Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Mengapa Orang Kaya Tetap Gelisah? Al-Hikam Punya Jawabannya

Mengapa Orang Kaya Tetap Gelisah? Al-Hikam Punya Jawabannya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Maqam fana menjadi salah satu ajaran paling mendalam dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari. Dalam perspektif tasawuf, fana kepada Allah bukan berarti menghilang dari kehidupan, melainkan membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya. Di era ketika manusia mengejar pengakuan, harta, dan popularitas, hikmah ini justru terasa semakin relevan.

Lihatlah kehidupan hari ini.

Orang bangun tidur bukan untuk berzikir, melainkan memeriksa notifikasi.

Sebelum menikmati secangkir kopi, kamera ponsel lebih dulu bekerja.

Sebelum membantu tetangga, sebagian orang sibuk memastikan aktivitasnya layak diunggah ke media sosial.

Ironisnya, semakin banyak yang dipamerkan, semakin sering hati mengaku lelah.

Padahal, yang kosong bukan rumahnya.

Yang kosong adalah ruang terdalam di dalam hati.

Di sinilah Ibnu Athaillah mengajak manusia berhenti sejenak, lalu bertanya: siapa sebenarnya yang sedang menguasai hidup kita?

Ketika Dunia Berubah Menjadi Berhala yang Tak Disadari

Ibnu Athaillah mengingatkan melalui ungkapan yang sangat masyhur:

كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ

“Telah ada Allah, dan tiada sesuatu bersama-Nya. Dan sekarang pun Dia tetap sebagaimana adanya.”

Untuk menjelaskan hakikat itu, beliau menghadirkan sebuah perumpamaan sederhana.

Bayangkan seseorang berada sendirian di sebuah gedung.

Lalu gedung itu dipenuhi meja.

Dipenuhi kursi.

Dipenuhi boneka.

Dan dipenuhi patung.

Serta dipenuhi berbagai perabot.

Kemudian seseorang bertanya,

“Siapa yang ada di dalam gedung itu?”

Jawabannya tetap sama.

“Hanya dia seorang.”

Mengapa?

Karena semua benda itu hanyalah isi ruangan. Tidak satu pun layak disebut teman, apalagi pemilik gedung.

Perumpamaan ini menyentuh inti maqam fana. Segala sesuatu selain Allah hanyalah makhluk yang bergantung kepada-Nya. Tidak ada satu pun yang memiliki keberadaan secara mandiri.

Satir Kehidupan Modern: Kita Tidak Lagi Memiliki Dunia, Dunia yang Memiliki Kita

Di zaman sekarang, “boneka” itu berganti rupa.

Namanya bisa rekening.

Bisa jabatan.

Bisa mobil mewah.

Bisa gelar akademik.

Dan bisa pengikut media sosial.

Serta bisa pula citra sebagai orang saleh.

Semuanya tampak indah.

Namun, diam-diam hati mulai diperbudak olehnya.

Hari terasa buruk hanya karena unggahan sepi tanggapan.

Ibadah berubah menjadi panggung pencitraan.

Sedekah dihitung berdasarkan jumlah penonton.

Ceramah dinilai dari jumlah potongan video yang viral.

Bahkan, tidak sedikit yang lebih takut kehilangan reputasi daripada kehilangan keikhlasan.

Di titik itulah dunia berubah menjadi “berhala modern”. Bukan karena manusia menyembah patung, melainkan karena hati memberi ruang tertinggi kepada selain Allah.

Allah SWT berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

“Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

(QS. Al-Jatsiyah: 23)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa berhala tidak selalu berbentuk batu. Terkadang ia hadir sebagai ambisi yang terus dipelihara.

Fana Bukan Keluar dari Dunia, Tetapi Keluar dari Penjara Dunia

Sebagian orang memahami fana secara keliru.

Mereka mengira tasawuf mengajarkan meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau kehidupan sosial.

Padahal, para ulama menjelaskan sebaliknya.

Maqam fana justru melahirkan pribadi yang semakin bertanggung jawab karena seluruh aktivitasnya diarahkan untuk mencari rida Allah.

Ia tetap berdagang.

Tetap bekerja.

Tetap memimpin.

Dan tetap membangun masyarakat.

Namun, ia tidak menggantungkan harga dirinya kepada semua itu.

Inilah makna firman Allah SWT:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.”

(QS. Al-Qashash: 88)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ

“Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil ini tidak mengajak manusia membenci dunia, melainkan menempatkannya sesuai porsinya.

Mengapa Orang yang Memiliki Segalanya Tetap Gelisah?

Pertanyaan ini terus berulang dari generasi ke generasi.

Mengapa rumah semakin besar, tetapi tidur semakin sulit?

Mengapa kendaraan semakin mewah, tetapi senyum semakin mahal?

Dan mengapa jabatan semakin tinggi, tetapi kecemasan ikut meninggi?

Jawabannya sederhana.

Karena hati diciptakan untuk mengenal Allah, bukan untuk menyimpan dunia.

Apa pun yang ditempatkan menggantikan Allah akan menjadi sumber kegelisahan.

Harta bisa hilang.

Popularitas bisa memudar.

Kesehatan bisa berubah.

Jabatan memiliki masa akhir.

Namun, Allah tidak pernah berubah.

Maka, orang yang menjadikan Allah sebagai pusat hidup akan selalu memiliki tempat kembali ketika dunia mulai menjauh.

Pelajaran Besar dari Al-Hikam

Ibnu Athaillah tidak mengajak kita membuang rumah.

Beliau juga tidak meminta kita meninggalkan pekerjaan.

Yang ingin beliau robohkan adalah singgasana kecil di dalam hati yang diam-diam telah diduduki oleh dunia.

Rumah boleh megah.

Usaha boleh berkembang.

Karier boleh cemerlang.

Media sosial boleh dimanfaatkan.

Namun, jangan biarkan semuanya mengambil tempat yang hanya pantas dimiliki Allah.

Sebab, ketika dunia menjadi tujuan, manusia akan terus merasa kurang.

Sebaliknya, ketika Allah menjadi tujuan, dunia berubah menjadi jalan menuju kebahagiaan yang lebih hakiki.

Kita sering sibuk membersihkan rumah, tetapi lupa membersihkan hati. Padahal, yang akan ditanya di hadapan Allah bukan seberapa penuh garasi kita, melainkan siapa yang paling memenuhi hati kita. Jika jawabannya masih dunia, mungkin kita belum kehilangan harta—tetapi sudah mulai kehilangan arah. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • diskon tiket kereta

    KAI Diskon Tiket Kereta 30 Persen, Perjalanan Nataru Lebih Terjangkau

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 195
    • 0Komentar

    KAI berikan diskon tiket kereta hingga 30 persen selama libur Nataru 2025/2026, berlaku untuk rute jarak jauh. albadarpost.com, LENSA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menetapkan potongan diskon tiket kereta hingga 30 persen untuk kereta ekonomi komersial jarak jauh. Kebijakan ini berlaku pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Program ini menyasar penumpang […]

  • Hajar Aswad

    Hajar Aswad Bukan Batu Biasa, Ini Makna Spiritualnya

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 131
    • 0Komentar

    albadarpost. HIKMAH – Bagi sebagian orang, Hajar Aswad mungkin terlihat seperti batu hitam yang menempel di sudut Ka’bah. Namun bagi jutaan umat Islam, batu itu menyimpan makna spiritual yang jauh lebih dalam daripada sekadar benda biasa. Hajar Aswad atau “batu hitam” menjadi salah satu bagian paling terkenal di Masjidil Haram. Banyak jamaah haji dan umrah […]

  • suasana masjid dengan nuansa renungan spiritual Islami.

    Amal Shalih di Tengah Dunia yang Ramai: Masihkah Ikhlas Jadi Pegangan?

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Amal shalih atau amal saleh dalam Islam sering dibicarakan dengan semangat yang tinggi, tetapi tidak selalu dipahami dengan tenang. Makna amal shalih dalam Al-Qur’an sebenarnya sederhana, namun dalam praktik sehari-hari, ia sering berbenturan dengan kebiasaan baru: kebaikan yang ingin terlihat. Di sinilah istilah amal shalih atau amal saleh dalam Islam perlahan berubah […]

  • https://albadarpost.com/category/berita-daerah/

    Nyaris Jadi Tragedi, Sekolah Tasikmalaya Berpacu dengan Waktu

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 25
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Sekolah rusak Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah kondisi bangunan di sejumlah sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Misalnya di SMPN 1 Bantarkalong dan SDN 2 Bojonggambir. Informasi yang telah dipublikasikan berbagai media menunjukkan adanya ruang kelas dengan atap lapuk, bagian bangunan yang ambruk, hingga konstruksi yang dinilai tidak lagi layak digunakan. Beruntung, […]

  • PPPK Kota Tasikmalaya

    Wali Kota Tasikmalaya Membiarkan Rotasi Pejabat Memicu Krisis Kepercayaan Publik

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost menilai rotasi pejabat yang tak transparan di Tasikmalaya menggerus kepercayaan publik. albadarpost.com, EDITORIAL – Rotasi pejabat di Pemerintah Kota Tasikmalaya kembali menyeret tanya. Yang dipersoalkan bukan sekadar pergeseran jabatan, tetapi pola keputusan yang dianggap tak transparan. Publik menilai rotasi pejabat kali ini lebih banyak menyisakan keraguan daripada harapan. Bagi kota yang membutuhkan birokrasi […]

  • Siluet wanita bersujud menangis di ruang gelap dengan botol minuman keras sebagai simbol kesombongan dalam ibadah dan penyesalan dosa.

    Sombong dalam Ibadah: Dosa yang Terlihat Suci

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 184
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Sombong dalam ibadah sering hadir dengan wajah paling sopan. Ia menyamar sebagai kesalehan, bersembunyi dalam kesombongan spiritual, dan tumbuh pelan sebagai ujub dalam amal. Banyak orang takut pada dosa terang-terangan, tetapi sedikit yang waspada pada ilusi kesalehan yang diam-diam menggerogoti hati. Padahal penyakit hati religius justru lebih sulit terdeteksi karena ia memakai […]

expand_less