaluasi keputusan belanja.

Dengan cara itu, literasi keuangan pelajar tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Lebih jauh, kebiasaan tersebut dapat terbawa ke rumah. Orang tua pun memiliki ruang untuk melanjutkan pembelajaran melalui praktik sehari-hari.

Tantangan GENIUS Tidak Berhenti pada Peluncuran

Hasil SNLIK 2026 memperlihatkan satu persoalan yang perlu diperhatikan: akses terhadap layanan keuangan sudah relatif luas, tetapi pemahaman finansial pada kelompok usia 15–17 tahun masih memiliki ruang besar untuk diperkuat.

Karena itu, keberhasilan GENIUS Tasikmalaya nantinya tidak cukup diukur dari jumlah sekolah yang mengikuti program atau banyaknya peserta dalam kegiatan edukasi.

Ukuran yang lebih penting adalah perubahan perilaku.

Apakah pelajar semakin mampu membedakan kebutuhan dan keinginan? Apakah mereka lebih berhati-hati ketika menerima tawaran keuangan digital? Apakah mereka mulai mampu mengatur uang saku dan menabung secara terencana?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena literasi keuangan pada dasarnya berkaitan dengan keputusan yang dibuat seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

OJK mencatat bahwa hasil SNLIK 2026 dapat menjadi salah satu dasar dalam merancang kebijakan dan program peningkatan literasi serta inklusi keuangan. Survei tersebut melibatkan 75.000 responden berusia 15–79 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.

Bagi Tasikmalaya, peluncuran GENIUS membuka ruang untuk membawa agenda tersebut lebih dekat ke sekolah dan keluarga.

Program ini pada akhirnya akan diuji bukan oleh kemeriahan acara peluncurannya, melainkan oleh seberapa jauh pengetahuan finansial benar-benar menjadi bagian dari keseharian pelajar.

Sebab, generasi yang siap menghadapi ekonomi digital bukan hanya mereka yang mampu mengakses layanan keuangan, tetapi mereka yang memahami risiko sebelum bertransaksi dan mampu mengambil keputusan sebelum uang berpindah tangan. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less