Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » 5 Fakta Kanaya Whu, Vokalis Emka 9 yang Berpulang

5 Fakta Kanaya Whu, Vokalis Emka 9 yang Berpulang

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • visibility 74
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Albadarpost.com, BERITA DAERAHKanaya Whu, atau Kanaya Whulan, vokalis Emka 9, meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Minggu, 13 September 2026. Kabar duka itu datang setelah penyanyi asal Tasikmalaya tersebut berjuang melawan kanker. Sebelumnya, Kanaya masih tampil dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jawa Barat pada 17 Agustus 2026.

Kepergiannya menyisakan cerita yang lebih panjang daripada sekadar kabar duka. Selama bergabung dengan Emka 9, Kanaya menjadi salah satu suara yang membawa lagu-lagu bernuansa Sunda ke berbagai panggung dan agenda budaya Jawa Barat.

Bahkan, penampilannya pada Agustus lalu kini memiliki makna berbeda. Saat itu, tidak banyak yang menyangka bahwa panggung tersebut kelak menjadi salah satu penampilan terakhirnya di hadapan publik.

Lantas, siapa Kanaya Whu dan bagaimana perjalanan kariernya?

1. Kanaya Whu merupakan vokalis Emka 9 sejak 2019

Kanaya Whu mulai bergabung dengan Emka 9 pada 2019. Ia menempati posisi vokalis setelah menggantikan Echa.

Sejak saat itu, namanya semakin dikenal masyarakat Jawa Barat. Emka 9 merupakan kelompok musik yang dibentuk Dedi Mulyadi dan kerap tampil dalam berbagai agenda budaya maupun kegiatan yang mempertemukan pemerintah dengan masyarakat.

Karena itu, posisi Kanaya di dalam kelompok tersebut bukan sekadar sebagai penyanyi panggung. Ia menjadi salah satu wajah yang paling mudah dikenali ketika Emka 9 tampil.

2. Kanaya tumbuh dengan perjalanan seni yang panjang

Kanaya lahir pada 1991. Sejumlah profil menyebut ia menghabiskan masa pendidikan dari SD hingga SMA di Jakarta.

Menariknya, perjalanan Kanaya di dunia hiburan disebut sudah dimulai sejak usia muda. Salah satu laporan terbaru menyebut ia pernah menjadi artis cilik dan tampil dalam FTV serta film layar lebar sebelum kemudian lebih dikenal sebagai penyanyi.

Sebelum sepenuhnya fokus pada dunia seni vokal, Kanaya juga pernah bekerja di lingkungan perkantoran Jakarta.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kariernya tidak lahir dalam semalam. Ada pengalaman sebagai pekerja kantoran, pengalaman di dunia hiburan, lalu perjalanan panjang bersama Emka 9.

3. Ia sempat menghadapi tantangan saat menyanyikan lagu Sunda

Ada sisi menarik dari perjalanan Kanaya sebagai vokalis Emka 9.

Meski kemudian sangat identik dengan lagu-lagu bernuansa Sunda, sejumlah profil menyebut Kanaya sempat mengalami kesulitan ketika harus menyanyikan lagu berbahasa Sunda karena tumbuh dan bersekolah di Jakarta.

Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari prosesnya.

Kanaya kemudian semakin akrab dengan lagu, bahasa, dan karakter budaya Sunda melalui aktivitasnya bersama Emka 9. Dari sana, suara Kanaya menjadi bagian dari berbagai pertunjukan yang membawa karya bernuansa lokal kepada masyarakat.

Proses itu pula yang membuat perjalanan kariernya menarik. Ia tidak hanya hadir sebagai penyanyi, tetapi ikut menjadi penghubung antara panggung musik dan ekspresi budaya Jawa Barat.

4. Sejumlah lagu Sunda melekat dengan suara Kanaya

Bersama Emka 9, Kanaya dikenal membawakan sejumlah lagu bernuansa Sunda.

Di antaranya Kaasih Indung, Lungse, Lampah, Rubuh, dan Rindu Purnama. Laporan lain juga mencatat sejumlah karya seperti Karembong Koneng, Prabu Siliwangi, Dangiang Galuh Pakuan, Indung, dan Memanen Cinta dalam perjalanan musikalnya.

Lagu-lagu tersebut membuat nama Kanaya semakin dekat dengan masyarakat Jawa Barat.

Bagi pendengar, mungkin yang tersisa adalah melodi dan suara. Namun, bagi dunia kebudayaan, karya semacam itu memiliki fungsi lain: menjaga bahasa, cerita, dan identitas lokal tetap hadir dalam ruang publik.

5. Penampilan 17 Agustus 2026 kini menjadi kenangan terakhir

Inilah salah satu fakta yang membuat kabar wafat Kanaya terasa begitu dekat.

Pada 17 Agustus 2026, Kanaya tampil dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Jawa Barat. Ia menjadi bagian dari penampilan Emka 9 dalam prosesi yang berlangsung di kawasan Gedung Sate.

Dalam kesempatan tersebut, Kanaya membawakan “Melati di Tapal Batas” karya Ismail Marzuki. Ia tampil mengenakan busana bernuansa veteran bersama anggota dan kru Emka 9.

Kini, penampilan tersebut dikenang dengan cara berbeda.

Dedi Mulyadi membagikan kembali momen itu setelah kabar kepergian Kanaya. Ia menyebut penampilan tersebut sebagai persembahan terakhir Kanaya untuk bangsa.

Kanaya Whu dan jejak yang tersisa

Kanaya Whu meninggal dunia di RSHS Bandung pada Minggu, 13 September 2026 setelah menjalani perawatan akibat kanker. Kabar tersebut disampaikan Dedi Mulyadi melalui media sosial. Jenazah Kanaya kemudian dimakamkan di Kabupaten Tasikmalaya.

Bagi masyarakat Tasikmalaya, kabar tersebut memiliki kedekatan tersendiri. Sosok yang selama bertahun-tahun hadir di panggung budaya Jawa Barat itu akhirnya kembali ke tanah kelahirannya.

Namun, perjalanan seorang seniman tidak berhenti ketika panggung terakhir selesai.

Suara bisa hilang dari mikrofon. Sosok bisa pergi dari panggung. Akan tetapi, karya tetap memiliki jalan panjangnya sendiri.

Kanaya Whu telah meninggalkan panggung, tetapi suaranya tidak ikut dimakamkan. Selama lagu-lagunya masih dinyanyikan dan dikenang, jejak Kanaya akan tetap hidup di antara musik, budaya Sunda, dan ingatan masyarakat Jawa Barat. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less