Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Kekeringan Pangandaran, 19.721 Jiwa Terlayani Air Bersih

Kekeringan Pangandaran, 19.721 Jiwa Terlayani Air Bersih

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • visibility 41
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com | BERITA DAERAHKekeringan Pangandaran berdampak pada ribuan warga yang membutuhkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan infografis data penanganan kekeringan yang diperbarui Kamis, 17 September 2026, tercatat 19.721 jiwa dari 6.624 kepala keluarga (KK) telah terlayani distribusi air bersih di 9 kecamatan dan 32 desa.

Data tersebut mencatat total distribusi mencapai 1.535.000 liter air bersih. Angka itu menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat ketika sumber air di sejumlah wilayah tidak lagi mencukupi.

Bagi warga terdampak, persoalannya bukan sekadar berkurangnya debit air. Ketersediaan air menyangkut kebutuhan rumah tangga, sanitasi, konsumsi, hingga aktivitas sehari-hari.

1,535 Juta Liter Air Bersih Didistribusikan

Dikutip dari BPBD Pangandaran, total distribusi air bersih tercatat mencapai 1.535.000 liter.

Pasokan tersebut berasal dari beberapa unsur. BPBD tercatat mendistribusikan 695.000 liter, kemudian TAGANA 720.000 liter, sedangkan BBWS menyumbang 120.000 liter.

Jika ketiga sumber tersebut dijumlahkan, volumenya sesuai dengan total distribusi yang tercantum dalam data, yakni 1.535.000 liter.

Distribusi air menjadi langkah cepat untuk membantu masyarakat menghadapi keterbatasan sumber air. Namun, kebutuhan di lapangan tidak selalu sama antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Data per kecamatan menunjukkan adanya perbedaan jumlah warga dan keluarga yang mendapatkan layanan.

Kondisi tersebut membuat penanganan kekeringan membutuhkan pemetaan yang terus diperbarui. Dengan begitu, distribusi dapat diarahkan berdasarkan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.

Kalipucang Catat Warga Terlayani Terbanyak

Dari sembilan kecamatan yang tercantum, Kalipucang mencatat jumlah jiwa terlayani paling besar, yakni 6.732 jiwa dari 2.325 KK.

Berikutnya, Kecamatan Pangandaran mencatat 2.365 jiwa dari 768 KK. Parigi mencapai 2.209 jiwa dari 760 KK, sedangkan Padaherang tercatat 2.176 jiwa dari 729 KK.

Di Cigugur, jumlah warga terlayani mencapai 1.996 jiwa dari 637 KK. Sementara itu, Cimerak mencatat 1.638 jiwa dari 472 KK dan Cijulang sebanyak 1.589 jiwa dari 603 KK.

Sidamulih tercatat 919 jiwa dari 310 KK. Adapun Mangunjaya menjadi wilayah dengan jumlah warga terlayani paling kecil dalam rincian tersebut, yakni 97 jiwa dari 30 KK.

Perbedaan angka itu memperlihatkan bahwa kebutuhan air bersih tersebar dengan skala yang berbeda. Karena itu, angka agregat kabupaten perlu dibaca bersama dengan kondisi masing-masing kecamatan.

D’Arrian Shop

32 Desa Terdampak Tersebar di 9 Kecamatan

Sebaran wilayah yang masuk dalam data penanganan juga cukup luas.

Di Kecamatan Cimerak, desa yang tercatat meliputi Limusgede, Kertamukti, Kertaharja, Mekarsari, dan Sindangsari.

Kemudian Kecamatan Cijulang mencakup Batukaras, Cibanten, Margacinta, dan Kertayasa. Di Parigi terdapat Cintakarya, Parakanmanggu, Bojong, Cintaratu, dan Karangbenda.

Selanjutnya, Cigugur mencakup Cimindi, Pagerbumi, Kertajaya, dan Bunisari. Kecamatan Sidamulih tercatat meliputi Desa Sidamulih.

Untuk Kecamatan Pangandaran, wilayah yang masuk daftar ialah Sidomulyo, Sukahurip, dan Purbahayu. Sementara itu, Kalipucang mencakup Pamotan, Bagolo, Banjarharja, dan Tunggilis.

Di Padaherang, desa yang tercatat adalah Karangmulya, Bojongsari, Sindangwangi, Padaherang, dan Ciganjeng. Terakhir, Kecamatan Mangunjaya mencatat Desa Mangunjaya.

Dengan sebaran tersebut, persoalan air bersih tidak terkonsentrasi pada satu titik. Penanganannya mencakup sejumlah wilayah dengan karakter kebutuhan yang berbeda.

Distribusi Air Penting, Sumber Permanen Juga Dibutuhkan

Distribusi air bersih menjadi respons langsung ketika masyarakat menghadapi kekurangan pasokan. Namun, bantuan melalui pengiriman air pada dasarnya bersifat responsif.

Karena itu, penyediaan sumber air alternatif juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap distribusi selama musim kering.

Pada Agustus 2026, BPBD Pangandaran bersama sejumlah unsur terkait melakukan pengecekan titik rencana pembangunan sumur bor di Desa Bojongsari, Bagolo, Parakanmanggu, dan Cibanten. Rencana tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ketersediaan sumber air di wilayah yang membutuhkan.

BPBD Pangandaran sendiri secara rutin menerbitkan laporan harian mengenai kondisi kebencanaan dan pemantauan wilayah. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemantauan dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk komunikasi dengan wilayah desa serta pemantauan informasi kebencanaan.

Artinya, penanganan kekeringan tidak berhenti pada pengiriman air ketika warga membutuhkan. Pemantauan, pemetaan kebutuhan, dan penguatan sumber air menjadi bagian penting agar respons dapat berjalan lebih berkelanjutan.

Bagi 19.721 jiwa yang tercatat telah terlayani, setiap tangki air bukan sekadar angka dalam laporan. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, ada keluarga yang menunggu pasokan, dan ada aktivitas harian yang bergantung pada ketersediaan air.

Kekeringan mungkin datang bersama musim yang panjang, tetapi kebutuhan air tidak pernah mengenal jeda. Ketika sumur mulai mengering, satu tetes air bersih berubah menjadi kebutuhan yang menentukan kehidupan sehari-hari. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less