Hampir 4 Juta Anak Tidak Sekolah
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar murid-murid sekolah di Indonesia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Berdasarkan materi publikasi yang diunggah melalui akun resmi DPR RI dengan mengutip data Kemendikdasmen per April 2026, jumlah Anak Tidak Sekolah di Indonesia mencapai 3.966.858 anak. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan putus sekolah tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Melalui publikasi tersebut, Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak seluruh elemen bangsa untuk memberikan perhatian lebih terhadap anak-anak yang belum pernah bersekolah, putus sekolah, maupun tidak melanjutkan pendidikan. Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar dan mewujudkan cita-citanya.
Pesan itu disampaikan sebagai bentuk ajakan agar penanganan Anak Tidak Sekolah menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, keluarga, sekolah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Data Kemendikdasmen: Hampir Empat Juta Anak Tidak Sekolah
Dalam materi publikasi DPR RI, data Kemendikdasmen menunjukkan terdapat 3.966.858 Anak Tidak Sekolah di Indonesia hingga April 2026.
Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari tiga kategori utama, yaitu anak yang belum pernah bersekolah, anak yang mengalami putus sekolah (drop out), serta lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Rinciannya sebagai berikut:
- 1.913.633 anak belum pernah bersekolah (BPB).
- 986.755 anak mengalami drop out (DO).
- 1.066.470 anak lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan (LTM).
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Selain memperluas akses pendidikan, berbagai pihak juga perlu memastikan anak-anak tetap bertahan di bangku sekolah hingga menyelesaikan jenjang pendidikannya.
Puan Maharani: Negara Tidak Boleh Kehilangan Satu Generasi
Dalam publikasi yang sama, Puan Maharani menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.
“Negara tidak boleh kehilangan satu generasi hanya karena terlambat menyadari anak-anak mulai meninggalkan sekolah dan anak-anak putus sekolah karena keadaan,” ujar Puan Maharani.
Menurut Ketua DPR RI, pendidikan merupakan hak setiap anak sekaligus fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kepedulian terhadap anak-anak yang berisiko meninggalkan sekolah agar mereka tetap memiliki kesempatan belajar dan berkembang.
DPR RI Dorong Empat Strategi Penanganan ATS
Melalui materi publikasinya, DPR RI juga menyampaikan sejumlah langkah strategis untuk mempercepat penanganan Anak Tidak Sekolah.
Empat strategi yang disoroti meliputi:
- menjadikan penurunan angka ATS sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional;
- menyusun Grand Design Nasional Penuntasan ATS hingga tahun 2045;
- membangun sistem yang mampu mengidentifikasi anak berisiko putus sekolah sejak dini; dan
- mengintegrasikan data pendidikan, perlindungan sosial, serta kependudukan agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang lebih terarah sehingga anak-anak yang berpotensi putus sekolah dapat memperoleh pendampingan lebih awal.
Persoalan ATS Tidak Hanya Berkaitan dengan Biaya
Publikasi DPR RI juga menegaskan bahwa persoalan Anak Tidak Sekolah tidak selalu dipicu oleh keterbatasan biaya pendidikan.
Faktor ekonomi memang menjadi salah satu penyebab. Namun, kondisi keluarga, perpindahan domisili, motivasi belajar, lingkungan sosial, hingga persoalan psikologis juga dapat memengaruhi keputusan seorang anak untuk berhenti sekolah.
Sebagai contoh, materi publikasi tersebut menampilkan temuan di Kelurahan Tegalega, Kota Bogor. Dari 141 anak yang telah didata, hanya 35 anak yang bersedia kembali mengikuti pendidikan. Sementara itu, jumlah Anak Tidak Sekolah di Kota Bogor diperkirakan mencapai sekitar 6.000 anak.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan ATS membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, bukan hanya menyediakan akses pendidikan, tetapi juga membangun kembali motivasi belajar anak melalui dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar.
Pendidikan Menjadi Investasi Jangka Panjang Bangsa
Setiap anak yang kehilangan kesempatan belajar berpotensi menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan kemampuan, keterampilan, dan daya saing di masa depan. Sebaliknya, semakin banyak anak yang mampu menyelesaikan pendidikan, semakin besar pula peluang Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.
Karena itu, penanganan Anak Tidak Sekolah tidak cukup dipandang sebagai program pendidikan semata. Persoalan ini juga berkaitan dengan pembangunan ekonomi, pengurangan kemiskinan, perlindungan sosial, hingga kesiapan Indonesia menghadapi bonus demografi dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Di balik angka hampir empat juta Anak Tidak Sekolah, tersimpan jutaan mimpi yang menunggu kesempatan untuk tumbuh. Menyelamatkan mereka bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan ikhtiar bersama agar Indonesia tidak kehilangan satu generasi yang kelak akan menentukan masa depan bangsa. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar