Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » DMI Kota Banjar Dilantik, Imam dan Muadzin Dapat Insentif

DMI Kota Banjar Dilantik, Imam dan Muadzin Dapat Insentif

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • visibility 43
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHDMI Kota Banjar memasuki masa bakti baru 2026-2031. Bersamaan dengan pelantikan 60 pengurus di Gedung Dakwah Kota Banjar, perhatian pemerintah daerah juga tertuju pada imam dan muadzin yang selama ini menjadi bagian penting dalam aktivitas masjid.

Dikutip dari keterangan Pemerintah Kota Banjar, pelantikan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Banjar berlangsung pada Minggu, 13 September 2026, dengan tema “Masjid Berdaya Banjar Masagi”. Momentum tersebut sekaligus diisi penyerahan insentif bagi imam dan muadzin DKM se-Kota Banjar.

Namun, ada pesan yang lebih besar di balik seremoni tersebut. Pemerintah Kota Banjar mendorong masjid agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi pusat pemberdayaan umat.

Dengan demikian, pekerjaan pengurus baru DMI Kota Banjar tidak berhenti pada pelantikan. Mereka menghadapi tantangan untuk menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kegiatan yang benar-benar terasa di tengah masyarakat.

60 Pengurus DMI Kota Banjar Resmi Dilantik

Sebanyak 60 orang pengurus resmi dilantik untuk menjalankan kepengurusan DMI Kota Banjar periode 2026-2031.

Berdasarkan keterangan Pemkot Banjar, KH. Aep Sapullah dipercaya sebagai Ketua. Sementara itu, H. Agus Mulyana, S.K.M., M.M. menjabat Wakil Ketua 1 dan Luqmanul Hakim, S.Sos. sebagai Wakil Ketua 2. Posisi Sekretaris ditempati Muhdir, S.Pd., M.Pd.

Pelantikan turut dihadiri Wali Kota Banjar Ir. H. Sudarsono, Wakil Wali Kota Banjar Dr. H. Supriana, M.Pd., Sekretaris Daerah, para kepala perangkat daerah, camat se-Kota Banjar, pengurus DMI Provinsi Jawa Barat, jajaran DMI Kota Banjar, serta tokoh agama.

Akan tetapi, setelah prosesi pelantikan selesai, pertanyaan yang lebih penting justru muncul: apa yang akan berubah di masjid-masjid Kota Banjar selama lima tahun ke depan?

Pertanyaan itu relevan karena tema “Masjid Berdaya Banjar Masagi” membawa ekspektasi yang lebih luas daripada sekadar penguatan organisasi.

Imam dan Muadzin Banjar Mendapat Insentif

Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut ialah penyerahan insentif kepada imam dan muadzin DKM se-Kota Banjar.

Menurut keterangan Pemkot Banjar, insentif diberikan selama 12 bulan. Pemerintah Kota Banjar menanggung enam bulan, sedangkan enam bulan lainnya berasal dari Baznas Kota Banjar.

Ratusan imam, muadzin, dan pengurus masjid menjadi penerima manfaat program tersebut.

Dukungan terhadap imam dan muadzin bukan hal yang sama sekali baru di Kota Banjar. Pada Maret 2026, Baznas Kota Banjar juga melaporkan penyaluran insentif kepada 686 imam dan muadzin dari 343 DKM se-Kota Banjar. Baznas menyebut program tersebut sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian para imam dan muadzin dalam membina umat.

Karena itu, insentif dalam momentum pelantikan DMI kali ini dapat dilihat sebagai bagian dari perhatian terhadap unsur yang menopang aktivitas keagamaan di tingkat masjid.

Namun, dukungan finansial tentu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang tidak kalah penting ialah bagaimana dukungan tersebut berjalan beriringan dengan pembinaan, peningkatan kapasitas pengurus, dan penguatan pelayanan kepada masyarakat.

Masjid Banjar Didorong Jadi Pusat Pemberdayaan

Dalam sambutannya, Wali Kota Banjar menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang memberikan bimbingan keagamaan hingga tingkat RT dan RW.

Dikutip dari Pemkot Banjar, pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi dengan DMI untuk memperkuat peran masjid di Kota Banjar.

Arahnya cukup jelas: masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat.

Gagasan tersebut membuat tugas DMI periode 2026-2031 menjadi lebih besar. Organisasi ini bukan hanya perlu memastikan koordinasi antarpengurus berjalan baik, tetapi juga mendorong masjid agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat di lingkungannya.

Misalnya, masjid dapat menjadi ruang pembinaan generasi muda, pendidikan keagamaan, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga berbagai aktivitas yang memperkuat kepedulian antarwarga.

Jika konsep tersebut berjalan secara konsisten, istilah “masjid berdaya” tidak berhenti sebagai tema pelantikan.

Sebaliknya, masjid dapat menjadi salah satu pusat aktivitas sosial masyarakat Kota Banjar.

Tantangan DMI Kota Banjar Setelah Pelantikan

Pelantikan 60 pengurus merupakan awal dari masa kerja baru. Karena itu, tantangan DMI Kota Banjar justru muncul setelah acara selesai.

Pengurus perlu menerjemahkan visi tersebut menjadi program yang dapat dipahami dan dirasakan hingga tingkat DKM.

Selain itu, kolaborasi dengan Pemkot Banjar, Baznas, tokoh agama, pengurus DKM, imam, dan muadzin akan menjadi bagian penting dalam menjalankan agenda kemasjidan.

Generasi muda juga menjadi kelompok yang tidak boleh luput dari perhatian.

Masjid perlu menyediakan ruang yang relevan bagi anak muda untuk belajar, berdiskusi, berorganisasi, dan terlibat dalam kegiatan sosial. Dengan pendekatan tersebut, masjid tidak hanya menjadi tempat yang didatangi ketika waktu salat tiba, tetapi juga ruang yang memiliki hubungan kuat dengan kehidupan generasi berikutnya.

Pada akhirnya, keberhasilan DMI Kota Banjar tidak cukup diukur dari banyaknya agenda organisasi.

Masyarakat akan melihat hasil yang lebih konkret: apakah aktivitas masjid semakin hidup, apakah pembinaan keagamaan semakin kuat, apakah imam dan muadzin memperoleh perhatian yang layak, serta apakah masjid mampu memberikan manfaat sosial yang lebih luas.

Pelantikan Selesai, Pekerjaan Baru Dimulai

Wakil Wali Kota Banjar juga menyampaikan tausiyah kepada para peserta kegiatan. Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya memakmurkan masjid demi mewujudkan masyarakat yang agamis.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus DMI yang baru.

Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan struktur organisasi yang lengkap. Mereka membutuhkan program yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

DMI Kota Banjar kini memiliki kepengurusan baru, dukungan pemerintah daerah, serta sinergi dengan Baznas. Tinggal bagaimana seluruh potensi tersebut diterjemahkan menjadi gerakan yang konsisten di masjid-masjid.

Pelantikan DMI Kota Banjar hanya berlangsung satu hari, tetapi tugas memakmurkan masjid berlangsung setiap hari. Karena itu, ukuran keberhasilan 60 pengurus baru bukan terletak pada megahnya seremoni, melainkan pada satu hal yang jauh lebih sederhana: apakah setelah mereka bekerja, warga benar-benar merasakan masjid semakin dekat dengan kehidupan mereka. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less