Muktamar NU 2026: Kiai Ma’ruf Amin Ingatkan NU Jangan Kehilangan Arah
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- visibility 55
- comment 0 komentar
- print Cetak

KH Ma'ruf Amin dalam peluncuran buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Foto: MUI).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. KH Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa organisasi tidak boleh kehilangan arah perjuangan di tengah dinamika regenerasi kepemimpinan. Menurutnya, kekuatan NU tidak hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi juga pada kesetiaan terhadap nilai, metode, dan gerakan yang diwariskan para pendiri.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Ma’ruf saat meluncurkan buku terbarunya berjudul Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin. Buku itu menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana warga Nahdliyin memahami identitas organisasi secara utuh, bukan sekadar menjalankan tradisi keagamaan.
Momentum peluncuran buku berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada Rabu (5/8/2026) malam. Acara tersebut menarik perhatian karena dihadiri sejumlah tokoh NU yang belakangan disebut-sebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35.
Di antara yang hadir ialah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Marsudi Syuhud, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.
Dalam suasana yang hangat, Kiai Ma’ruf menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh tersebut. Ia bahkan sempat menyinggung dinamika menjelang Muktamar dengan nada bersahabat.
“Selain Ketua Umum, juga hadir banyak calon ketua umum. Ada yang sudah diumumkan, ada yang sudah deklarasi, dan ada yang belum deklarasi. Saya ingin menyampaikan terima kasih,” ujarnya.
Muktamar Tak Hanya Memilih Pemimpin
Bagi Kiai Ma’ruf, pergantian kepemimpinan di tubuh NU semestinya tidak hanya dipahami sebagai proses memilih figur baru. Yang lebih penting adalah memastikan arah perjuangan organisasi tetap berpijak pada khittah Nahdlatul Ulama sebagaimana diwariskan para muassis.
Ia mengingatkan bahwa NU merupakan sebuah sistem nilai yang hidup dan terus berkembang. Karena itu, organisasi memerlukan panduan yang jelas agar tidak kehilangan orientasi.
“NU adalah sistem yang hidup. Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan),” tegasnya.
Menurut Kiai Ma’ruf, pemahaman terhadap fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan) harus berjalan beriringan. Ketiganya menjadi fondasi dalam menentukan sikap organisasi menghadapi perubahan zaman.
Gerakan NU Harus Menjaga, Memperbaiki, dan Menguatkan
Dalam bukunya, Kiai Ma’ruf menjelaskan bahwa gerakan Nahdlatul Ulama memiliki tiga fungsi utama, yakni himayah (menjaga), ishlah (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan).
Ketiga fungsi tersebut diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari kehidupan keagamaan (harakah diniyyah), pengabdian kepada bangsa (harakah wathaniyyah), hingga pemberdayaan ekonomi umat (harakah iqtishadiyyah).
Menurutnya, keseimbangan ketiga aspek itu menjadi modal penting agar NU tetap relevan dalam menjawab kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan jati dirinya.
Kemandirian Ekonomi Jadi Bagian Perjuangan
Perhatian Kiai Ma’ruf juga tertuju pada penguatan ekonomi warga Nahdliyin. Ia mengingatkan kembali sejarah berdirinya Nahdlatut Tujjar pada 1918 yang dipelopori KH Abdul Wahab Hasbullah bersama Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari sebagai tonggak kemandirian ekonomi warga NU.
Semangat tersebut, katanya, tetap relevan hingga sekarang. Salah satu contohnya terlihat pada berkembangnya Gerakan Koin NU yang menunjukkan bahwa kontribusi kecil dari masyarakat dapat menjadi kekuatan besar ketika dikelola secara kolektif.
Ia juga memperkenalkan konsep tasyri’iyyah al-iqtishadiyyah, yaitu upaya menghadirkan nilai-nilai fikih muamalah ke dalam regulasi, akad, dan kebijakan ekonomi syariah agar tercipta keadilan yang lebih merata.
Berorganisasi dengan Ilmu dan Keyakinan
Di bagian akhir pemaparannya, Kiai Ma’ruf mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama agar menjalankan organisasi secara ‘alā baṣīrah, yakni berlandaskan pemahaman, keyakinan, dan argumentasi yang kuat.
Menurutnya, kecintaan kepada tanah air atau hubbul wathan tidak cukup menjadi slogan, melainkan harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan kemaslahatan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan penting menjelang Muktamar Ke-35 NU. Di tengah munculnya berbagai nama dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, Kiai Ma’ruf mengingatkan bahwa kesinambungan nilai perjuangan organisasi jauh lebih penting daripada sekadar pergantian kepemimpinan. Regenerasi di tubuh NU, menurutnya, harus tetap berjalan di atas fondasi fikroh, manhaj, dan harakah yang menjadi identitas Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar