Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Al-Hikam: Mengapa Orang yang Selalu Menjawab Patut Dicurigai?

Al-Hikam: Mengapa Orang yang Selalu Menjawab Patut Dicurigai?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • visibility 45
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada orang yang merasa harus punya jawaban untuk segala hal. Ditanya, langsung menjawab. Melihat sesuatu, segera bercerita. Mengetahui sedikit, lalu menjelaskan seolah-olah sudah memahami seluruh persoalan. Ibnu Athaillah justru mengingatkan agar kita berhati-hati terhadap kebiasaan tersebut. Dalam Al-Hikam, ia berbicara tentang adab ilmu, menjaga lisan, kebodohan, dan kesadaran terhadap batas pengetahuan.

مَنْ رَأَيْتَهُ مُجِيبًا عَنْ كُلِّ مَا سُئِلَ، وَمُعَبِّرًا عَنْ كُلِّ مَا شَهِدَ، وَذَاكِرًا لِكُلِّ مَا عَلِمَ، فَاسْتَدِلَّ بِذَلِكَ عَلَى وُجُودِ جَهْلِهِ

Maknanya:

“Siapa yang selalu menjawab segala pertanyaan, menceritakan segala yang telah dilihat, dan menyebut segala yang ia ketahui, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu merupakan tanda kebodohannya.”

Hikmah ini terasa sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin mengganggu kenyamanan.

Sebab, kita hidup pada zaman ketika terlihat tahu sering dianggap sama dengan benar-benar tahu.

Padahal keduanya tidak selalu sama.

Orang Berilmu Tidak Harus Menjawab Semuanya

Ada perbedaan antara mampu menjawab dan merasa harus menjawab.

Orang yang memiliki ilmu biasanya memahami batas pengetahuannya. Ia tahu persoalan mana yang dikuasai dan mana yang perlu diserahkan kepada orang yang lebih ahli.

Karena itu, mengatakan “Saya tidak tahu” bukanlah aib.

Justru, kejujuran semacam itu membutuhkan keberanian.

Al-Qur’an memberikan peringatan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isra: 36)

Pesannya jelas. Jangan menjadikan dugaan sebagai pengetahuan, apalagi menyampaikannya dengan keyakinan yang tidak memiliki dasar.

Karena itu pula, Al-Qur’an mengajarkan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)

Ada ilmu yang memang kita kuasai. Ada ilmu yang belum kita pahami. Ada pula perkara yang seharusnya kita tanyakan kepada ahlinya.

Mengetahui perbedaan itu adalah bagian dari adab ilmu.

Di Media Sosial, Semua Orang Mendadak Jadi Ahli

Nasihat Ibnu Athaillah terasa semakin relevan ketika dibawa ke kehidupan digital.

Sekarang, hampir setiap orang memiliki panggung.

Satu unggahan dapat menjangkau ribuan pembaca. Satu komentar bisa memicu perdebatan panjang. Sebuah video berdurasi singkat bahkan kadang membuat orang merasa telah memahami persoalan yang sesungguhnya jauh lebih rumit.

Di sinilah masalah bermula.

Seseorang melihat satu kejadian, lalu merasa mengetahui seluruh latar belakangnya.

Ia membaca satu potongan informasi, kemudian menyusun kesimpulan.

Ia mendengar cerita dari satu pihak, lalu berbicara seolah-olah berada di tempat kejadian.

Lebih lucu lagi, terkadang seseorang membaca satu artikel kemudian lima menit kemudian sudah siap mengoreksi semua orang.

Jempol memang sering lebih cepat daripada pikiran.

Namun, masalahnya bukan teknologi.

Masalahnya adalah manusia yang belum belajar mengendalikan dorongan untuk selalu terlihat tahu.

Menjaga lisan pada zaman digital, karena itu, tidak hanya berarti mengatur ucapan. Menjaga lisan juga berarti menjaga jari ketika mengetik, membagikan informasi, dan memberikan komentar.

Tidak Semua yang Dilihat Harus Diceritakan

Dalam hikmah tersebut, Ibnu Athaillah tidak hanya berbicara tentang orang yang selalu menjawab pertanyaan.

Ia juga menyebut orang yang menceritakan segala sesuatu yang dilihatnya.

Pesannya menyentuh persoalan yang lebih luas: tidak semua pengalaman harus berubah menjadi cerita publik.

Ada sesuatu yang cukup kita ketahui.

Ada sesuatu yang perlu kita sampaikan.

Ada pula sesuatu yang justru lebih baik kita simpan.

Dalam kehidupan spiritual, persoalan ini menjadi semakin penting. Pengalaman batin seseorang tidak semestinya otomatis menjadi bahan pertunjukan atau ukuran keunggulan dirinya di hadapan orang lain.

Pengalaman spiritual adalah perkara yang membutuhkan kehati-hatian. Ia tidak otomatis menjadi dalil bagi orang lain.

Begitu pula pengalaman pribadi tidak selalu dapat digeneralisasi.

Seseorang mengalami sesuatu, bukan berarti semua orang pasti mengalami hal yang sama.

Karena itu, ilmu dan pengalaman sama-sama membutuhkan adab ketika hendak disampaikan.

Diam Bukan Berarti Tidak Punya Ilmu

Ada anggapan bahwa orang pintar harus selalu mempunyai komentar.

Padahal, tidak demikian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

HR. Bukhari dan Muslim.

Hadis tersebut memberikan prinsip sederhana: ucapan seharusnya membawa kebaikan. Jika tidak, diam menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.

Tentu, diam bukan berarti membiarkan kesalahan. Dalam keadaan tertentu, seseorang justru wajib menyampaikan kebenaran.

Namun, kewajiban berbicara tidak berarti kewajiban berkomentar tentang segala sesuatu.

Ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

Ada masalah yang membutuhkan penjelasan.

Ada pula persoalan yang cukup dijawab dengan:

“Saya belum tahu.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi orang yang terbiasa mengejar pengakuan, mengucapkannya bisa terasa sangat berat.

Padahal, justru di sanalah kedewasaan intelektual mulai terlihat.

Jangan Jadikan Ilmu sebagai Panggung untuk Ego

Hikmah Al-Hikam bukan ajakan untuk menjadi manusia yang takut berbicara.

Islam mendorong umatnya menyampaikan ilmu, memberi nasihat, mengajarkan kebaikan, dan mengatakan kebenaran. Akan tetapi, semua itu membutuhkan ilmu, niat, ketepatan, dan adab.

Sebelum berbicara, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya benar-benar mengetahui persoalan ini?

Kemudian:

Apakah ucapan saya akan memberi manfaat?

Dan yang tidak kalah penting:

Apakah sekarang memang waktunya saya berbicara?

Jika jawabannya belum jelas, tidak ada salahnya berhenti sebentar.

Sebab, ilmu tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana berbicara.

Ilmu juga mengajarkan kapan harus diam.

Pesan Ibnu Athaillah untuk Zaman yang Gemar Berkomentar

Hikmah Ibnu Athaillah berusia berabad-abad, tetapi persoalan yang disentuhnya terasa sangat modern.

Dulu, orang mungkin harus berdiri di depan banyak orang untuk menunjukkan bahwa dirinya tahu.

Sekarang, cukup memiliki akun media sosial.

Dulu, kesalahan ucapan mungkin berhenti di sebuah ruangan.

Sekarang, satu kalimat bisa disimpan, dibagikan, dikutip, dan diperdebatkan berkali-kali.

Karena itu, kehati-hatian menjadi semakin penting.

Bukan berarti kita harus kehilangan keberanian untuk berbicara. Sebaliknya, kita perlu memastikan bahwa keberanian tersebut berjalan bersama pengetahuan.

Pada akhirnya, Al-Hikam mengajak kita bukan sekadar mengurangi kata-kata, tetapi memperbaiki kualitas kata-kata.

Berbicara ketika memang perlu.

Diam ketika tidak tahu.

Bertanya ketika belum memahami.

Dan tidak menjadikan pengetahuan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Orang yang belum selesai dengan egonya ingin menjawab semuanya. Orang yang mulai mengenal ilmu berani berkata, “Saya tidak tahu.” Sedangkan orang yang benar-benar matang memahami sesuatu yang lebih dalam: tidak semua yang diketahui harus diucapkan, karena terkadang diam bukan tanda kekurangan ilmu—melainkan bukti bahwa ilmu telah mengajarkan adab. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less